SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Presiden RI Prabowo Subianto berjanji akan kembali menjadwalkan kunjungannya ke Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Janji tersebut disampiakan Prabowo setelah dirinya membatalkan kunjungan ke Bojonegoro Kamis (26/6/2026) kemarin, untuk meresmikan peningkatan produksi minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Peresmian terpaksa dilaksanakan secara virtual dari Bali.
“Saya mohon maaf tidak bisa hadir secara langsung, karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Insyallah akan saya cari waktu untuk hadir melihat proyek-proyek demikian penting, demikian bersejarah, dan demikian membanggakan, membanggakan bagi bangsa dan sebagai pribadi,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan secara virtual.
Batalnya kunjungan Prabowo ini semakin memperkuat mitos keangkeran Kabupaten Bojonegoro bagi Presiden RI. Konon, Presiden RI usai menginjakkan kakinya di Kabupaten Bojonegoro akan lengser. Itu pernah terjadi seperti Seokarno dan Soeharto. Setelah itu belum ada lagi Presiden RI berkunjung ke Bojonegoro.
Dua Persiden RI sebelumnya yang menjabat dua periode, yakni Susisolo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Joko Widodo (Jokowi), tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Kabupaten Bojonegoro. Padahal, kabupaten yang dilalui sungai terpanjang di Pulau Jawa, Bengawan Solo, ini menjadi punyambang 25 persen produksi minyak nasional.
Beberapakali SBY saat masih menjadi Presiden RI diagendakan melakukan kunjungan ke Kabupaten Bojonegoro, namun selalu batal. Pun Jokowi. Padahal semua persiapan penyambutan telah dilakukan.
Catatan suarabanyuurip, pada Akhir Juni 2013, SBY dijadwalkan mengunjungi Kabupaten Bojonegoro untuk melihat penyelesaian persoalan yang menghambat produksi puncak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. SBY juga akan menggelar rapat koordinasi (rakor) untuk mensinkronisasi dan mengeksekusi berbagai permasalahan dalam implementasi intruksi presiden (Inpres) No. 2/2012 tentang percepatan produksi migas nasional.
Berbagai persiapan penyambutan dan pengamanan saat itu telah dilakukan. Namun hingga tanggal jadwal yang sudah ditentukan SBY batal mengunjungi Blok Cepu.
Kedatangan SBY saat itu akhirnya di wakilkan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla, untuk bertemu Bupati Suyoto.
SBY kembali dijadawalkan ke Kabupaten Bojonegoro di akhir masa jabatannya pada 11 September 2014. Agendanya meresmikan proyek rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (Enineering, Procurement and Construction/EPC) Banyu Urip, Blok Cepu.
Bahkan, saat itu, rencana kunjungan SBY dimajukan pada 8 September 2014. Persmian akan dilakukan di lokasi proyek fasilitas produksi atau Central Processing Fasility (CPF) Banyu Urip di Kecamatan Gayam.
Lagi-lagi rencana kunjungan Presiden RI ke Kabupaten Bojonegoro kembali batal. Peresmian oleh SBY saat itu diwakilkan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung.
Anehnya, SBY menandatangani prasasti peresmian Fasilitas Produksi Lapangan Banyuurip, setelah menghadiri puncak peringatan Hari Jadi TNI di Surabaya, Selasa (7/10/2014), atau sehari sebelum Chairul Tanjung datang ke Bojonegoro.
Bukan hanya SBY. Jokowi dua periode menjabat Presiden RI juga tidak pernah menginjakkan kakinya di Kabupaten Bojonegoro. Meskipun beberapa kali sudah dijadwalkan.
Yakni, pada 27 April 2016, Jokowi dijadwalkan melakukan tasyakuran pencapaian puncak produksi minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam. Selain menghadiri tasyakuran, Jokowi juga diagendakan melakukan peletakan batu pertama proyek Unitisasi Gas JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem. Jarak antara Lapangan Minyak Banyu Urip dengan proyek gas JTB hanya sekitar 20 KM.
Juga menandatangani perjanjian jual beli gas antara Pertamina dengan Pupuk Kujang, dilanjutkan penandatangan rencana pengembangan Lapangan Kedung Keris (KDK) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu. Lapangan ini masih menjadi bagian dari Blok Cepu.
Namun kedatangan Jokowi batal. Kedatangan Jokowi digantikan oleh Menteri ESDM yang saat itu dijabat oleh Ignasius Jonan. Sementara tasyakuran produksi puncak Banyu Urip kemudian dialihkan di Fairmont Hotel Jakarta.
SKK Migas saat itu beralasan penundaan kedatangan presiden ini dikarenakan pada hari yang dijadwalkan Jokowi baru pulang dari luar negeri. Sehingga banyak agenda yang harus diselesaikan lebih dulu.
Kemudian, Jokowi kembali diagendakan mengunjungi Kabupaten Bojonegoro pada pertengahan Mei 2016, untuk mengunjungi Lapangan Banyu Urip. Agendanya, tasyakuran pencapaian puncak produksi Banyu Urip lagi. Namun gagal lagi.
Pada 12 September 2022. Jokowi kembali dijadwalkan meresmikan proyek dan sekaligus menyaksikan pengaliran 20 persen gas JTB. Berbagai persiapan juga telah dilakukan Pertamina bersama kontraktor pelaksana untuk menyambut kedatangan Jokowi. Namun kunjungan Jokowi ke Kabupaten Bojonegoro batal, dan diundur pada pertengahan Desember 2022. Hingga habis masa jabatannya, Jokowi tidak pernah mengunjungi Bojonegoro.(suko)





