Gayatri: Mimpi Bojonegoro Ciptakan Kemandirian Ekonomi

Program Gayatri
Bupati Setyo Wahono saat peluncuran program Gayatri yang dimulai oleh EMCL di Desa/Kecamatan Gayam.

Oleh: d suko nugroho

Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebentar lagi menjadi produsen telur. Produksi telur setiap harinya bisa mencapai 2.929.770 butir. Jumlah itu dua kali lipat jumlah penduduk Bojonegoro sebanyak 1.325.299 jiwa. Jika satu kilogram berisi 17 butir, maka dalam sehari produksi telur Bojonegoro lebih dari 172.339. Kg atau 1,72 ton lebih.

Produksi telur Bojonegoro itu dihasilkan bukan dari kandang ayam besar milik pengusaha. Jutaan butir telur itu dari peternakan rumahan. Dari emperan rumah warga di perkotaan hingga pedesaan terdapat ayam petelur di kandang batrai. Jumlahnya puluhan setiap rumah.

Budidaya ayam petelur menjadi aktivitas baru warga Bojonegoro. Mereka setiap pagi sibuk mengurus ayam. Mulai membersihkan kotoran, memberi pakan, vitamin hingga memanen butiran telur dari kandang. Kesibukan itu dilakukan warga sebelum mereka bekerja sebagai buruh.

Budidaya ayam petelur rumahan tersebut merupakan program gerakan ayam petelur mandiri atau Gayatri. Program ini digulirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, di era Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah. Gayatri dirancang untuk menciptakan kemandirian warga. Sasarannya keluarga prasejahtera. Goalnya mengatasi kemiskinan.

Keluarga penerima manfaat (KPM) program Gayatri wajib masuk daftar data mandiri kemiskinan daerah (Damisda). Damisda berbasis nama dan alamat atau by name by address. Damisda mulai digulirkan sejak 2022 dan menjadi rujukan dalam pemutakhiran data kemiskinan berbasis desa.

Berdasarkan laman https://damisda.bojonegorokab.go.id/, jumlah keluarga miskin belum diupdate. Masih ditampilkan tahun 2023. Jumlahnya, 54.255 keluarga. Padahal sekarang tahun 2025. Data tersebut tentu sudah banyak perubahan. Baik karena meninggal dunia, pindah tempat maupun sudah meningkat status ekonominya.

Setiap KPM program Gayatri mendapat paket lengkap berupa 54 ekor pullet (ayam petelur siap produksi), kandang yang memadai, stok pakan untuk dua bulan pertama, Vaksin, vitamin, dan obat-obatan untuk menjaga kesehatan ternak. Paket bantuan yang digulirkan diperkirakan menelan anggaran hingga Rp 16 juta. Jika dikalikan jumlah KPM totalnya mencapai Rp868.080.000.000. Hampir Rp 1 triliun.

Paket lengkap bantuan itu ditanggung pemerintah desa. Sumber anggarannya dari 10 persen alokasi dana desa (ADD). Sistimnya swakelola. Desa mencari pihak ketiga untuk pengadaan ayam petelur, pembuatan kandang, penyediaan pakan dan obat-obatan. Juga menyiapkan tenaga pendamping yang memiliki keahlian tentang seluk beluk budidaya ayam petelur untuk mendampingi KPM.

Program Gayatri juga menjadi syarat wajib untuk pencairan ADD. Artinya, pemerintah desa harus mengurangi pos-pos anggaran atau mengalihkan untuk program Gayatri. Praktis, pemerintah desa harus menyesuaikan dan mengubah APBDes. Bagi desa dengan nilai ADD kecil, tapi jumlah keluarga miskinnya banyak, tentu akan merasa terbebani.

Sedangkan Pemkab Bojonegoro memberikan pelatihan kepada KPM. Yakni manajemen kandang dan pemeliharaan meliputi membangun lingkungan ideal bagi ternak untuk produktivitas maksimal. Manajemen pakan dan nutrisi untuk memastikan asupan gizi terbaik untuk ayam petelur. Kesehatan Ternak untuk menghindari penyakit dan menjaga keberlangsungan usaha. Inovasi produk untuk mengolah telur menjadi produk bernilai jual tinggi seperti kue dan aneka makanan ringan.

Tantangan

Konsep program Gayatri sekilas cukup apik. Warga miskin tidak dimanjakan bantuan tunai. Tapi mereka diberi kail agar bisa mandiri. Menambah pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari, dan mencukupi asupan gizi keluarga.

Baca Juga :   Pj Bupati dan Forkopimda Kunjungi Misa Malam Natal Sejumlah Gereja di Bojonegoro
Gayatri.
Warga miskin Bojonegoro penerima program Gayatri.

Namun, perlu diingat, budidaya ayam petelur masih baru di kalangan warga Bojonegoro. Mereka belum memiliki pengalaman. Apalagi berternak ayam petelur berbeda dengan ayam kampung. Ayam kampung tidak membutuhkan perawatan ekstra. Bisa diberi pakan dari sisa makanan, dan lebih tahan dari serangan penyakit. Tapi proses mendapatkan hasil lumayan lama.

Beda dengan ayam petelur. Produksi ayam petelur tergantung perawatan dan pakan yang diberikan. Jika nutrisi pakan kurang, dipastikan berpengaruh terhadap produksi dan kwalitas telur. Produksi telur bisa merosot, bahkan macet. Telurnya kecil. Kulit telurnya tipis dan mudah pecah.

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) penerima maanfaat. Caranya melalui pelatihan dan pendampingan kepada KPM agar bisa beternak ayam petelur yang baik. Mulai dari merawat, memproduksi pakan untuk menekan baiaya pengeluaran, manajemen hasil produksi untuk operasional berkelanjutan, hingga pengolahan di hilirnya.

Selain SDM, mengubah pola pikir KPM menjadi tantangan kesuksesan program Gayatri. Mengubah mindsite ini penting dilakukan agar bantuan ayam petelur yang digelontorkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek. Tapi menjadi dorongan untuk kemandirian dan peningkatan taraf hidup jangka panjang secara berkelanjutan.

Realita selama ini bantuan ternak yang diberikan kepada KPM tidak bertahan lama. Bantuan dijual. Faktornya beragam. Kebutuhan mendesak akan uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari seperti membeli makanan, membayar biaya pendidikan anak, atau mengobati anggota keluarga yang sakit, atau membayar cicilan.

Faktor lainnya, kurangnya pengetahuan tentang pemeliharaan ternak, dan masalah dalam pengelolaan bantuan. Juga bantuan ternak tidak sesuai kebutuhan: KPM berusia lanjut dan tinggal sebatang kara. Serta tekanan dari pihak lain yang memprovokasi agar bantuan dijual dengan tujuan memperoleh keuntungan.

Tantangan lainnya yang perlu diperhatikan adalah masalah lingkungan. Problema ini dipastikan muncul jika penerima program Gayatri tidak rajin membersihkan kandang ayam. Bau menyengat kotoran ayam akan menjadi masalah baru dalam hidup bertetangga. Kandang ayam di emperan rumah dan jarak rumah yang berhimpitan menjadi faktornya.

Perlu keakuratan data penerima KPM Gayatri. Data harus benar-benar sesuai kondisi masyarakat miskin. Data Damisda harus update. Bukan karena kepentingan politik kepala desa yang didasarkan “orangnya” atau “bukan orangnya”.

Data jangan tumpang tindih. Dasar pemakaian data KPM harus jelas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) atau Damisda. Apalagi sekarang ini pemerintah pusat secara resmi telah mengukuhkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN melalui Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2025. Pemerintah daerah harus kembali menyesuaikan data penyaluran bantuan sosial dan program pemberdayaan untuk masyarakat miskin di wilayahnya. DTSEN juga menjadi acuan tunggal bagi penyaluran bantuan sosial dan program-program pemberdayaan.

Ketidakakuratan data bisa menjadikan program tidak tepat sasaran. Target program meleset, dan berpotensi menimbulkan kerugian keuangan daerah.

Peluang

Program Gayatri bisa menciptakan dampak berantai. Mulai dari pengadaan pembuatan kandang, pakan dan vitamin hingga peluang usaha menampung dan memasarkan produksi ayam petelur.

Peluang tersebut bisa ditangkap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Perusahaan plat merah di tingkat desa ini bisa mengembangkan unit bisnisnya. Sebagai pemasok kebutuhan pakan ternak, misalnya. BUMDes bisa memanfaatkan hasil pertanian petani di masing-masing desa untuk diolah menjadi pakan ayam petelur.

Baca Juga :   Bangga Beternak Ayam Petelur, Cara Bojonegoro Bergerak Makmur

Peluang lainnya, BUMDes bisa menjadi penampung dan penyalur hasil produksi telur KPM di masing-masing desa. Sistemnya, dari sebagian produksi telur masing-masing KPM setiap harinya disisihkan oleh BUMDes untuk pengganti/pembelian pakan dan obat-obatan. Sedangkan sisanya bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar. Potensi pasar telur di Kabupaten Bojonegoro masih besar. 70 persen kebutuhan telur sekarang ini masih dipasok dari luar daerah.

KPM program Gayatri bisa mengolah kotoran ternak ayam menjadi pupuk organik. Kompos ini bisa diintegrasikan dengan program bantuan gratis bibit sayuran bagi keluarga miskin untuk menciptakan ketahanan pangan keluar, gizi seimbang dan peningkatan ekonomi . Setiap keluarga miskin mendapat bibit lombok, terong dan tomat. Pemakaian pupuk organik dari kotoran hewan ini bisa menghemat perawatan tanaman sayuran, ramah lingkungan dan sehat. Juga mengurangi dampak lingkungan akibat bau kotoran ayam petelur.

Program Gayatri juga bisa mendorong tumbuhnya industri pengolahan skala rumahan. Produksi telur yang dihasilkan dapat diolah menjadi tambahan bahan baku seperti pembuatan roti, makanan ringan dan produksi olahan lainnya yang bisa menambah penghasilan untuk meningkatkan ekonominya.

Usaha hilir dari program Gayatri ini bisa menjadi solusi ketika harga telur anjlok di pasaran, dan tidak sebanding dengan melonjaknya harga pakan.

Kalkulasi Ekonomi

Berapa sebenarnya pendapatan yang diperoleh KPM dari program Gayatri ini? Apakah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari? Mampukah mengurangi kemiskinan ?

Untuk mengetahuinya, mari kita berhitung. Setiap KPM mendapat 54 ekor ayam petelur. Jika semua ayam produksi-biasanya tingkat produksi hanya 75-80 persen- maka jumlah telur yang diperoleh KPM sebanyak 54 butir setiap harinya. Bila satu kilogram telur berisi 17 butir, maka setiap KPM mendapat 3 kilogram setiap harinya.

Dari 3 Kg produksi telur tersebut pendapatan yang diperolah KPM dari program Gayatri sebesar Rp 83.700 (jika 1 Kg telur seharga Rp 27.900). Itu Penghasilan kotor. Belum dikurangi biaya pakan dan obatan.

Untuk seekor ayam pada fase bertelur membutuhkan pakan sebanyak 100 gram setiap hari. Jika 54 ekor ayam, setiap KPM harus mengeluarkan 5,5 kg. Harga 1 Kg pakan sebesar Rp 7.000. Pengeluaran yang dikeluarkan untuk pakan Rp 38.500 setiap harinya. Ini belum termasuk biaya obat-obatan.

Artinya, pendapatan yang diperoleh KPM setiap harinya sebesar Rp 45.200. Jumlah ini dari hasil produksi telur Rp 83.700 (3 Kg) dikurang biaya pakan Rp 38.500 (5,5 Kg).

Penghasilan harian KPM sebesar Rp 45.200 dari program Gayatri ini jauh melampaui garis kemiskinan yang ditetapkan BPS. Penghasilan KPM per bulannya mencapai Rp 1.155.000. Sementara garis kemiskinan Bojonegoro yang ditetapkan BPS sebesar 471.457 per kapita per bulan (data Maret 2024).

Program Gayatri bukan menjadi sumber penghasilan utama. Hanya tambahan pendapatan bagi KPM. Mereka masih bisa bekerja atau beraktivitas lainnya.

Artinya, program Gayatri berpeluang besar mengatasi kemiskinan. Target Pemkab Bojonegoro menurunan kemiskinan sebesar 8,98% pada 2026 sangat mungkin tercapai. Begitu juga mimpi Bojonegoro menciptakan kamandirian ekonomi dari program Gayatri bisa terwujud.

Penulis adalah wartawan suarabanyuurip.com

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait