SuaraBanyuurip.com – Tenaga Ahli Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi (Migas), Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc memberikan sorotan khusus pada urgensi KazanForum 2026 sebagai instrumen vital dalam diplomasi energi nasional.
KazanForum, atau Forum Ekonomi Internasional, “Rusia – Dunia Islam,” merupakan platform tahunan yang dirancang untuk memperkuat hubungan dan kerja sama antara Rusia dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Di tengah pergeseran geopolitik global, forum ini menjadi ruang bagi Mas Hangga, sapaan akrabnya, untuk menyelaraskan kepentingan Indonesia dalam mengamankan rantai pasok energi dan investasi melalui dialog strategis ini di kawasan Eurasia.
Dalam forum tersebut, Hangga, secara proaktif menavigasi ketidakpastian geopolitik yang membayangi stabilitas energi nasional, terutama terkait ancaman di Selat Hormuz dan konflik Timur Tengah yang sempat mendorong harga minyak dunia melampaui 100 dolar per barel.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Suarabanyuurip.com, Kamis (14/05/2026), melalui KazanForum 2026, Hangga memastikan ketersediaan stok energi nasional tetap terjaga dengan memperkuat kolaborasi bersama mitra-mitra kunci seperti Rusia guna menjamin stabilitas suplai jangka panjang yang solid dan berkelanjutan bagi pasar domestik.
”Langkah diplomasi ini merupakan perwujudan nyata dari program Asta Cita kedua yang dicanangkan pemerintah untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara melalui kemandirian energi,” ujarnya.
Mas Hangga menekankan, bahwa sinkronisasi regulasi investasi yang dibahas dalam forum ini menjadi kunci utama menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2028-2029. Hal tersebut diperkuat oleh capaian gemilang tahun 2025.
”Di mana realisasi lifting minyak bumi nasional mencapai 605.300 BOPD, sebuah keberhasilan melampaui target APBN yang pertama kali terjadi sejak tahun 2016,” kata Mas Hangga.
Guna mengatasi kesenjangan konsumsi minyak nasional sebesar 1,6 MBOPD dan kebutuhan impor yang mencapai 1 MBOPD, Hangga memanfaatkan momentum KazanForum untuk mengakselerasi agenda hilirisasi sesuai mandat Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025.
Melalui Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Menteri ESDM mengawal pengembangan 26 komoditas strategis, termasuk transformasi sektor migas dari hulu ke hilir.
”Fokus utamanya mencakup percepatan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban yang berkapasitas 300.000 barel per hari, serta pengamanan Rusia sebagai pemasok energi kunci untuk memitigasi guncangan harga dunia,” ucapnya.
Hangga menjelaskan tiga pilar utama dalam menjalin rangkaian kerja sama ini yaitu, manajemen hidrokarbon dengan teknologi kilang efisiensi tinggi, pembangunan ekosistem smelter untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik, serta akselerasi transisi energi hijau.
Selain itu, lanjut Hangga, kolaborasi ini juga menyentuh sektor maritim dan teknologi laut untuk menekan angka impor LPG nasional yang mencapai 6,91 juta MT.
”Dengan memperkuat Domestic Market Obligation (DMO) dan memperluas jaringan distribusi gas-to-power, saya optimis Indonesia mampu mewujudkan kedaulatan energi yang tangguh demi kesejahteraan seluruh masyarakat,” pungkasnya.(red)





