SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Bojonegoro, mencatat aset senilai ratusan juta rupiah berhasil diselamatkan dari kobaran api yang menghanguskan gubuk tempat istirahat warga di Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (12/5/2025) sekitar pukul 11.00 WIB.
Kobaran api yang meluluhlantakkan gubuk tersebut diduga berasal dari tungku penyulingan minyak mentah. Korban sekaligus pelapor kejadian ini diketahui berinisial STJ (48), warga Dusun Ngrowo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan. Kabupaten Bojonegoro.
Kepala Damkarmat Bojonegoro, Siswoyo mengatakan, pihaknya melalui Pos Padangan menerima laporan pukul 11.55 WIB. Namun, saat tiba di tempat kejadian kebakaran (TKK) pada pukul 12.59 WIB, api sudah dalam keadaan padam.
“Saat personel Pos Padangan sampai di TKK, api sudah dipadamkan oleh warga sekitar,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Senin (12/5/2025) sore.

Dijelaskan, bahwa jarak antara Pos Damkarmat Padangan dengan lokasi kebakaran sejauh kurang lebih 30 Kilometer (Km). Armada yang dikerahkan yani satu unit water supply stainless dan dua personel.
“Penyebab kebakaran, diduga dari api tungku penyulingan yang menjalar ke gubuk. Total kerugian sekira Rp1 juta, meliputi bangunan ukuran 2 x 3 meter dari bahan baku bambu dan kayu,” jelasnya.
Aset tercatat berhasil diselamatkan dari kebakaran berupa satu unit alat penyulingan beserta perlengkapan dan minyak mentah senilai lebih kurang Rp250 juta.
“Tidak ada korban jiwa, sebaliknya ada empat orang berhasil selemat dari kebakaran ini,” imbuhnya.
Terpisah, Kapolsek Kedewan, AKP Edy Priyono menyebut, bahwa gubuk yang terbakar adalah tempat beristirahat para penambang minyak tradisional.
“Kebakaran tersebut di gubuk tempat istirahat para pedagang,” bebernya saat dikonfirmasi.
Sementara itu, Kepala Desa Hargomulyo, Sukir menyebut, para penambang yang bisa beristirahat di gubuk sekitar penyulingan itu adalah warganya dari kalangan kurang mampu.
“Ya kalau warga kami yang mau nunggoni (menunggu) pawonan cilik (penyulingan kecil) itu biasanya memang kurang mampu,” terangnya.(fin)





