Suarabanyuurip.com – Sami’an Sasongko
Bojonegoro – Jelang selesainya pengerjaan proyek fasilitas Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang bersentra di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dampaknya cukup dirasakan oleh warga masyarakat sekitar.
Diantaranya tak hanya menambah pengangguran warga desa sekitar karena adanya pengurangan tenaga kerja (Naker), juga pembuka usaha warung makanan dan minuman (Mamin) ringan sekitar proyek Gas Processing Facility (GPF) JTB turut Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kebupaten Bojonegoro, yang semula ramai buka sekarang banyak yang tutup.
“Dampaknya cukup kami rasakan. Bayangkan, dulu hasil yang saya dapat setelah dipotong modal bisa mencapai Rp. 500.000 per hari. Sekarang dapat Rp. 100.000 saja sudah beruntung. Itupun belum kepotong modal,” kata Kasiyem, kepada SuaraBanyuurip.com.

Warung dekat jalur masuk gate 1 JTB yang hingga kini masih bertahan buka.
© 2023 suarabanyuurip.com/Sami’an Sasongko
Warga Desa Bandungrejo ini mengaku, tak terlalu gusar dengan menurunnya omzet dari jualan mamin. Karena memang kondisi pekerjaan proyek sudah hampir selesai, dan banyaknya tenaga kerja yang sudah dikurangi.
“Kalau tidak salah, disini tinggal tiga warung Mamin yang masih buka, dan kadang juga tidak buka. Sedangkan yang lainnya sudah tutup semua,” kata Kasiyem yang membuka warung Mamin tak jauh dari jalan menuju gate 2 proyek GPF JTB.
“Kalau jualan sepi, ya aktivitas seperti biasa bertani, Pak,” ucapnya.
Pantauan di sekitar lokasi proyek Gas JTB menyebutkan, tinggal dua warung Mamin di dekat gate 1 JTB yang hingga kini masih bertahan buka untuk mengais rezeki. Sedangkan warung dekat gate 2 dan di jalan menuju lokasi sumur Jambaran East JTB tepatnya di petak 28 semuanya telah tutup. Bahkan terdapat warung yang kondisinya rusak karena sudah lama tidak ditempati jualan.(sam)




