Ketika Perempuan Berkarya, Laki-laki Mendukung dengan Cinta

Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Dr. Hj. Cantika Wahono.
Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Dr. Hj. Cantika Wahono.

(Refleksi Seorang Istri, Ibu dan Akademisi di Hari Kartini)

Oleh: Dr. Hj. Cantika Wahono

Di tengah perjalanan hidup sebagai perempuan, saya meyakini satu hal: bahwa perempuan diberi anugerah oleh Tuhan berupa kekuatan hati dan kecerdasan pikiran yang mampu menjalankan banyak peran sekaligus. Perempuan itu kuat secara alami, sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai individu yang punya panggilan untuk mengabdi melalui profesi dan karya. Kekuatan itu akan berkembang dengan luar biasa ketika ada dukungan dari lingkungan terdekat, terutama dari suami. Saya menjalani banyak peran itu tak pernah sendirian. Ada sosok laki-laki yang selalu hadir di sisi—bukan hanya sebagai suami, tetapi juga sebagai sahabat, pelindung, dan penyemangat dalam diam maupun kata: suami saya.

Menjalani peran sebagai Akademisi selama lebih dari dua dekade bukanlah perjalanan yang ringan. Dunia akademik menuntut dedikasi, waktu, dan ketekunan yang panjang. Di saat yang sama, rumah tangga tetap menjadi prioritas utama—menjadi tempat pertama untuk pulang dan bertumbuh. Menjadi seorang ibu dari dua putra yang sedang menempuh pendidikan tinggi—satu di Boston, Amerika Serikat dan satu lagi di Universitas Gadjah Mada—adalah keberkahan dan rasa syukur yang mendalam, sekaligus amanah yang terus saya jaga.

Namun saya tahu, tak mungkin saya bisa menjalaninya tanpa ruang yang diberikan suami. Ruang untuk tumbuh, untuk belajar dan untuk mencintai profesi saya dengan sepenuh hati. Dalam setiap pencapaian akademik saya, ada tangan yang diam-diam mendorong dari belakang. Dalam setiap keputusan sulit, ada bahu yang siap menampung keluh dan tanya. Dukungan itu tidak selalu berupa kata-kata besar. Terkadang hanya berupa kepercayaan yang penuh, atau senyum yang menyiratkan restu atas langkah yang saya ambil.

Baca Juga :   Diduga Kena Peras Oknum Mengaku Wartawan, Perangkat Desa Mengadu ke Polres Bojonegoro

Tentu banyak muncul tantangan dalam membagi waktu antara keluarga dan karier. Tetapi suami saya tidak pernah memandang itu sebagai beban istri semata. Kami tidak membagi peran secara kaku. Kami berbagi peran dalam pengasuhan dan urusan rumah tangga. Kami menjadikan keluarga sebagai proyek bersama, bukan tanggung jawab tunggal. Anak-anak pun tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, saling menghargai, dan terbiasa melihat bagaimana ayah dan ibunya bekerja sama. Kami menyatu dalam semangat yang sama: bahwa rumah tangga adalah kerja sama dua insan yang saling melengkapi. Ketika saya sibuk dengan urusan kampus, seperti pengajaran, riset, pengabdian masyarakat atau konferensi yang mengharuskan saya ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, beliau tidak segan turun tangan membantu urusan rumah, atau memberi waktu khusus untuk bersama anak-anak. Ketika saya lelah, beliau tidak mengeluh, justru memberi ruang agar saya bisa kembali pulih.

Saya dan suami ingin menanamkan kepada anak-anak tentang nilai kebersamaan dan kesalingan. Bahwa laki-laki dan perempuan bukan pesaing, melainkan pasangan yang saling melengkapi. Suami saya menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti dominasi, tapi kadang justru tentang memberi ruang agar orang yang kita cintai bisa berkembang.

Baca Juga :   Mencegah Perkawinan Anak: Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan dan Mewujudkan Generasi Emas Bojonegoro

Saya percaya, kepemimpinan sejati tidak hanya terlihat di ruang publik, tetapi juga dalam ruang-ruang pribadi yang tak terlihat. Suami saya adalah pemimpin di rumah, yang justru menguatkan saya untuk memimpin di ruang akademik dan sosial. Dan saya yakin, cinta yang besar tidak ditunjukkan dengan mengikat, tapi dengan membebaskan dan mempercayai.

Hari Kartini selalu menjadi momentum yang mengingatkan saya akan pentingnya peran perempuan dalam membangun peradaban. Namun saya juga ingin merayakan laki-laki yang memilih untuk tidak merasa terganggu oleh keberhasilan istrinya. Laki-laki yang justru bangga ketika istrinya tumbuh. Laki-laki yang memahami bahwa cinta sejati adalah ketika dua jiwa berjalan beriringan, saling menopang, saling mendukung.

Untuk Perempuan hebat Indonesia, khususnya Perempuan hebat Bojonegoro, Berkaryalah dengan cinta. Jangan pernah merasa bersalah karena ingin tumbuh, belajar, dan berkontribusi. Tapi pastikan kita tetap membangun keseimbangan dalam rumah, karena dari sanalah energi kita berasal. Dan untuk para suami—dampingi istri bukan hanya dengan tanggung jawab, tapi juga dengan cinta, pengertian, dan doa.

Maka, ketika seorang perempuan berkarya, dan laki-laki mendukungnya dengan cinta—lahirlah harmoni yang luar biasa. Sebuah sinergi yang bukan hanya memperkuat rumah tangga, tapi juga memberi sumbangsih nyata bagi masyarakat.

Penulis adalah Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait