SuaraBanyuurip.com – Satu lagi kilang mini resmi beroperasi di wilayah Provinsi Jawa Timur. Selain kilang minyak mini PT Tri Wahana Universal (TWU), di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, kini telah beroperasi Kilang mini Liquefied Natural Gas (LNG).
Kilang mini LNG itu berada di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER). Kilang Mini LNG dibangun PT. Liquid Nusantara Gas di lahan seluas satu hektar dengan nilai investasi sekitar Rp247 miliar.
Berbeda dengan kilang mini TWU yang memanfaatkan minyak dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Kilang Mini LNG dibangun PT. Liquid memanfaatkan pasokan gas dari Wilayah Kerja Minyak dan Gas Madura Strait yang dikelola oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML).
Gas tersebut kemudian diolah menjadi LNG agar lebih praktis dan efisien untuk didistribusikan ke pembangkit listrik, kawasan industri, serta berbagai pusat pertumbuhan ekonomi lainnya.
Kilang mini PT. Liquid Nusantara Gas memiliki kapasitas produksi sekitar 20 ton LNG per hari, atau hampir 7.000 ton per tahun, dan menjadi pertama di Pulau Jawa.
Direktur Utama PT. Liquid Nusantara Gas, Wira Rahardja menyampaikan, kilang mini LNG dioperasikan unit-unit modular cryobox. Saat ini ada tiga mesin cryobox dari Galileo Technologies dan akan ditambah menjadi lima.
“Teknologi ini kami pilih karena paling tepat untuk mini LNG. Selain mudah dipindahkan, proses instalasi dan pengoperasiannya juga relatif cepat. Ke depan akan ada lima cryobox, dengan kapasitas produksi sekitar 2.500 ton LNG per bulan,” ujar Wira saat peresmian, Rabu (11/2/2026).
Cryobox merupakan pemanfaatan teknologi Nano LNG Liquefaction, yakni kombinasi unik prinsip Joule-Thomson dengan loop refrigerant (propana) tertutup yang memungkinkan unit mulai memproduksi LNG dalam waktu sekitar lima menit dan mencapai kapasitas penuh dalam 10 menit.
Karakter modular dan cepat operasional itulah yang membuat instalasi cocok untuk lokasi industri atau pelabuhan kecil tanpa memerlukan infrastruktur tetap yang besar.
“Melalui Galileo Technologies, Argentina menyediakan solusi modular dan efisien yang mendukung transisi energi. Proyek ini bukan sekadar menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia, memperluas pilihan bahan bakar bersih, dan mengembangkan infrastruktur modern di wilayah kepulauan,” jelas Duta Besar Argentina untuk Indonesia, Gustavo Ricardo Coppa.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot mengatakan, pembangunan kilang mini LNG PT. Liquid Nusantara Gas ini merupakan terobosan untuk menghadirkan agar gas bumi bisa menjangkau lebih banyak kawasan industri dan pembangkit listrik. Sehingga distribusi gas bumi di Indonesia tidak lagi semata bergantung pada jaringan pipa.
“Peresmian kilang mini LNG PT. Liquid Nusantara Gas ini merupakan kilang LNG pertama di Pulau Jawa. Ini merupakan momentum bagaimana kita bisa memanfaatkan gas produksi dalam negeri, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan industri, pembangkit listrik, dan juga berbagai kegiatan ekonomi lain. Ke depan tidak tertutup kemungkinan pemanfaatan LNG melalui kilang mini ini didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar Yuliot saat meresmikan Kilang Mini LNG.
Ia berharap kehadiran fasilitas ini dapat menjadi role model bagi para pelaku usaha di berbagai daerah dalam mengembangkan teknologi pemanfaatan potensi gas, khususnya di wilayah-wilayah penghasil gas bumi di Indonesia.
Dari sisi industri dalam negeri, proyek ini menonjol berkat tingkat kandungan komponen lokal yang tinggi.
“Dari pengembangan teknologi, mini LNG ini menggunakan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN yang cukup tinggi, sekitar 86% dari informasi yang kami terima,” jelasnya.
Yoliut menambahkan, capaian tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) jauh di atas standar yang ditetapkan pemerintah sekitar 30-40%.
“Tentu ini merupakan bagian dari kolaborasi teknologi. Tadi Mr Ambassador juga menyampaikan bahwa ini merupakan kolaborasi teknologi antara Indonesia dengan Galileo, perusahaan teknologi dari Argentina,” pungkasnya.(red)





