Harga Beras di Bojonegoro Mahal, Suplai Beras Medium SPHP Bulog Berkurang

MAHAL : Anita pedagang beras eceran curah maupun kemasan di Pasar Bojonegoro Kota.
MAHAL : Anita pedagang beras eceran curah maupun kemasan di Pasar Bojonegoro Kota.

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Harga beras di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur semakin mahal. Ini berlaku baik pada beras curah polesan maupun beras kemasan. Bersamaan dengan meroketnya harga, konon suplai beras medium program Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) dari Badan Urusan Logistik (Bulog) justru berkurang separuh.

Para warga mengeluhkan harga beras yang naik semakin tinggi. Sudahpun begitu, beras berkualitas medium kemasan 3 kilogram (kg) dan 5 kg di sejumlah mini market juga langka.

“Tadi keliling ke beberapa swalayan pada kosong yang kemasan 5 kg, harganya juga naik semua, dapat yang 3 kg tapi harganya selangit, ini berat untuk kami yang berpenghasilan pas-pasan,” ujar Muslikah, salah satu ibu rumah tangga asal Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander.

Kondisi ini juga terjadi di pertokoan Pasar Bojonegoro Kota. Anita, penjual beras eceran curah maupun kemasan menyebut kenaikan harga beras berlaku pada semua jenis beras. Rata-rata kenaikannya mencapai Rp3.000.

“Beras eceran Rp15.500 per kg, tetapi jika pembelian per sak 25 kg harganya di Rp14.500, naik Rp3.000 dari harga sebelumnya,” beber perempuan asal Desa Sukorejo ini kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (11/02/2024).

Pedagang beras kemasan, Muhtar.
Pedagang beras kemasan, Muhtar.

Meski harganya tinggi, tetapi beras medium dia katakan masih dalam ketersediaan aman. Berbeda dengan kemasan beras medium SPHP dari Bulog yang menurutnya mengalami kelangkaan.

Beras SPHP dijual seharga Rp54.500 tiap kemasan 5 kg. Rentangnya sangat lebar jika dibanding berkualitas setara beras medium, merek Rojo Lele misalnya yang mencapai Rp77.500 untuk pembelian dalam kemasan yang sama. Sebelum kenaikan, harga beras Rojo Lele sekira Rp12.000an.

Baca Juga :   Aksi Aliansi Masyarakat Direspon, Sepakati akan Lakukan Penyemprotan

“Naiknya banyak sekira Rp3.000 lebih sejak bulan Desember 2023, karena sudah tidak ada panenan waktu itu, kalau sekarang sudah ada panenan tapi masih sedikit,” bebernya.

Sementara itu, beras SPHP Bulog yang berguna menjadi penstabil harga pasar justru langka sebab suplai yang disebutnya dikurangi. Sebelumnya, biasanya ia mendapat kiriman beras medium SPHP Bulog dua kali dalam seminggu. Setiap kiriman mendapat jatah 1 ton.

Mulai akhir Januari, Anita mengaku, mendapat kiriman beras SPHP hanya separuh dari kiriman sebelumnya, atau 5 kuintal saja. Jika dihitung per kg, beras SPHP tentu saja lebih murah, yakni Rp10.900.

Pimca Bulog Bojonegoro, Ferdian Dharma.
Pimca Bulog Bojonegoro, Ferdian Dharma.

Akibat ketidakseimbangan supply (penawaran ketersediaan) and demand (permintaan) ini, beras SPHP yang lebih murah otomatis menjadi pilihan tunggal masyarakat saat membeli beras.

“Barang datang sebelum selesai dibongkar aja orang sudah mengantri,” terangnya.

Senada dengan Anita, pedagang beras lainnya, Muhtar pun membenarkan hanya mendapat 100 pak kemasan 5 kg atau cuma 5 kuintal beras SPHP dalam beberapa kiriman terakhir. Ia menyayangkan pada saat beras mahal tetapi suplai SPHP justru dikurangi.

Pria asal Desa Sembung, Kecamatan Kapas ini mencoba membijak dengan maksud pemerataan dengan cara membatasi kuota pembelian hanya satu pak saja untuk tiap pembeli. Namun tidak begitu berhasil.

“Kan saya tidak punya alat untuk menandai pembeli, jadi ya mungkin ada yang beli lagi bisa saja dapat lagi,” ungkapnya.

Baca Juga :   BI Sosialisasi Pengenalan Uang Palsu

Dikonfirmasi terpisah, Pimpinan Cabang (Pimca) Bulog Bojonegoro, Ferdian Dharma membenarkan kondisi harga beras akhir-akhir ini mengalami kenaikan, sehingga beras subsidi BULOG (SPHP) banyak diminati oleh masyarakat maupun pedagang.

“Banyak juga pedagang-pedagang baru yang mendaftar menjadi mitra penyalur beras SPHP. Hal ini terjadi karena tidak hanya harganya yang lebih murah jika dibandingkan dengan beras pasaran, namun juga kualitasnya sangat baik,” katanya melalui pesan Whatsapp.

Selain minat dari para pedagang, Pemkab Bojonegoro sendiri melalui Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian juga mengajukan permintaan Pasar Murah/ OP kepada Bulog di beberapa titik lokasi dalam upaya meredam kenaikan harga dan mencukupi kebutuhan sebagian masyarakat.

“Sehingga kebutuhan beras SPHP menjadi meningkat signifikan jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” jelasnya.

Menurut Ferdian, stok berasnya sendiri sangat cukup, sekitar 3.000 ton di gudang, namun di 3 minggu terakhir pihaknya mengalami kesulitan dengan stok kemasan SPHP 5kg-an, karena pengiriman dari pabrik kemasan sedikit terkendala.

Akan tetapi terhadap permintaan pedagang tetap Bulog layani dengan 2 jenis kemasan, yaitu kemasan 5kg-an dan kemasan 50 kg-an. Kendati, kemasan SPHP 5kg-an tetap menjadi prioritas, agar beras SPHP tetap ada identitasnya.

“Alhasil terjadi sedikit pengurangan pasokan kepada pedagang/retailer mitra, agar masing-masing pedagang/retailer mitra mendapat jatah kemasan SPHP 5kg-an merata,” tandasnya.(fin)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *