SuaraBanyuurip.com – Penerima manfaat program gerakan ayam petelur mandiri (Gayatri) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah merasakan hasilnya. Mereka bisa memperoleh tambahan penghasilan hingga Rp 1 juta per bulan dari penjualan telur. Penerima manfaat masih bisa melakukan pekerjaan lainnya untuk menambah pendapatan.
Krisdianto (32), merupakan salah satu dari puluhan ribu penerima manfaat program Gayatri di Bojonegoro. Warga RT09 RW03 Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, itu mendapat program Gayatri 10 bulan lalu. Program bantuan yang diterima bersumber dari alokasi dana desa (ADD) tahun 2025.
Kris, panggilan akrabnya, menerima paket bantuan program Gayatri berupa 54 ekor ayam petelur siap produksi, kandang batrai, vitaman dan stok pakan selama tiga bulan.
Selain itu, Kris mendapat pelatihan cara merawat ayam petelur. Mulai dari memberi pakan, vitaman, menjaga kesehatan ayam hingga membersihkan kandang. Juga pendampingan selama sebulan dari tenaga ahli yang disiapkan Pemerintah Desa (Pemdes) Ngumpakdalem.
“Sekitar dua minggu saya rawat ayam-ayam itu mulai bertelur. Pertama kali telurnya kecil, mungkin karena masih tembehan,” kenangnya.
Jumlah ayam yang bertelur semakin hari bertambah banyak. Hingga puncaknya pernah mencapai 52 ekor ayam yang produksi.
“Semuanya sudah bertelur. Tapi bertelurnya tidak bersamaan. Ada yang pagi, siang dan sore hari,” tutur Kris kepada suarabanyuurip.com saat memberi pakan ayam petelur, Jumat (17/4/2026).
Produksi telur Gayatri yang awalnya kecil berlahan mulai normal. Dari sebelumnya satu kilogram berisi 21 butir telur, sekarang sudah menjadi 17 butir per kilogramnya.
Kris memanen telur-telur ayam setiap siang dan sore saat istirahat dan pulang kerja sebagai buruh serabutan. Setiap harinya telur yang dipanen dari kandang ayam di samping rumahnya itu bisa mencapai 2,7 kilogram.
“Pas puncak produksi, ada 52 ekor ayam yang betelur, sehari bisa sampai 3 kilogram. Kalau sekarang sehari rata-rara 2,5 kilogram,” ujarnya.
“Jualnya di toko sini, sudah langganan. Kadang nggak sampai dijual ke toko sudah habis dibeli tetangga sekitar. Dibeli sesuai harga pasar,” lanjut Kris.
Pemuda lajang itu mengaku bisa mendapat penghasilan bersih Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta setiap bulan. Penghasilan itu setelah dipotong biaya pakan 50 kilogram seharga Rp 365 ribu. Satu sak pakan bisa untuk tujuh sampai delapan hari.
“Tergantung harga telur di pasaran. Kalau harga per kilonya 29 ribu sampai 30 ribu, sebulan bisa dapat 1 juta. Kalau harganya 25 ribu per kilo seperti sekarang ya sekitar 800 ribuan sebulan,” jelas Kris.
Menurut Kris, perawatan ayam petelur cukup mudah. Sehari memberi pakan dua kali, pagi dan sore. Kotoran ayam dibersihkan setiap pagi sebelum berangkat kerja.
“Kotorannya saya kumpulkan untuk pupuk tanaman. Tapi harus dikeringkan dulu. Kalau basah panas,” ujar pria lajang ini.
“Ini sangat membantu. Bisa untuk tambahan penghasilan, karena saya masih kerja lainnya,” lanjut Kris.
Kris mengaku ingin menambah jumlah ayam petelur agar pendapatan yang diperoleh bisa menangkat setiap harinya. Namun, dirinya tidak tahu harus membeli di mana ayam petelur yang sudah siap produksi.
“Dari hasil menjual telur sebagian sudah saya sisihkan untuk beli ayam pengganti kalau usia produksinya sudah habis. Pengenya juga nambah ayam lagi, tapi nggak tahu belinya di mana,” pungkasnya.
Fasilitasi Penjualan Telur Gayatri
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro memfasilitasi penjualan telur Gayatri melalui berbagai kegiatan. Harga jual telur Gayatri mengikuti harga pasar yang berlaku, sehingga tetap kompetitif dan tidak memberatkan masyarakat tetapi dengan keunggulan telur lebih fresh.

Kegiatan tersebut melalui program Jumat Asri, kegiatan kerja bakti (korve), serta gerakan beli telur Gayatri sebagai bentuk dukungan nyata terhadap peternak lokal. Penjualan juga dilakukan dengan pendampingan petugas teknis di masing-masing kecamatan.
Kemudian, penjualan telur Gayatri juga dilakukan di car free day (CFD) setiap hari Minggu, dan Gerakan Pasar Murah di beberapa kecamatan.
“Kedepan akan ada edaran untuk MBG menggunakan telur Gayatri. Juga perlu kerja sama BUMDes untuk keberlanjutannya,” tegas Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Elfia Nuraini.
Gayatri 2026 Dianggarkan Rp 74 Miliar
Program Gayatri merupakan salah satu upaya Pemkab Bojonegoro meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin melalui bidang peternakan, sekaligus mendorong ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat. Melalui gerakan beli telur Gayatri, diharapkan konsumsi protein hewani masyarakat juga semakin meningkat.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melanjutkan kembali program Gayatri pada 2026 ini. Anggaran yang disiapkan sebesar Rp 74 miliar untuk 4.400 keluarga penerima manfaat (KPM) tersebar di wilayah Bojonegoro.
Pemkab Bojonegoro sebelumnya juga telah menganggarkan program Gayatri sebesar Rp 8,9 miliar di APBD induk 2025 untuk 400 KPM yang tersebar di 10 desa di 5 kecamatan. Juga Rp 86,7 miliar di P-APBD 2025 untuk 5.000 KPM.
Kepala Bidang Peternakan Disnakkan Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki mengatakan, sejak program Gayatri direalisasikan menunjukkan hasil positif. Sehingga program tersebut akan dilanjutkan pada tahun ini dengan anggaran Rp 74 miliar untuk 4.400 KPM.
“Realisasi Gayatri 2025 sudah selesai, sedangkan di P-APBD 2025 masih berjalan. Kemungkinan puncak produksi telur di bulan Agustus 2026,” ujarnya.
Dia menambahkan, program Gayatri menjadi prioritas Kabupaten Bojonegoro, diharapkan bisa memberdayakan masyarakat. Terutama bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
“Harapannya masyarakat bisa mandiri dan mengembangkan program Gayatri tersebut,” terangnya.(red)





