Mengapa Investor Enggan Investasi di Bojonegoro, Begini Penjelasan Kadin

Investasi Bojonegoro.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bojonegoro, Gatot Rianto Eko Prabowo (pegang mic). (Foto: tangkap layar kanal Youtube Dewan Jegrank)

SuaraBanyuurip.com – Meski memiliki sumber migas melimpah, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, hingga sekarang ini belum menjadi pilihan perusahaan-perusahaan besar sebagai tempat berinvestasi. Para investor besar lebih memilih membangun usahanya di Kabupaten Nganjuk dan Ngawi.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bojonegoro, Gatot Rianto Eko Prabowo mengatakan, pertumbuhan industri di Kabupaten Nganjuk dan Ngawi sekarang ini berkembang pesat. Kedua kabupaten tersebut menjadi bidikan investor besar untuk mengembangkan usahanya. Padahal kedua daerah itu tidak memiliki sumber migas melimpah seperti Bojonegoro.

“Ini terjadi karena Nganjuk dan Ngawi sudah memiliki kawasan industri. Di Nganjuk itu namanya KING, kawasan industri Nganjuk. Begitu juga Ngawi, sedang getol-getolnya menawarkan kawasan industrinya kepada investor,” kata Gatot dikutip dari kanal youtube Dewan Jegrank saat menjadi narasumber Ngaji bertema “Trauma& Calon Investor: Mitos atau Realitas, Jumat (28/11/2025).

Selain sudah ada kawasan industri, menurut Gatot, kedua kabupaten tersebut memiliki keunggulan dilewati jalan tol. Sehingga memudahkan untuk pengangkutan dan distribusi logistik.

“Tapi sebenarnya, jika dibanding dengan Bojonegoro, secara geografis, Ngawi dan Nganjuk kalah. Karena Bojonegoro memiliki sumber energi melimpah,” tuturnya.

Baca Juga :   Pembangunan Pabrik Bioetanol Rp 22,8 Triliun di Kawasan Hutan Bojonegoro, Ademos-Akademisi IAI Al Fatimah Beda Pandangan

Sumber energi yang dimaksud adalah produksi minyak lapangan Banyu Urip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, dan produksi gas lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB). Gatot berpendapat, keunggulan tersebut seharusnya bisa ditawarkan kepada investor agar mau berinvestasi di Bojonegoro.

“Pemkab harus berani membentuk sebuah tim investasi. Tim ini bisa terdiri dari orang-orang profesional dari berbagai unsur yang menguasai masalah ini. Tim bertugas membuat kajian, mempersiapkan dan membuat masterplan kawasan industri, hingga menjual potensi Bojonegoro kepada investor,” sarannya.

Gatot mencontohkan, pembangunan pabrik pakan ternak yang sekarang berdiri di kawasan industri Nganjuk. Padahal di kabupaten tersebut tidak ada peternakan besar yang menyerap hasil produksi pakan. Sementara di Kabupaten Bojonegoro setiap harinya butuh puluhan ribu ton pakan ayam petelur dengan adanya program gerakan ayam petelur mandiri (Gayatri).

“Nah, peluang-peluang seperti ini yang seharusnya ditawarkan kepada investor. Karena Bojonegoro sudah jelas bisa menjadi pasar produksi pakan,” pungkasnya.

Menanggapi itu, Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bojonegoro Joko Tri Cahyono menjelaskan, investasi di Bojonegoro sekarang ini didominasi oleh sektor UMKM. Dari target investasi sebesar Rp3,2 triliun pada 2025 ini, telah terealisasi Rp 3,9 triliun.

Baca Juga :   Ancam Kemerdekaan Pers, Dewan Pers dan Komunitas Pers Tolak Draf RUU Penyiaran

“Itu data per November 2025 ini,” tegas Joko.

Menurut Joko, untuk menarik investor besar agar berinvestasi di Bojonegoro diperlukan sebuah wadah lebih dulu, yakni membangun kawasan industri. Hal ini seperti yang telah lebih dulu dilakukan oleh Kabupaten Nganjuk dan Ngawi.

Namun begitu, lanjut Joko, Bojonegoro telah memiliki Perda Nomor 3/2025 tentang Penanaman Modal yang didalamnya mengatur pemberian insentif dan kemudahan perizinan untuk investor. Regulasi tersebut bertujuan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di Bojonegoro.

“Sedangkan untuk raperda Kawasan Industri Bojonegoro akan dibahas lagi tahun 2026. Pembahasan perda ini membutuhkan waktu panjang karena harus lebih dulu membuat perda rencana detail tata ruang wilayah dan mendapat persetujuan dari Gubernur,” jelasnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait