Regional Indonesia Timur Raih 4 PROPER Emas dan 1 PROPER Hijau

GM Zona 13, Benney Sidik (kiri) dan GM Zona 11 Muzwir Wiratama (kanan) saat menerima penghargaan.

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Komitmen Regional Indonesia Timur terhadap pengelolaan kinerja lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui program eco inovasi dan inovasi sosial mendapatkan penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).

Capaian ini sukses ditengah upaya menjaga dan meningkatkan produksi melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi.

Penghargaan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) yang tertinggi yakni PROPER Emas diraih oleh PHE WMO dan PEP Sukowati Field yang merupakan bagian dari Zona 11 dan EP Donggi Matindok Field dan JOB Tomori yang merupakan bagian dari Zona 13 Regional Indonesia Timur.

Sementara Zona 14 melalui PEP Papua Field meraih predikat PROPER Hijau dan EP Cepu Field dari Zona 11 meraih PROPER Biru.

Penghargaan tersebut disampaikan oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin kepada Direktur Pengembangan dan Produksi Awang Lazuardi yang mewakili peraih PROPER Emas di lingkup Subholding Upstream Pertamina dan  Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong kepada perwakilan peraih PROPER Hijau di Jakarta pada Rabu (20/12).

Direktur Regional Indonesia Timur, Endro Hartanto mengatakan, pencapaian ini merupakan anugerah atas berbagai upaya yang telah dilakukan, dimana dalam menjalankan peran sebagai pendukung ketersediaan energi nasional, pihaknya berusaha mengatasi dampak dan meningkatkan kualitas lingkungan. Selain itu memberikan manfaat pula kepada pemangku kepentingan termasuk masyarakat lokal di sekitar operasi melalui program pemberdayaan masyarakat.

“Penghargaan ini tentu menjadi penyemangat kepada kami untuk terus berupaya memberikan kinerja yang terbaik,” kata Direktur Regional Indonesia Timur Endro Hartanto dalam keterangan tertulis kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (21/12/2023).

Dia menambahkan, berbagai inovasi dilakukan oleh perwira di lingkup Regional Indonesia Timur untuk mendukung program Environmental, Social & Governance (ESG) yang menjadi komitmen seluruh unit usaha di Pertamina dan mendukung pemerintah dalam pencapaian agenda internasional Sustainable Development Goals (SDGs) yang akan berakhir pada tahun 2030.

Baca Juga :   Dugaan Pungli Pasar Cepu : Kejaksaan Sita Uang Rp 865 Juta dari Kas Daerah Blora

PEP Sukowati Field berhasil meraih predikat Emas melalui program inovasi sosial Prabu Kresna (Petani Rahayu Bersatu, Kreatif, Sehat, dan Sejahtera) yang menyasar kaum rentan petani di Desa Rahayu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Program ini menjawab permasalahan gagal panen melalui solusi penerapan pertanian organik yang di dalamnya mencakup penerapan sistem swasembada pupuk melalui pengelolaan sistem Rumah Kompos (Rumpos) berbasis kelompok dengan sistem pola transaksi barter komoditas bahan limbah organik (kotoran ternak, hijauan, hama keong, dll) dengan produk pupuk kompos siap pakai.

“Dampak dari program ini adalah menekan gagal panen dan meningkatkan hasil panen secara signifikan hingga 2 kali lipat, dari semula paling banyak hasil panen adalah 4 Ton/Ha/musim tanam, kini menjadi 7-9 Ton/Ha/musim tanam pada tahun 2023” ujar Field Manager PEP Sukowati, Totok Parafianto.

Sedangkan PHE WMO mempertahankan PROPER Emas yang telah diraih tahun sebelumnya melalui program Salt Centre Terintegrasi yang bertujuan mengembalikan kejayaan garam rakyat di Desa Banyusangka, Kab. Bangkalan, Madura.

Inovasi yang diangkat tahun ini adalah “SIRAM BERBAKAT” (Kristalisasi Garam Berbahan Bakar Briket Rakyat) dan Teknologi Ulir Filter (TUF), yang keduanya bertujuan untuk mempercepat evaporasi garam sehingga produksi garam meningkat.

Tak hanya itu, PHE WMO juga mempersiapkan petani garam untuk mampu tanggap cuaca melalui pemantauan awan dengan teropong binocular serta mengukur kecepatan dan arah angin.

Termasuk juga melakukan pengembangan HUB jaringan kerjasama petani garam rakyat, sehingga desa di sekitar lokasi program bekerjasama dengan Bumdes dalam distribusi garam, sehingga stabilitas harga garam akan terjaga.

“Sebagai perluasan edukasi, kami juga membuat buku edukasi yang dapat digunakan sebagai media belajar untuk anak-anak SD hingga di perguruan tinggi” beber Field Manager PHE WMO Markus Pramudito.

Dari Zona 13, PEP DMF mengusung Program Kokolomboi Lestari di Desa Leme-Leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Program ini mengatasi masalah degradasi hutan yang menyebabkan lahan kritis dan mengancam satwa endemik Pulau Peleng yakni Tarsius dan Gagak Banggai.

Baca Juga :   Taman Seribu Lampu Tak Terawat

Solusi dari permasalahan itu adalah Pemberdayaan masyarakat adat Togong Tanga melalui pengembangan Desa Konservasi Berbasis Apikultur. Hasilnya, terjadi restorasi lahan sebesar 4 Ha dan peningkatan satwa endemik Tarsius Peleng dari sebelumnya 17 ekor menjadi 46 ekor dan Gagak Banggai dari 1 ekor menjadi 8 ekor.

Program itu juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat lokal melalui budidaya madu dan wisata minat khusus. Bahkan tidak hanya menghasilkan perbaikan ekonomi yang menjadikan masyarakat lebih mandiri dan berdaya.

“Namun yang terpenting adalah  transformasi perilaku kelompok binaan menjadi pejuang lingkungan,” terang Field Manager PEP DMF Ridwan Kiay Demak.

Sedangkan Business Support Senior Manager JOB Tomori Agus Sudaryanto menyatakan, pihaknya juga meraih predikat PROPER Emas dengan mengangkat program Asih Loinang (Pengelolaan Air Bersih Berkelanjutan Berbasis Komunitas Adat Loinang) yakni solusi terhadap permasalahan keterbatasan akses air bersih Komunitas Adat Terpencil (KAT) Loinang di Dusun Tombiobong, Desa Maleo Jaya, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Selain membuka akses terhadap air bersih, program ini juga mengatasi kemiskinan dan kelaparan melalui Kebun Pangan Sahabat Alam (Kupas Alam) sehingga terjadi peningkatan pendapatan sekitar Rp 3.150.000 – Rp 4.484.900.

Program inovasi sosial Asih Loinang ini dilakukan melalui proses dan tahapan yang terencana agar benar-benar efektif menyelesaikan permasalahan sosial keterbatasan akses air bersih KAT Loinang.

Dia menginginkan program ini menjawab permasalahan, memberikan dampak berupa keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat rentan. Melalui program ini pihaknya mendapatkan banyak pelajaran menghadapi dinamika yang terjadi di masyarakat.

“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kami untuk melakukan perbaikan berkelanjutan,” ujar Business Support Senior Manager JOB Tomori Agus Sudaryanto.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *