Keris Peninggalan Padjajaran hingga Cirebon Dipamerkan di Museum Rajekwesi Bojonegoro

Pameran keris.
Pameran Pusaka dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro ke 348 di Museum Rajekwesi Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Ratusan pusaka dipamerkan di Museum Rajekwesi di Jalan Pahlawan Bojonegoro, Jawa Timur. Pameran pusaka tersebut digelar Paguyuban Ajining Gegaman Nagari Indonesia (Agni) untuk memeriahkan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 tahun 2025 ini.

Sekretaris Paguyuban Agni Bojonegoro, Bayu Aji Sukarno mengatakan, gelaran pameran pusaka ini selain memeriahkan hari jadi, juga dalam rangka pembukaan Museum Rajekwesi di Bojonegoro.

“Gelaran pameran ini merupakan tahun kedua, yang sebelumnya digelar di Hotel Resto Griya MCM, Kecamatan Bojonegoro Kota, tepat di HJB ke-347 tahun 2023 lalu,” katanya, Rabu (22/10/2025).

Dia menjelaskan, pusaka yang dipamerkan rata-rata adalah pusaka keris dari kerajaan masa silam. Misalnya keris era Kerajaan Singosari, Majapahit hingga kerajaan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jumlah keris yang dipamerkan hingga ratusan.

“Keris peninggalan Padjajaran hingga Cirebon juga dipamerkan di Museum Rajekwesi ini. Tercatat sekitar 30 paguyuban yang ikut pameran, dan kebanyakan dari luar Bojonegoro,” ujarnya.

Menurut Bayu, pameran pusaka ini sudah digelar sejak Senin kemarin, dan bakal berakhir pada hari ini tepat pukul 21.00 malam. Sejak awal dipamerkan memang sudah banyak pengunjung yang ramai datang di museum Rajekwesi ini.

Baca Juga :   Mudik Medhayoh Bojonegoro, Wisata Geopark Kayangan Api Menjadi Pilihan Ratusan Pengunjung

“Yakni selain melihat pusaka, para pengunjung juga melihat fosil bersejarah yang ditemukan di Bojonegoro. Misalnya koleksi benda pra sejarah dari laut purba hingga warisan budaya Bojonegoro,” jelasnya.

Kasi Budaya Disbudpar Bojonegoro, Damiati menyampaikan, setelah pembukaan resmi, Museum Rajekwesi dibuka untuk umum setiap Senin hingga Jumat, pukul 08.00–16.00 WIB. Dan sementara ini, masih gratis.

“Khusus untuk opening ini buka sampai malam nanti,” ungkap Damiati.

Menurut Damiati, museum ini menjadi sarana edukatif bagi siswa untuk menambah pengetahuan masa silam Bojonegoro. Ia juga mengajak masyarakat yang menemukan benda bersejarah seperti fosil atau stupa agar menitipkannya ke museum agar bisa dilihat publik.

“Sebab, dulu Bojonegoro termasuk lautan dangkal. Sehingga banyak hewan laut yang terdampar pada jutaan tahun lalu, dan menjadi sumber minyak karena banyak fosil tersebut,” jelasnya.(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait