Lomba Memasak Nasi Goreng untuk Merayakan Hari Kartini adalah Aib

Yusab Alfa Ziqin
Yusab Alfa Ziqin.

             Oleh : Yusab Alfa Ziqin

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, bakal menggelar Lomba Memasak Nasi Goreng untuk merayakan Hari Kartini 2024. Rencananya, dilangsungkan 26 April 2024 mendatang.

Inisiator Lomba Memasak Nasi Goreng akan diselenggarakan di Pendapa Malowopati itu Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bojonegoro.

Adapun, peserta Lomba Memasak Nasi Goreng itu rencananya para pejabat Pemkab Bojonegoro yang menyandang pangkat eselon tiga dan berkelamin laki-laki.

Kepala DP3AKB Bojonegoro, Heru Sugiarto, dengan bangga mengumumkan agenda tersebut di lantai dua kantornya Jalan Pattimura, perkotaan Bojonegoro pada Kamis (18/4/2024) kemarin.

Argumen diadakannya Lomba Memasak Nasi Goreng untuk merayakan Hari Kartini ke-145 itu cukup beragam. Di antaranya, untuk menjalankan delapan fungsi keluarga.

Khususnya, fungsi cinta kasih serta fungsi ekonomi. Selain itu, juga untuk menumbuhkan kreativitas masyarakat dan mengenalkan potensi lokal yang ada di Kabupaten Bojonegoro.

Argumen tambahannya, Lomba Memasak Nasi Goreng itu guna meningkatkan peran suami dalam membantu istri menyiapkan menu makanan bagi keluarganya masing-masing.

Mengetahui informasi Lomba Memasak Nasi Goreng untuk merayakan Hari Kartini ini di aneka media yang memberitakan, saya mengelus dada. Jujur saja, saya merasa ganjil.

Baca Juga :   DPRD Jatim Apresiasi 62 Perempuan Inspiratif, Sri Wahyuni: Penopang Kemajuan Daerah

Di mana relasi antara memasak nasi goreng dengan Kartini? Apa hubungannya memasak nasi goreng dengan putri Bupati Jepara yang cerdas, visioner, dan revolusioner itu?

Aneka argumen dilontarkan DP3AKB Bojonegoro dalam mendasari diadakannya lomba tersebut, tak masuk akal. Atau, setidaknya tak ada yang nyambung dengan semangat Kartini.

Sepengetahuan saya dalam surat-suratnya kepada Abandenon, Estella Zeehandelaar, dan sahabat-sahabat manca negaranya yang lain, Kartini tak pernah membahas memasak.

Dalam buku Panggil Aku Kartini Saja yang disusun Pramoedya Ananta Toer, Kartini juga tak diceritakan mengurus ihwal dapur. Yang diurus Kartini adalah hal-hal di luar dapur.

Di antaranya, pentingnya pendidikan untuk kaum wanita, perlunya penghapusan budaya feodal, dan adaptasi kesenian-kebudayaan masyarakat menyikapi arus  zaman.

Pendeknya, Kartini mempunyai semangat tinggi dalam mengurus atau memperjuangkan kesejahteraan sosial dan intelektual masyarakat. Terutama kaum wanita.

Salah satu perempuan mendapat julukan Bunga Jepara ini tak berminat besar untuk memasak. Apalagi, memasak nasi goreng sebagaimana akan dilombakan DP3AKB Bojonegoro tersebut.

Di atas adalah uraian singkat mengapa secara idelogis Lomba Memasak Nasi Goreng tak relevan dengan Kartini. Secara teknis, lomba itu kian tidak kompatibel dengan Kartini.

Sebab, secara teknis Lomba Memasak Nasi Goreng untuk merayakan Hari Kartini itu pesertanya khusus pejabat Pemkab Bojonegoro eselon tiga dan berkelamin laki-laki.

Baca Juga :   Kartini Hulu Migas di Garda Depan Sektor Energi

Apa maksudnya atau apa baiknya syarat tersebut? Apakah syarat itu simbol bahwa emansipasi perempuan dapat berjalan dengan cara menempatkan lelaki di dapur dan memasak?

Saya mengira, Kartini tak setuju jika emansipasi perempuan direalisasikan dengan cara itu. Saya meyakini, dia menginginkan emansipasi perempuan diraih dengan cara lebih baik.

Yakni, perempuan harus meninggikan harkat dan martabatnya melalui metode lebih intelektual. Tanpa meminta lelaki melakukan hal-hal yang lazim dilakukan wanita.

Tentu tak keliru apalagi memalukan jika lelaki berada di dapur untuk memasak sebagaimana wanita. Yang ganjil itu, mengapa Hari Kartini dirayakan dengan  Lomba Memasak Nasi Goreng.

Jika pejabat DP3AKB Bojonegoro pernah membaca selembar saja surat-surat Kartini, saya yakin: merayakan Hari Kartini dengan Lomba Memasak Nasi Goreng itu tak akan dipilih.

Lomba Memasak Nasi Goreng untuk merayakan Hari Kartini adalah aib. Orang-orang yang mempelajari apalagi menganut semangat Kartini, mungkin tak keliru jika mengolok-olok lomba itu.

Penulis adalah pecinta sastra dan jurnalis, tinggal di Ledok Kulon, Bojonegoro.

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Komentar