Penemuan Kembali Revolusi Kita

Achmad Sofiyullah
Achmad Sofiyullah.

             Oleh : Achmad Sofiyullah

Tulisan saya kali ini sedikit mengutip dari salah satu pidato Bung Karno yang berjudul “Rediscovery of Our Revolution” yang artinya “Penemuan Kembali Revolusi Kita”.

Mengapa penemuan kembali ? Jelas karena saat ini kita telah kehilangan arah dan tujuan kita yang semestinya adalah Revolusi Sosial untuk menuju tatanan masyarakat Sosialisme Indonesia, masyarakat tanpa exploitation de lom par lom, menjadi masyarakat dunia tanpa exploitation the nation par nation.

Penemuan kembali mengandung kata bahwa Revolusi merupakan proses yang dinamis dan penuh dengan kerja keras, merupakan sebuah gairah dan harapan dalam hati semua rakyat Indonesia yang menginginkan kecukupan dalam segala sendi kehidupan. Susunan masyarakat ini akan menjadi angan-angan belaka apa bila tidak disertai dengan kerja-kerja ideologis yang riil dan merasuk dalam setiap persoalan rakyat.

Kita dari sebagian manusia yang menyakini tiga fondasi utama Bangsa Indonesia yaitu Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa, harus mampu mewujudkan dalam setiap sendi kehidupan rakyat.

Baca Juga :   Kebakaran CRR Tak Pengaruhi Produksi TPPI

Kita sebagai kader GMNI tidak dapat menampik bahwa saat ini kita sudah memasuki sebuah pembabakan jaman yang baru, jaman yang jelas sekali berbeda ketika Bung Karno mencetuskan Marhaenisme dan menjadi bagian dari mendirikan Republik ini.

Saat ini kita berhadapan dengan sebuah jaman yang mengkonstruksi kehidupan masyarakat berbasiskan pada teknologi. Sebuah jaman yang membentuk dan mengikat manusia untuk selalu membutuhkan tekhnologi dalam menjalankan aktifitas kehidupan sehari-hari.

Perubahan jaman ini membawa dampak dalam seluruh sendi kehidupan secara Sosial, Ekonomis, dan Politis sehingga setiap pembabakan dalam sebuah jaman selalu melahirkan sebuah tuntutan yang mau tidak mau harus dipenuhi dan melahirkan anak jaman baru.

Apabila melihat persoalan tersebut terkuak sebuah kenyataan bahwa kita sebagai pemuda dan juga mahasiswa menjadi bagian dan terikat dalam sebuah pembabakan jaman.

Kondisi obyektif inilah yang harus mampu kita refleksikan kembali untuk menemukan sebuah strategi bagi gerakan kita, yang merupakan perwujudan dari marhaenisme.

Notabenenya GMNI adalah sebuah gerakan yang tak hentinya berpihak kepada rakyat. Oleh karena apabila kita gagal melakukan proses analisa dan refleksi gerakan kita, niscaya GMNI akan menjadi ibarat sebuah Gentong, besar tapi tidak memiliki isi dan substansi.

Baca Juga :   Polemik Tambang Kapur Bojonegoro, Walhi Jatim: Pembahasan AMDAL Harus Libatkan Warga

Penulis adalah Wakabid Politik DPC GMNI Bojonegoro Periode 2021-2023.

 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *