Jaga Pasokan Jangka Panjang, PGN Gandeng KKKS Hulu Gas Bumi

PGN Floating Storage Receiving Terminal Lampung.
PGN Floating Storage Receiving Terminal (FSRU) Lampung, jaga keberlangsungan pasokan gas bumi. Dengan adanya FSRU ini, sumber gas PGN yang disalurkan kepada konsumen tidak hanya bersumber dari lapangan gas di Sumatera - Jawa.(istimewa)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Jakarta — PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan pasokan gas bumi secara jangka panjang. Oleh sebab itu, pihaknya menggandeng kontrak jangka panjang dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) atau produsen hulu gas.

Direktur Komersial PGN, Ratih Esti Prihatini mengatakan, bahwa perusahaan saat ini telah memiliki kontrak jangka panjang dengan berbagai produsen gas.

PGN, dia katakan, mempunyai dua phase lagi yang me-maintain kontrak existing. Yaitu dengan Medco E&P, mengalirkan gas yang dari Sumatera. Selain itu, PGN juga punya PEPC JTB yang disebutnya sebagai ‘our own brother’.

“Itu Subholding Upstream, itu untuk Jawa Timur dan juga PEP, PEP itu scattered area-nya across Indonesia dan HCML yang juga di Jawa Timur dan juga Sele Raya Belida,” katanya dalam keterangan tertulis dikutip Suarabanyuurip.com, Jumat (18/7/2025).

Selain itu, pihaknya juga sudah menjajaki jual beli gas dengan berbagai perusahaan untuk mendapatkan pasokan gas baru di dalam negeri pada beberapa tahun mendatang.

Baca Juga :   DPR RI Beberkan Tiga Skema BUK dan Petroleum Fund di RUU Migas

Bahkan, pihaknya telah menjajaki pasokan gas dari Blok Masela di Maluku yang dikelola Inpex Masela Ltd, Blok South Andaman di Aceh yang dikelola perusahaan gas asal Uni Emirat Arab (UEA) yakni Mubadala Energy. Pasokan gas dari Mubadala tersebut nantinya akan disalurkan pihaknya ke wilayah Sumatera hingga Jawa.

“Dan kita juga ada namanya Bukit Panjang dengan Petronas, kita juga ada dengan MontD’Or dengan Tungkal, dan juga Inpex Masela yang juga quite besar juga,” tambah Ratih.

Selain menjamin pasokan, PGN juga melakukan negosiasi agar harga gas yang dibeli dari produsen relatif terjangkau dan pada akhirnya bisa diberikan kepada konsumen akhir dengan harga terjangkau dan bersaing pula.

“Kita menegosiasikan agar harga belinya itu terjangkau, itu adalah satu terkait dengan availability, dan accessibility lagi ke infrastruktur,” bebernya.

“Jadi memang kita berusaha semaksimal mungkin agar sustainability dari industri itu tetap terjaga. Makanya PGN quite aggressive negosiasi dengan para-para K3S yang menghasilkan pasokan dan tentu hal ini juga difasilitasi oleh pemerintah,” lanjutnya.

Baca Juga :   Pasokan dari Hulu Menurun, PGN Berlakukan Kuota Gas Bumi ke Pelanggan

Ratih juga menyatakan, jika saat ini terus mengembangkan infrastruktur gas terintegrasi agar menjangkau wilayah-wilayah di Indonesia. Salah satu yang dibangun adalah infrastruktur gas pipa.

“Ada yang non-pipa yang kita bilang ada beyond pipeline, dan itu adalah bentuk LNG dan juga CNG, mostly daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh pipa,” tambahnya.

Menurut dia, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pemerintah, terutama dalam memfasilitasi negosiasi.

“Jadi peran PGN ini berkembang tidak luput dari bantuan pemerintah terkait dengan hal ini,” tandasnya.(fin/adv)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait