Proyek Bendungan Karangnongko Rp 1,5 Triliun Akan Dimulai dari Bojonegoro

Data tehnis dan manfaat pembangunan bendungan Karangnongko.

Suarabanyuurip.com – d suko nugroho

Blora – Proyek pembangunan bendungan Karangnongko akan dimulai dari wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Selain tidak banyak permukiman, lahan untuk pembangunan bendungan telah siap.

Bendungan Karangnongko rencananya dibangun di perbatasan Kabupaten Blora, Jaea Tengah dengan Kabupaten Bojonegoro. Tepatnya di selatan Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan, yang berbatasan dengan Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo.

Bendung Karangnongko telah ditetap sebagai proyek strategis nasional (PSN). Diprediksi dapat menampung sebanyak 59,1 juta meter kubik air, dengan luasan genangan 1026,5 Ha.

Sementara untuk wilayah Kabupaten Blora, terdapat permukiman di dua desa terdampak genangan bendungan Karangnongko. Yakni Desa Ngrawoh dan Desa Nginggil, Kecamatan Kradenan. Permukiman di dua desa ini sedang diusulkan tidak dipindahkan jauh dari lokasi bendungan.

Pemkab Blora mengusulkan agar dua desa tersebut direlokasi di wilayah hutan Perhutani atau ke wilayah KHDTK UGM.

“Kita ingin Desa Ngrawoh dan Desa Nginggil tetap ada. Dua desa ini mayoritas akan tergenang. Kami inginnya bukan dipindahkan jauh tetapi direlokasi atau pemukimannya digeser ke wilayah yang tidak tergenang dekat Bendungan Karangnongko,” kata Bupati Blora,
Arief Rohman saat rapat koordinasi dengan BBWS Bengawan Solo pada Jumat (28/4/2023) lalu.

Terkait mekanismenya seperti apa, Bupati yang akrab disapa Mas Arief ini mengaku akan berkonsultasi terlebih dahulu ke Kementerian LHK, Kementerian PUPR, dan Kementerian Dalam Negeri.

“Karena ini PSN yang didanai langsung oleh APBN Pusat, maka kami perlu konsultasi juga dengan kementerian. Akan dibentuk tim bersama BBWS Bengawan Solo dan UGM untuk mendampingi proses ini. Apakah nanti digeser ke wilayah hutan Perhutani atau ke wilayah KHDTK UGM. Perlu meminta petunjuk Kementerian,” ujarnya.

Hasilnya nanti seperti apa, akan disosialisasikan ke masyarakat. Pihaknya meminta masyarakat di bawah tidak gusar. Karena Pemkab sedang mengupayakan yang terbaik.

“Masih ada waktu, karena pengisian bendungan baru akan dilaksanakan tahun 2027,” ucapnya.

Menurut Mas Arief, pembangunan bendungan Karangnongko akan dimulai dari wilayah Bojonegoro terlebih dahulu karena di sisi timur Bengawan Solo tidak banyak pemukiman.

“Mayoritas di sana hutan dan lahan kosong, lahannya sudah siap,” tegasnya.

Sedangkan wilayah Blora, lanjut Mas Arief, sisi barat Bengawan Solo menunggu kepastian relokasi pemukiman warga Desa Ngrawoh dan Desa Nginggil yang akan diupayakan konsultasi bersama ke kementerian.

“Kedepan Bendungan Karangnongko ini akan bermanfaat untuk mencegah kekeringan wilayah Blora Selatan, irigasi pertanian, pemenuhan kebutuhan air bersih, dan pariwisata. Selain gerbang dari Bojonegoro, juga akan dibangun gerbang bendungan dari sisi Kabupaten Blora,” kata Bupati.

Sementara itu, Kepala BBWS Bengawan Solo, Maryadi Utama, menyampaikan bahwa anggaran pembangunan konstruksi Bendungan Karangnongko sebesar Rp1,5 triliun.

“Anggaran itu langsung dari APBN Pusat dengan sistem tahun jamak. Lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan konstruksi bendungan seluas 246,18 ha. Pengadaan lahan akan mulai dilaksanakan tahun 2023 ini. Berdasarkan hasil rakor 3 Januari 2023 kemarin untuk pengadaan lahan wilayah Kabupaten Blora akan dilaksanakan oleh BBWS Bengawan Solo. Kami siap membantu,” ungkapnya.

Sedangkan pembangunan fisik secara bertahap akan dilakukan hingga 2026, dan akan mulai digenangi pada 2027.

“Jadi ini bukan lagi Bendung Gerak seperti yang banyak diberitakan dahulu. Namun diubah menjadi Bendungan. Yang tadinya ada saluran pengelak, diubah menjadi saluran pelimpas,” jelasnya.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *