Merawat Energi Hijau Melalui Sekolah Energi Berdikari

Sekolah energi berdikari.
Siswa SMPN 1 Ngasem sedang merawat tanaman di hutan sekolah.

Pertamina EP Cepu telah menggulirkan program sekolah energi berdikari. Program ini dirancang bukan sekadar mengurangi emisi karbon, tapi juga menumbuhkan kesadaran kemandirian dan melestarikan lingkungan di kalangan pelajar.

Beberapa siswa berseragam sekolah terlihat sedang sibuk membuat lubang di lahan seluas 5.000 meter persegi. Lubang yang dibuat berukuran tidak terlalu besar. Kedalamannya kurang dari setengah meter.

Setelah lubang siap, bibit pohon trembesi setinggi sekitar satu meter dipersiapkan. Plastik yang membungkus akar pohon dilepas. Bibit pohon kemudian dimasukan ke dalam lubang. Satu siswa memegang batang bibit trembesi, siswa lainnya memasukan tanah galian. Tanah itu kemudian ditumbuk menggunakan tangan agar padat. Air dalam bak plastik yang sudah dipersiapkan sebelumnya disiramkan berlahan ke pohon trembesi.

“Ini untuk menyulami pohon yang mati,” ucap Muhammad Nasril Fahrudi, salah satu siswa.

Di lahan seluas 5.000 meter itu terdapat ribuan vegetasi pohon tertanam. Lokasinya persis di samping SMPN 1 Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Berbagai jenis pohon, mulai dari pohon peneduh seperti trembesi, kelor, buah-buahan hingga tanaman rempah-rempah tertanam di hutan sekolah tersebut.

Aneka pohon tersebut tumbuh subur. Tingginya sudah lebih dari dua meter. Daunya terlihat rimbun.

“Dulu lahan ini gersang. Tidak terawat, dipenuhi semak belukar,” ungkap siswa kelas VIII itu kepada suarabanyuurip.com, Jumat (31/10/2025).

Namun, sejak 2023, lahan seluas seperempat hektar itu mulai diolah. Dimanfaatkan sebagai hutan sekolah. Ditanami aneka pohon. Pohon-pohon dirawat dengan baik oleh para siswa.

Melestarikan lingkungan dengan merawat pohon di SMPN 1 Ngasem merupakan kewajiban bagi Green Warrior, sebutan untuk pegiat Adiwiyata. Mereka setiap hari Sabtu menyiram pohon agar tumbuh dengan baik. Cara ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi siswa lainnya untuk merawat vegetasi di hutan sekolah. Agar cita-cita pengurangan emisi karbon bisa tercapai.

“Hari Sabtu bagi siswa SMPN 1 Ngasem merupakan kepedulian terhadap lingkungan,” tegas Nasril yang juga Ketua Green Warrior.

Selain merawat hutan sekolah, ia bersama anggota Green Warrior lainnya melakukan sosialisasi dan edukasi terkait tanam pohon penting untuk kehidupan. Manfaat lainnya bisa membuat sekolah lebih bersih, asri hingga nyaman ketika digunakan untuk proses pembelajaran.

Baca Juga :   104 Media Ikuti Gathering Pertamina Regional Indonesia Timur di Makassar

“Di hutan sekolah juga ada embung, luasnya sekitar 18 meter persegi. Nantinya embung ini akan ditanami ikan tombro dan nila,” kata Rudi sapaan akrabnya.

Sekolah energi berdikari.
Embung yang berada di hutan sekolah SMPN 1 Ngasem siap ditebar benih ikan Nila.

Dia berharap usai lulus dari SMPN 1 Ngasem, hutan sekolah bisa dilanjutkan generasi berikutnya. Tentunya para siswa tergabung di Green Warrior punya tanggung jawab untuk merawat vegetasi di hutan sekolah hingga besar.

“Itu harapan besar saya, hutan sekolah bisa terus bertumbuh hingga bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.

Mengurangi Emisi Karbon

Sebelum muncul gagasan hutan sekolah, PT Pertamina EP Cepu (PEPC), bagian dari Subholding Upstream Pertamina Regional Indonesia Timur dan Ademos sebagai mitra pendamping menggelar pelatihan emisi karbon, yakni melalui program sekolah energi berdikari (SEB) pada 2022 lalu. Dalam program tersebut tercetus hutan sekolah yang direncanakan mengurangi emisi karbon 800 kilogram (kg) per tahun.

Sekolah energi berdikari.
Kepala SMPN 1 Ngasem, Endro S.W didampingi Green Warrior.

Penanaman pohon untuk membuat hutan sekolah, baru dimulai 2023 kemarin. Total sekitar 5.000 vegetasi sudah ditanam para siswa tergabung di relawan Adiwiyata yang disebut Green Warrior, antara lain pohon peneduh dan vegetasi lainnya seperti rempah serta pohon berbuah.

“Rata-rata pohon vegetasi sudah tumbuh dengan baik, meski sebagian ada yang mati. Namun sebagian pohon seperti jambu sudah tumbuh hingga satu meter,” sambung Kepala SMPN 1 Ngasem, Endro S.W.

Pihaknya menyampaikan, gagasan pengurangan emisi karbon dari hasil pelatihan PEPC cukup bagus, terlebih para siswa bisa langsung mempraktikkan di lapangan. Yakni mulai menanam, merawat hingga membersihkan hutan sekolah.

“Artinya mereka belajar emisi karbon bukan hanya teori, melainkan langsung ikut membantu mengurangi terutama di lingkungan sekolah,” jelasnya.

Sehingga dari hasil ilmu yang dipelajari, siswa bisa memahami mengurangi emisi karbon dimulai dari sekolah. Kemudian juga mengedukasi siswa lainnya untuk terus menanam, bukan hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan rumah.

Tenaga Surya Penyelamat Energi Sekolah

Selain hutan sekolah, SMPN 1 Ngasem juga memiliki panel surya. Tercatat sebanyak tujuh ruang kelas serta satu laboratorium menggunakan energi surya. Sehingga dari panel surya tersebut bisa mengurangi sekitar 5.500 kWh energi listrik di SMPN 1 Ngasem.

Baca Juga :   Pertamina EP Cepu Dorong Kemandirian Pemuda Desa Ring 1 Lapangan Gas JTB

“Adanya panel surya dari PEPC bisa menjadi penyelamat energi sekolah. Artinya sekolah bisa mengurangi biaya listrik dalam sebulannya,” kata Guru Pendamping Program SEB, Ebta Heri.

Sekolah energi berdikari.
Guru SMPN 1 Ngasem saat menunjukan instalasi listrik tenaga surya.

Dia menjelaskan, hutan sekolah serta panel surya, berdasar perhitungan Pertamina bisa mengurangi emisi karbon sekitar 3,8 ton per tahun. Namun pengurangan emisi karbon bisa terjadi, apabila vegetasi di hutan sekolah sudah bertumbuh besar dan lebat.

“Penel surya yang mengontrol juga siswa Green Warrior, yakni melakukan pengecekan persentase penggunaannya,” kata Ebta yang juga menjabat sebagai Waka Bidang Kesiswaan SMPN 1 Ngasem itu.

Para siswa di sekolah kawasan lapangan unitisasi gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) ittu juga aktif mengolah sampah menjadi pupuk organik, membuat lubang biopori, dan memanfaatkan air hujan sebagai resapan alami. Tujuannya untuk mengurangi potensi kekeringan di lingkungan sekolah, terutama saat musim kemarau.

“Kami melibatkan siswa dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, dimulai dari sekolah. Apalagi, SMPN 1 Ngasem saat ini menuju predikat Sekolah Adiwiyata Nasional 2025, langkah awalnya mengenalkan siswa di pengurangan emisi karbon,” ujarnya.

Membangun Generasi Muda melalui Sekolah Energi Berdikari

Sementara itu, Manager Communication Relation & CID PEPC Regional Indonesia Timur, Rahmat Drajat, mengatakan, pendidikan merupakan fondasi utama untuk membangun masa depan demi kemandirian bangsa.

“PEPC percaya bahwa investasi terbaik adalah pada sumber daya manusia, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa,” ujarnya.

Sekolah energi berdikari.
Hutan sekolah SMPN 1 Ngasem yang ditanami ribuan pohon. Hutan sekolah ini merupakan bagian sekolah energi berdikari yang dilaksanakan Pertamina EP Cepu, operator lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB).(foto-foto/joko kuncoro)

Program ini sebagai wujud nyata komitmen PEPC menanamkan nilai-nilai kewirausahaan, kepedulian lingkungan, dan kemandirian energi sejak dini. Melalui SEB, konsep energi terbarukan dikenalkan untuk praktik konservasi lingkungan serta strategi berwirausaha kreatif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Siswa dibekali teori dan praktik langsung, seperti pembuatan lubang biopori, vertical garden serta pelatihan keterampilan usaha,” jelas Rahmat.

Ia menambahkan, program ini bertujuan menciptakan model sekolah energi yang dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Dimana siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran akan kemandirian dan kelestarian lingkungan.

“Keberhasilan SEB adalah bukti sinergi kuat antara perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kami akan memprioritaskan kontribusi pada pengembangan masyarakat, khususnya di sektor pendidikan untuk masa depan Bojonegoro,” tandasnya.(joko kuncoro)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait