SuaraBanyuurip.com – Guna sinergi energi dan aspirasi rakyat, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi, Satya Hangga Yudha Widya Putra, bertemu dengan Daud “Cino” Yordan, Anggota DPD-RI perwakilan Kalimantan Barat (Kalbar) di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Rabu (05/11/2025).
Dalam pertemuan dengan Daud Yordan, yang juga Juara Tinju Dunia IBA (World) Super Lightweight Champion di ruang kerjanya Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 18, Jakarta tersebut membahas mengenai potensi ESDM di Kalbar, Konflik Sosial Smelter di Kalbar, tantangan distribusi LPG dan BBM, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) Harita Group di Kalbar.
Fokus utama yang dibawa Daud Yordan adalah permasalahan distribusi dan akses energi bersubsidi. Daud menanyakan mengenai Liquefied petroleum gas (LPG). Bentuk kebijakannya terhadap kemasyarakatan itu seperti apa?, yang kemudian memaparkan kondisi geografis Kalbar.
”Kalbar itu kan penduduknya terbanyak di Kalimantan, dan luas wilayahnya satu setengah kali lebih dari Pulau Bali. Masyarakat memiliki permasalahan untuk mengakses LPG yang lokasinya sangat jauh, dan tentunya harganya menjadi lebih mahal dari yang sudah ditentukan. Bagaimana kita bisa mendapatkan solusi dari hal ini?,” tanya Daud membuka diskusi.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Satya Hangga Yudha Widya Putra, menjelaskan detail perihal distribusi LPG beserta kebijakan energi nasional. Mas Hangga, sapaan akrabnya, mengakui bahwa memang belakangan ini banyak sekali berita yang beredar di media, baik itu mengenai kelangkaan LPG, LPG oplosan, BBM tidak tepat sasaran, hingga kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta.
Hangga menyoroti besarnya beban subsidi energi di mana untuk subsidi LPG saja Indonesia sudah memakan biaya sebesar Rp87,6 triliun. Kemudian masalah jarak tempuh distribusi di wilayah yang luas seperti Kalbar sangat memengaruhi harga. Ia menjelaskan sistem distribusi, Pertamina Patra Niaga bertanggung jawab terhadap ketersediaan dan pendistribusian stok.
”Sementara alokasi volume diberikan oleh BPH Migas dan diawasi oleh dinas pelaksana di lapangan,” kata Hangga dalam keterangan tertulis diterima Suarabanyuurip.com, Rabu (05/11/2025) malam.
Dalam sektor mineral, Hangga menjelaskan, bahwa Kalbar sendiri kaya dengan berbagai hasil tambang, baik itu bauksit, batu bara, maupun emas. Hal ini mendorong pembangunan infrastruktur industri pengolahan dan dapat mensukseskan program hilirisasi.
”Untuk sumber energi, selain batu bara, tersedia juga tenaga air, biomassa, biogas, dan energi nuklir untuk masa depan,” ujarnya.
Daud Yordan juga menanggapi rencana pembangunan smelter Harita Group di Kalbar. Ia menyoroti tantangan yang pasti akan muncul, yaitu konflik sosial.
”Kalbar sendiri akan dibangun smelter oleh Harita Group. Nah, ini pasti akan memunculkan konflik. Konflik sosial itu nanti macam masyarakat itu, kalau enggak katanya dibangun di tempat yang jauh. Masyarakat kecil ini kan tidak tahu juga. Jadi, kalau ngomong ke kita, ini kita bisa tampung, tapi harus kita bawa ke mana,” ujar Daud Yordan.
Ia melanjutkan, informasi dari Kementerian ESDM mengenai wilayah tanah yang dibutuhkan keterangannya sangat penting. Ini akan memungkinkan anggota DPD-RI untuk tidak menghalang-halangi proyek pembangunan nasional, namun juga dapat mensukseskan proyek sekaligus meredam konflik masyarakat yang datang dari ketidakpastian.
”Sinergi ini diperlukan agar dia dapat menjadi jembatan informasi yang akurat dari Kementerian ESDM kepada masyarakat Kalbar,” imbuhnya.
Daud Yordan menutup sesi tersebut dengan apresiasi, dan menegaskan nilai dari sinergi ini.
”Ini hal yang seru. Selain kita dapat teman sahabat baru, kita juga dapat informasi serta wawasan baru. Kami beruntung bisa jadi sahabat Hangga dan dapat belajar. Memimpin negara besar ini susah, negaranya luas, mengurus satu Indonesia itu tidak mudah,” tandasnya.(red)
Sinergi Energi dan Aspirasi Rakyat, Satya Hangga dan Daud Yordan Bahas Tantangan Distribusi BBM





