Suarabanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Keberadaan lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, telah memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara Indonesia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Lapangan yang memiliki deposit minyak lebih dari 1 miliar barel ini menjadi bagian dari mata rantai panjang kontribusi 125 tahun ExxonMobil di Indonesia.
Lapangan minyak Banyu Urip terletak di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Persisnya berada di sebelah tenggara Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, sejauh 10 kilometer (km). Jika ditarik dari jarak Bojonegoro Kota, sejauh 20 km ke arah barat daya.
Lapangan minyak Banyu Urip dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), anak usaha perusahaan raksasa migas Amerika Serikat, ExxonMobil. Pengelolaan lapangan Banyu Urip menggunakan skema production sharing contract (PSC).
Berdasarkan perjanjian Kerja Bersama atau Join Operating Agreement (JOA) pengelolaan migas Blok Cepu yang ditanda tangani pada 2006, ExxonMobil dan Pertamina sama-sama memiliki 45 persen saham di lapangan minyak Banyu Urip. Sementara 10 persen saham sisanya dimiliki oleh empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang tergabung dalam badan kerja sama (BKS) Participating Interest (PI) Blok Cepu.
Keempat BUMD tersebut, PT Sarana Patra Hulu Cepu (Jawa Tengah), PT Asri Dharma Sejahtera (Bojonegoro), PT Blora Patragas Hulu (Blora) dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana (Jawa Timur). Mereka tergabung menjadi kontraktor di bawah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKS Cepu).
External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar menuturkan kilas balik perjalanan panjang ExxonMobil di Indonesia, sejak awal masuk hingga mengelola lapangan minyak Banyu Urip di Kabupaten Bojonegoro.
Pria yang bergabung di EMCL sejak 2009 ini membeberkan bahwa perusahaan migas ini sesungguhnya telah hadir di Indonesia selama lebih kurang 125 tahun. ExxonMobil awalnya masuk dari Singapura, membuka kantor pemasaran di Indramayu, Tuban, dan Cirebon pada 1898. Saat itu produk yang dijual ke Nusantara ialah minyak tanah dan pelumas.
Industri hulu migas dimulai pada sekitar tahun 1912 di Sumatra. Ketika itu perusahaan ini belum dikenal sebagai Exxon. Ini berlangsung hingga tahun 1968, menemukan Lapangan Arun, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Lalu pada 1971 produksi dimulai dan kemudian namanya dikenal sebagai Exxon. Lalu pada 1978 melakukan ekspor ke beberapa pasar di Asia Pasifik.
“Sampai pada 2015, itu kita transfer ke Pertamina sudah sekira 4.200 lebih kargo gas energi dari Lapangan Arun di Aceh Utara,” kata Tezhart Elvandiar di Hotel Aston dalam satu acara belum lama ini, dikutip Suarabanyuurip.com Selasa (9/4/2025).
Kemudian pada tahun 2000-an, lapangan minyak Banyu Urip, ditemukan di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. ExxonMobil kemudian membentuk anak perusahaan bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi migas, yaitu Mobil Cepu Limited pada 2005.

Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005, dan MCL kemudian berubah nama menjadi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) pada pertengahan Oktober 2014.
EMCL saat ini terfokus di lapangan migas Banyu Urip. Kontrak kerja sama ini berjalan selama 30 tahun atau berakhir pada 2035. Skema bagi hasilnya adalah sebesar 85 persen untuk Pemerintah Indonesia, dan 15 persen untuk EMCL, Pertamina dan 4 BUMD.
Untuk rencana pengembangan (Plan of Development) Banyu Urip yang disetujui permerintah pada 2006, berupa Full Field 165.000 barel per hari (bph). Lalu produksi awal lapangan Banyu Urip dimulai pada Desember 2008 melalui Fasilitas Produksi Awal (Early Production Facility/EPF) yang mulai berproduksi dengan kapasitas 20.000 bph pada Agustus 2009.
Pengembangan lapangan minyak Banyu Urip terdiri 5 EPC (Engineering – Procureement – Construction). Terdapat 3 tapak sumur dengan 15 sumur injeksi, dan 30 sumur produksi. Produksi minyak ini diolah di pusat fasilitas pemrosesan (Central Processing Facility/CPF). Fasilitas ini berfungsi memisahkan minyak mentah dari air dan gas, sebelum minyak dialirkan melalui pipa 20 inci sepanjang 95 kilometer menuju ke Floating Storage and Offloading (FSO) Gagak Rimang yang terapung di tengah laut Palang, Tuban, Jawa Timur.
“Selain di hulu migas, ExxonMobil juga mengembangkan bisnis hilir. Jika EMCL bergerak di upstream, maka downstream dikelola ExxonMobil Lubricant Indonesia, ada juga bisnis BBM (bahan bakar minyak),” ujar pria yang karib disapa Etang ini.
Selanjutnya, pada 2019 EMCL mengebor lapangan minyak Kedung Keris (KDK). Waktu itu produksinya diperkirakan 4.000 barel per hari (bph). Hingga saat ini berjalan dengan sangat baik mencapai lebih dari 10.000 bph. Bahkan pernah sampai pada 13.000-an bph.
“Di Kedung Keris itu hanya satu sumur. Produksi minyak di Kedung Keris kita alirkan juga ke CPF yang di Gayam, melalui pipa sepanjang 16 km,” papar pria berdarah Sulawesi-Sunda ini.
Sumbang Pendapatan Negara
Revenue atau pendapatan dari lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, yang diterima negara, kata Etang, sebesar USD29,5 miliar atau setara Rp570an triliun. Pendapatan tersebut berdasarkan pembagian minyak mentah 85 persen untuk pemerintah. Pendapatan ini belum termasuk pajak.
Sedangkan untuk invetasi ExxonMobil sejak di Aceh hingga Blok Cepu berjumlah sekira USD23 miliar. Selain itu penerima manfaat langsung dari program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan EMCL mencapai lebih dari 200.000 orang. Tersebar di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan di Jawa Timur, serta Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Untuk kegiatan hulu migas, ExxonMobil masih berusaha mengoptimalkan produksi dari Blok Cepu. Sehingga dilihat pula beberapa prospek lain di blok ini untuk bisa dikomersialkan. Skenario pengembangan yang optimum masih sedang dikaji.
Sementara untuk energi transisi, ExxonMobil juga bekerja sama dengan Pertamina untuk Carbon Capture Storage (CCS). Teknologi ini menangkap karbon untuk kemudian dimasukkan kembali di lapisan geologi di bawah dasar laut.

Profil produksi Lapangan Banyu Urip, berdasar data awal terdapat 450 juta cadangan minyak. Seiring perkembangan jumlah cadangannya terus meningkat. Bahkan dari olah data geologis dari sumur-sumur minyak yang ia terima, diketahui kemudian diajukan ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan (SKK) Migas bahwa terdapat cadangan minyak sebesar 1 miliar barel.
“Tingkat produksinya bahkan melebihi rencana awal yang 165 ribu bph, karena bisa sampai lebih dari 200 ribu bph, yang paling tinggi itu 235 ribu bph, di atas itu tidak bisa lagi, karena kapasitas fasilitasnya hanya bisa segitu, dan puncak produksinya itu selama 5 tahun,” tegas Etang.
Masa puncak produksi lapangan minyak Banyu Urip telah berakhir pada 2021. Saat ini sedang terjadi penurunan secara alamiah, atau decline. Tetapi, EMCL berupaya mengatasi masalah natural ini dengan melakukan pengembangan melalui pengeboran tujuh sumur Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Tahun 2024 lalu, telah mengebor dua sumur.
Produksi dari dua sumur itu sebanyak 14.000 bph. Pengeboran BUIC bertujuan mengurangi rasio natural decline di Lapangan Banyu Urip. Pada tahun 2025 ini EMCL akan mengebor lagi lima sumur dengan bor berseri.
“Drill rig yang digunakan adalah hasil karya putra putri Indonesia sendiri,” ungkap Etan.
Dari proyek pengeboran 7 sumur BUIC diperkiraan ada tambahan produksi minyak sebesar 42.92 MMBO (million barel oil/juta barel minyak). Ketujuh sumur itu terdiri lima sumur infill dan dua sumur clastic. Dua sumur pertama ialah sumur B13 dan B12.
Sesuai target WP&B (Work Program and Budget), dua sumur itu diharapkan dapat memberikan kontribusi produksi rata-rata tahunan untuk 2024 sebesar 9.285 BOPD. Meskipun sebenarnya per sumur diperkirakan bisa memproduksi 10.000 sampai 15.000 bph.
Sedangkan tiga sumur lainnya dari proyek ini, yaitu Sumur C13, C14, dan C19 ditargetkan untuk onstream pada Q1 2026. Tetapi EMCL diyakini selalu menjadi lebih cepat dari jadwal. Sehingga dimungkinkan tiga sumur itu akan onstream pada 2025.
Begitu juga untuk 2 sumur clastic yakni C15 dan C21, diharapkan nantinya informasi dari sumur ini dapat memberikan data yang lebih akurat tentang potensi kandungan minyak lapisan clastic Lapangan Banyu Urip dengan perkiraan cadangan 3P (proven, probable, possible) sebesar 670 juta barel minyak/MMBO.
Proyek BUIC ini diharapkan akan mencapai produksi puncak pada tahun 2027 dengan level produksi 19.000 bopd. Total investasi dari proyek ini mencapai US$203,5 juta atau Rp3,25 triliun. Dari investasi ini perkiraan ada tambahan penerimaan negara yang dihasilkan mencapai sekitar +/- US$2,1 miliar atau Rp33,6 triliun.
“Kami mohon dukungan pemangku kepentingan,” ujar Dwi Soetjipto saat masih menjabat Kepala SKK Migas.
Senior Vice President Production ExxonMobil Indonesia, Muhammad Nurdin menambahkan, produksi minyak lapangan Banyu Urip pada awal tahun 2025 sudah mencapai 154 ribu barel oil per day (bopd). Produksi tersebut di atas target APBN sebesar 136 ribu bopd.
“Sementara pada 2024 lalu target lifting Blok Cepu juga meningkat atau di atas target APBN. Yakni dari target 140 ribu barel menjadi 147 ribu BOPD, meningkat 7 ribu BOPD di atas target APBN,” kata Nurdin saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (27/2/2025), dikutip dari kanal Youtube Parlemen.(fin)





