Banyak Kasus Kabakaran Kilang, DPRD Bojonegoro Ingatkan TWU Patuhi Amdal

Lasuri.
Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri.

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Kalangan DPRD Bojonegoro, Jawa Timur mengingatkan PT Tri Wahana Universal (TWU), pengelola kilang mini di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu mematuhi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dalam operasinya. Peringatan ini menyusul banyaknya kasus kebakaran kilang milik Pertamina yang terjadi di sejumlah daerah baru-baru ini.

“Saya kira penting kiranya semua perusahaan apapun apalagi perusahaan yang bergerak di bidang migas, tentu harus memperhatikan Amdal dalam operasinya,” kata Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (28/10/2023).

Menurut dia, kegiatan pengolahan minyak bumi memiliki risiko tinggi. Potensi risiko itu mulai dari kebakaran hingga pencemaran lingkungan. Apalagi kegiatan tersebut dilakukan di dekat permukiman.

“Keselamatan karyawan, pekerja dan masyarakat sekitar harus menjadi perhatian utama pengelola kilang,” tandas politikus Partai Amanat Nasional ini.

Oleh karena itu, komisi dewan yang membidangi masalah migas meminta kepada PT TWU untuk mematuhi Amdal dan menerapkan standar operasional prosedur (SOP).

Kilang mini TWU.
Truk tanki berkapasitas 24 ribu liter bertuliskan PT Laban Raya Samodra keluar dari Kilang Mini TWU, Selasa (24/10/2023).

Kilang mini TWU dikabarkan telah beroperasi setelah mati suri sejak 31 Januari 2018. Produksi dari kilang ini di antaranya untuk memenuhi kebutuhan industri memenuhi kebutuhan PT Laban Raya Samudra. Perusahaan ini adalah bagian dari PT Betjik Djojo, yang bergerak khususnya pada bidang penjualan Petrochemical tepatnya Asam Sulfat / H2SO4 dan Sulfur.

Baca Juga :   Pemerintah Pusat Soroti PI Blok Cepu

Selain itu, juga untuk kebutuhan industri PT Wilmar Nabati Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit.

“Info dari dalam (TWU) sudah dua mingguan produksi, tapi belum maksimal,” kata Slamet warga Dusun Clangap, Desa Sumengko kepada suarabanyuurip.com. Slamet mengaku pernah bekerja di Kilang TWU sebelum berhenti operasi akhir Januari 2018.

Kilang TWU telah memperoleh pasokan minyak mentah 15.000 barel per hari (Bph) bagian negara dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Jumlah alokasi minyak ini meningkat dari sebelum kilang TWU berhenti yakni sebesar 6.000 bph.

“Pasokan MMBUBN kepada TWU up to 15.000 barrel/day,” kata Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi D. Suryodipuro dikonfrontir secara terpisah..

Hudi menjelaskan skema komersialisasi Minyak Mentah Bnyu Urip bagian Negara (MMBUBN) di wilayah kerja (WK) Cepu dengan kilang PT TWU saat ini adalah election in kind. Dengan penerapan skema ini, maka penjual MMBUBN adalah PT Pertamina (Persero).

“Pasokan MMBUBN di WK Cepu kepada PT TWU dilakukan melalui B to B atau business-to-business oleh TWU kepada PT Pertamina (Persero) selaku penjual yang ditunjuk oleh SKK Migas,” tegasnya.

Baca Juga :   Tingkat Hunian Hotel dari Naker Migas Menurun

Sebagai informasi, Kilang TWU sebelum berhenti operasi telah memproduksi empat jenis bahan bakar untuk kebutuhan industri. Yakni High Speed Diesel (HSD) atau gas oil adalah fraksi yang lebih berat dari kerosene, Straight Run Gasoline (SRG) atau naphtha adalah nama umum yang digunakan dalam industri pengilangan minyak bumi untuk hasil cair paling atas dari at – mospheric distillation units (ADU).

Kemudian VTB/LSWR oil untuk burner pada furnace dan pembangkit listrik, mesin uap dan lain-lain. Serta memproduksi Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO).(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *