SuaraBanyuurip.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur memasang target investasi sebesar Rp 3,6 triliun pada 2026. Hingga kuartal I realisasi investasi di kabupaten penggasil migas terbesar di Indonesia-sebutan lain Bojonegoro- telah mencapai Rp 1,54 triliun, dengan serapan kerja sebanyak 12.714 orang yang tersebar di 23 sektor usaha.
Pejabat Penata Kelola Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bojonegoro, Erni Wahyuni menjelaskan, investasi Bojonegoro dibagi dua kategori. Penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA).
“Dari dua itu, realisasi PMDN lebih tinggi,” kata Erni kepada suarabanyuurip.com, Rabu (13/5/2026).
Realisasi PMDN hingga kuartal I 2026 mencapai Rp 1,53 triliun dengan total tenaga kerja yang terserap sebanyak 12.674 orang. Investasi ini terbesar disumbang dari sektor jasa lainnya sebesar Rp 506,1 miliar dari 579 proyek dengan serapan tenaga kerja mencapai 1.535 orang.
Di susul investasi di sektor perdagangan dan reparasi sebesar Rp 304 miliar dari 2.204 proyek dengan serapan tenaga kerja sebanyak 3.917 orang. Kemudian sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan mencapai Rp 127,1 miliar dari 173 proyek dengan serapan tenaga kerja sebanyak 612 orang.
Selain itu juga sektor konstruksi sebesar Rp 125,3 miliar. Jumlah ini dari 893 proyek dengan serapan tenaga kerja sebanyak 1.775 orang.
“PMDN sektor lain penyumbang investasi cukup besar adalah industri kimia dan faramasi, serta industri makanan. Masing-masing mencapai Rp 121,2 miliar dan Rp 101,8 miliar,” terang Erni.
Sedangkan realiasi investasi PMA hingga kuarta I 2026 mencapai Rp 10,7 miliar. Terbesar dari industri barang dari kukit dan alas kaki sebesar Rp 10,6 miliar. Lainnya dari sektor perdagangan dan reparasi Rp 147,3 juta, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp 30,1 juta.
“Total tenaga kerja yang terserap dari sektor PMA ini mencapai 5.895 orang,” ucap Erni.
Sedangkan investasi PMDN di sektor pertambangan Bojonegoro sekarang ini mengalami penurunan signifikan yakni hanya sebesar Rp 53,6 miliar dengan serapan tenaga kerja 24 orang.
“Ini terjadi karena di Bojonegoro sekarang ini proyek pertambangan seperti di lapangan Banyu Urip maupun gas JTB tidak sebesar awal-awal dulu,” pungkas Erni.
Sebagai informasi, target investasi Bojonegoro tahun 2026 sebesar Rp 3,6 triliun ini naik tipis dibanding 2025 lalu sebesar Rp 3,2 triliun. Realisasi investasi Bojonegoro tahun lalu mencapai Rp 3,9 triliun atau melampaui target.
Ketua DPC K-Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Bojonegoro, Amrozy menilai, realiasasi investasi selama ini belum berdampak terhadap pengurangan pengangguran dan kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) di Bojonegoro.
“Artinya capaian itu belum berbanding lurus. Meskipun investasi melampaui target, tapi serapan kerja minim, dan UMK kita masih sama dengan Trenggalek. Padahal di sini memiliki sumber migas melimpah,” ungkapnya saat menjadi narasumber di Podcast Dewan Jegrank bertajuk “Trauma& Calon Investor: Mitos atau Realitas”.(red)





