Produksi Padi Bojonegoro Surplus, Harga Beras Masih Tinggi

Para petani di Desa Sumberagung, Kecamatan Dander sedang panen padi menggunakan combine harvester.
FOTO ILUSTRASI: Para petani di Desa Sumberagung, Kecamatan Dander sedang panen padi menggunakan combine harvester.

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Kenaikan harga beras yang sangat tinggi hampir merata terjadi di setiap kota. Tak terkecuali di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Padahal kabupaten penghasil minyak dan gas bumi (Migas) ini tercatat masih surplus produksi padi meskipun pada masa panen dengan luasan tanam yang paling tipis.

Para pedagang beras di tingkat ritel menyatakan kenaikan harga beras sebab berkurangnya pasokan panenan padi. Hal itu mempengaruhi naiknya harga gabah kering sawah sebelum diproses menjadi beras. Sehingga harga bahan makanan pokok ini naik sampai tembus Rp16.000 per kilogram (Kg) untuk kualitas setara medium.

“Naiknya tinggi sekira Rp3.000 lebih sejak bulan Desember 2023, karena sudah tidak ada panenan waktu itu, kalau sekarang sudah ada panenan tapi masih sedikit,” ungkap Anita, salah satu pedagang beras eceran di Pasar Bojonegoro Kota.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro melalui Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan, Mochammad Rudianto mengatakan, jika melihat data produksi padi di Bojonegoro sebetulnya masih aman jika dilihat dari sisi ketahanan pangan.

Baca Juga :   Bulog Bojonegoro Pastikan Stok Beras Aman Selama Ramadan

“Bahkan untuk masa panen padi bulan Februari ini yang berasal dari masa tanam Nopember 2023 dengan luasan 10.000 hektar, itu masih bisa surplus beras,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (22/02/2024).

Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKPP Bojonegoro, Moch. Rudianto.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKPP Bojonegoro, Moch. Rudianto.

Tetapi Rudi membenarkan jika pada bulan Desember dan Januari jumlah panenan memang sangat kecil. Panen ini berasal dari musim tanam Oktober. Panen padi itu dari daerah tepian Bengawan Solo. Mulai Ngraho, Padangan, Malo, Kalitidu, dan Kasiman.

“Panen Februari tahun lalu sebetulnya cukup besar, tetapi untuk Februari tahun 2024 sepertinya masa tanam Desembernya mundur,” ujarnya.

Ketersediaan bersih beras sendiri pada bulan Februari sebetulnya masih ada 37.000 ton. Setelah dikurangi kebutuhan beras Bojonegoro sekira 9.400 ton, masih ada surplus sekira 28.000 ton mengacu data.

“Tetapi beras ini kan tidak ada KTPnya, dia ini komoditas bebas yang bisa dibawa ke mana saja mengikuti kebutuhan pasar,” terang Rudi.

Diperkirakan panen raya bakal mulai terjadi pada bulan Maret 2024. Tercatat luasan panen mencapai 22.000 hektar lebih. Diperkirakan produksi padi akan mencapai sekira 83.000 ton lebih. Sehingga akan surplus lebih banyak lagi, begitu pula harga juga akan kembali turun.

Baca Juga :   DKPP Bojonegoro Prediksi Kenaikan Harga Beras Segera Terkoreksi

“Namun kembali itu tadi, beras Bojonegoro ini tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat saja, tetapi yang saya dengar bisa sampai ke Banyuwangi, Kudus, dan sebagainya,” terangnya.

Terpisah, salah satu petani di Desa Sumberagung, Odi Wijaya mengaku, harga gabah kering sawah mulai menurun pasca pemilu. Sebelum pemilu harga gabah ada di Rp8.200-Rp8.300 per kg.

“Sekarang harga gabah Rp7.200 per kg, bulan depan harga beras mungkin akan ikut turun,” ucapnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Pemerintah harus segera turun tangan atsu oprasi pasar ttg harga beras sangat tinggi apa lagi menjelang ramadan dan.lebaran kl.harga pokok sekelas beras aja tinghi bagai mana harga kebutuhan.yg lain,ayo pemerintah segera memverukan solusi untuk rakyat kecil,buar beras saja bisa tetbeli kasian wong cilik,indonesia yg sudah terkenal dgn lumvung padinya masak harga beras bukan semakin murah tapi semakin membumbung tinggi