SuaraBanyuurip.com – Teguh Haryono atau yang biasa disapa Mas Teguh membantu warga Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, seperangkat peralatan pembuatan pupuk organik.
Sebagai Staff Ahli Kementrian Pertahanan Republik Indonesia yang berasal dari Desa Kepohbaru, Bojonegoro, Mas Teguh merasa prihatin dengan kondisi yang dialami para petani kawasan hutan. Ia memberikan semangat kepada para petani sekitar agar lebih mandiri dalam pembuatan pupuk.
“Semoga dengan bantuan peralatan dan pelatihan pembuatan pupuk ini dapat meringankan beban petani, harapannya petani lebih mandiri dan bisa membuat pupuk organik sendiri,” ujarnya.
“Bismillah saya tulus memberikan alat produksi, agar mempermudah dalam proses pembuatan pupuk,” pungkas Mas Teguh.
Minimnya ketersediaan pupuk subsidi menjadi isu bersama dalam pertanian, khusunya di Kabupaten Bojonegoro, sehingga petani harus memilih membeli pupuk non subsidi meskipun harganya lebih mahal.
Hal itu sering dirasakan oleh petani sekitar kawasan hutan yang lahan pertaniannya tidak masuk dalam RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani) diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No.82/Permentan/OT.140/8/2013.
Masyarakat Bojonegoro, khusunya di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, terkenal dengan ajaran Samin yang sekarang dilanjutkan oleh generasi ke-4 Bambang Sutrisno. Ia menuturkan hal tersebut sangat berdampak di masyarakat sekitar sini.
“Masyarakat sekitar Ajaran Samin ini kesulitan memperoleh pupuk, sehingga harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli pupuk non subsidi,” ujarnya.
Pupuk subsidi dijual seharga Rp 140.000 – Rp 150.000 per sak, sedangkan pupuk non subsidi dijual seharga Rp 300.000 – Rp 400.000 dari kios.
“Hal ini yang menjadi kendala masyarakat ajaran Samin khusunya terkendala dalam bertani,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, lembaga pemberdaya masyarakat Lestari Muda Indonesia (LMI) turun langsung mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik plus di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.
Fandi Ilham, koordinator bidang pertanian LMI menuturkan, bahan baku berupa kotoran hewan dan lainya masih banyak tersedia. Sehingga tidak kesulitan dalam memenuhi bahannya.
“Kita bisa memanfaatkan bahan baku alam yang tersedia itu menjadi solusi alternatif dari kelangkaan pupuk,” tuturnya.(red/adv)





