SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Organisasi masyarakat sipil Alas Institute telah melaksanakan survei terhadap calon penerima manfaat program ayam petelur di dua desa yang di Kecamatan Gayam, dan satu desa di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Alas Institute adalah salah satu dari lima pendamping program.
Survei ini merupakan tindak lanjut setelah Operator Ladang Migas Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) meluncurkan program bertajuk “Ayam Petelur untuk Keluarga Pra-Sejahtera Produktif”. Bupati Setyo Wahono menjadi penanda simbolis peluncuran program ini.
Program yang mengusung slogan “Keluarga Makmur, Bangga Produksi Telur” tersebut menjadi bagian dari Program Gerakan Ayam Petelur Mandiri dipendekkan dengan akronim “Gayatri” yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.
Ketua Alas Insitiute, Arul Efansyah mengatakan, pihaknya mendapat bagian survei ke tiga desa ring 1 Ladang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu. Yakni Desa Bonorejo, dan Sudu di Kecamatan Gayam, serta Desa Leran, Kecamatan Kalitidu.
“Kami laksanakan survei sejak Rabu 7 April sampai 7 Mei 2025,” kata Arul Efansyah kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (15/5/2025).

Dari survei yang terlaksana, terdata sejumlah kepala keluarga (KK) penerima manfaat. Yakni Desa Bonorejo sebanyak 35 KK, Desa Sudu 35 KK, dan Desa Leran sebanyak 25 KK. Total ada 95 KK tercatat.
“Hasil survey akan dikoordinasikan lagi ke pemerintah desa (pemdes) untuk disetujui sebelum disampaikan ke pemkab melalui dinas peternakan,” ujarnya.
Meski begitu, menurut pria penyuka olahraga bulutangkis ini, dari jumlah data calon penerima manfaat tersebut masih perlu disesuaikan. Karena ada beberapa data yang kondisinya pada nama dan alamat tertera meninggal, tidak bersedia, dan sebagainya.
Adapun survei ini bertujuan untuk menilai kelayakan calon penerima manfaat dalam mengikuti program, mengidentifikasi kebutuhan dan potensi calon penerima manfaat, menentukan kemampuan calon penerima manfaat dalam mengelola program ayam petelur.
Selain itu bertujuan pula untuk mengukur kesiapan calon penerima manfaat dalam menerima bantuan dan pendampingan, serta mengidentifikasi potensi dampak program terhadap kesejahteraan calon penerima manfaat.
“Jika data calon penerima manfaat sudah clear akan diagendakan sosialisasi program, pelatihan pemeliharaan ayam petelur, pembuatan kandang dan sarprasnya, dropping pakan, dropping ayam, pendamping, dan juga dilakukan montoring dan evaluasi,” bebernya.
Dikonfirmasi secara terpisah, External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar menyatakan, bahwa sesuai arahan Bupati, proses penentuan calon penerima manfaat Program Gayatri dilakukan oleh mitra program bersama pemerintah desa sasaran.
“Data calon penerima manfaat mengacu pada Damisda,” tandas Etang, sapaan karib Tezhart Elvandiar.
Untuk diketahui, program ayam petelur itu akan beroperasi di 16 desa wilayah operasi pengeboran EMCL. Yakni 12 desa di Kecamatan Gayam, mulai Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo, Brabowan, Beged, Sudu, Manukan, Cengungklung, Katur, Begadon, Ngraho, dan Ringintunggal.
Kemudian dua desa di Kecamatan Kalitidu, yakni Leran dan Sukoharjo, serta dua desa di Kecamatan Dander, yaitu Desa Ngumpakdalem dan Sumbertlaseh.(fin)





