SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas), Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memiliki hak Dana Bagi Hasil (DBH). DBH Migas berkontribusi tinggi dalam sisi pendapatan daerah. Terkait hal ini, sejumlah pihak menilai DBH Migas perlu didorong untuk mendukung transisi energi bersih dan keadilan distribusi sumber daya antargenerasi.
Dalam konteks Bojonegoro, beberapa pihak menganggap hal itu sangat penting untuk jadi perbincangan khalayak. Sebab Sebagai salah satu daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar seperempat produksi nasional Bojonegoro memiliki peran penting dalam upaya pengurangan emisi karbon.
Direktur Bojonegoro Institute, AW. Syaiful Huda, mengatakan, bahwa transisi energi bersih bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal keadilan sosial dan ekologis. Menurutnya, Bojonegoro memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi pada pengurangan emisi dan penguatan energi terbarukan yang berpihak pada masyarakat.
“Transisi energi harus dimulai dari daerah. Bojonegoro bisa menjadi contoh bagaimana sumber daya alam dikelola bukan hanya untuk ekonomi, tetapi juga untuk keberlanjutan hidup generasi mendatang,” kata AW kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (19/11/2025).

Terpisah, Wakil Pimpinan/Deputy Head of Katadata Green Jakarta, Jeany Hartrianti, mengemukakan pentingnya membangun kolaborasi antara masyarakat sipil, pemerintah daerah, akademisi, jurnalis, serta berbagai kelompok masyarakat sipil dalam mengusung dan mempercepat Transisi Energi Bersih.
Oleh sebab itu, kata Jeany, begitu ia disapa, butuh komunikasi dan kampanye yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis iklim dan energi terbarukan di tingkat lokal.
”Masyarakat bisa berkampanye dengan bermacam cara. Baik itu lewat media sosial, maupun perbincangan sehari-hari. Sebab, krisis iklim itu isu kehidupan sehari-hari,” tutur Jeany.

Senada dengan Jeany, ahli kebijakan Transisi Energi dari Yayasan Indonesia Cerah, Naomi Devi Larasati menyatakan, bahwa isu transisi energi memang belum begitu populer sebagai isu penting di daerah. Namun, karena berdampak langsung dengan kehidupan masyarakat, sudah sepatutnya masyarakat memahami dan memperbincangkan isu Transisi Energi. Terlebih, Bojonegoro merupakan salah satu wilayah penghasil Migas terbesar di Indonesia.
”Sebagai wilayah penghasil Migas, Bojonegoro punya hak yang amat kuat untuk menjadi contoh wilayah yang sadar akan pentingnya Transisi Energi,” bebernya.
Naomi menjelaskan, meski terkesan elitis, Transisi Energi adalah keadaan yang bakal dirasakan banyak orang. Bahkan, menjadi hal penting yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, perubahan iklim dan transisi energi harus bisa dipahami dan dimengerti semua golongan masyarakat.
”Karena itu, Transisi Energi harus berkeadilan dan No One Left Behind (Jangan Ada Seorang Pun yang Tertinggal,red.),” tandasnya.(fin)


