Musim kemarau bagi sebagian orang identik dengan tanah retak dan sawah yang mengering. Namun, bagi petani di Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, musim kering justru menjadi awal tumbuhnya harapan.
Di Desa Mlideg, hamparan sawah yang telah usai dipanen padi kini berubah warna. Ribuan batang tembakau berdiri tegak menghijau, menyambut teriknya matahari yang justru menjadi sahabat bagi tanaman tersebut.
Pagi itu embun telah lama menguap. Matahari mulai meninggi, membakar pematang sawah yang kehilangan sisa-sisa basah musim penghujan. Di tengah sengatan itu, Ahmah Jauhari masih tekun menyusuri barisan tanaman tembakaunya.
Tangannya yang telah akrab dengan tanah sejak usia muda memeriksa daun demi daun. Sesekali dia menyiram tanaman yang mulai kehausan. Bagi Ahmah, setiap helai daun bukan sekadar tanaman, melainkan titipan harapan yang akan dipanen beberapa pekan mendatang.
Desa Mlideg yang memiliki luas sekitar 1,11 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 2.393 jiwa dikenal sebagai salah satu sentra tembakau di Kedungadem. Hampir seluruh petani di sana memanfaatkan musim kemarau untuk menanam komoditas ini karena kebutuhan tembakau di Bojonegoro masih tinggi, sementara pasokannya belum mampu memenuhi.
”Tahun lalu harga rajangan kering bisa mencapai Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, tergantung kualitasnya,” tutur Ahmah kepada Suarabanyuurip.com di sela-sela merawat tanaman tembakaunya, Jumat (17/7/2026).

Pengalaman bertahun-tahun mengajarkan petani muda itu bahwa tembakau bukan tanaman yang bisa ditinggal begitu saja. Kesabaran dan ketelatenan menjadi kunci. Mulai dari penyiraman, pendangiran, hingga menggemburkan tanah harus dilakukan hampir setiap hari agar akar tetap bernapas dan mampu tumbuh optimal di bawah sengatan matahari.
Di lahannya kini tumbuh dua varietas tembakau lokal, yakni BT (Bako Anti Teler) dan tembakau Jawa. Sebagian tanaman berusia sekitar satu bulan, sementara lainnya telah memasuki umur dua bulan.
Seluruh perawatan dilakukan bersama sang istri. Bagi pasangan petani ini, ladang bukan sekadar tempat mencari nafkah, tetapi ruang di mana doa-doa dipanjatkan dalam diam. Setiap siraman air menjadi harapan agar daun berkembang lebar, batang tetap kokoh, dan cuaca bersahabat hingga musim panen tiba.
”Sekarang masih tahap perawatan. Disiram dan tanahnya didangir supaya tetap gembur,” ujarnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sambil menutup kepalanya dengan pakaian lusuh untuk berteduh, pria berkulit sawo matang ini menuturkan, di Kedungadem, musim tanam mengikuti irama alam. Dalam setahun, sebagian besar sawah mampu menghasilkan panen hingga tiga kali.
”Dua musim padi, ketika kemarau datang, giliran tembakau atau palawija mengisi hamparan sawah,” ucapnya.
Di antara berbagai pilihan tanaman musim kemarau, tembakau memiliki tempat tersendiri di hati petani. Meski memiliki risiko tinggi, tetapi ketika cuaca berpihak dan harga bersahabat, hasilnya mampu menjadi penopang ekonomi keluarga.
Kini, para petani hanya menunggu waktu. Menunggu daun-daun tembakau mencapai usia panen, berubah dari hijau menjadi kekuningan, lalu dipetik satu per satu untuk dijemur di bawah terik matahari Agustus.
Di balik setiap lembar daun tembakau tersimpan kisah tentang kesabaran, ketekunan, kerja keras, dan keyakinan bahwa rezeki akan datang kepada mereka yang terus merawat harapan. Bagi petani Kedungadem, musim kemarau bukan pertanda berakhirnya kehidupan sawah. Sebaliknya, di musim yang paling kering itulah harapan justru tumbuh paling hijau.(Arifin Jauhari)





