SuaraBanyuurip.com – Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten, Cantika Wahono menghadiri Festival Banyu Urip, Jumat (28/11/2025) malam, di lapangan Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Bupati Wahono melaunching logo Medhayoh Bojonegoro.
Launching logo Medhayoh Bojonegoro digelaran Festival Banyu Urip 2025, juga dihadiri jajaran Muspida Bojonegoro; Vice Preaident Public & Government Affairs ExxonMobil, Dave A. Seta; Arife perwakilan Pertamina EP Cepu (PEPC); Ketua Komisi Informasi Jatim Nur Aminudin; dan Sekretaris Daerah (Sekda) Edy Susanto bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Selain itu, M Kundori, Direktur Utama PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) dan beberapa direktur utama BUMD Bojonegoro, Muspika dan 12 kepala desa wilayah Gayam.
Vice Preaident Public & Government Affairs ExxonMobil, Dave A. Seta mengatakan, Festival Banyu Urip telah diselenggaran sejak 2015 bersamaan produksi puncak lapangan Banyu Uri.
“Festival Banyu Urip telah menjadi ruang kreatifitas bagi masyarakat lokal,” tegasnya.
Deva mengungkapkan, lapangan Banyu Urip telah menyumbang 25 persen produksi minyak Nasional, dan memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara sebesar Rp 580 triliun hingga 2024. Juga kepada Kabupaten Bojonegoro melalui dana bagi hasil (DBH) Migas, untuk mendorong pembangunan daerah.
“Keberhasilan lapangan Banyu Urip, Blok Cepu ini tidak lepas dari dukungan SKK Migas, pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Sehingga operasi yang dijalankan berjalan aman, andal dan efisien,” tegasnya.
Dave berharap Festival Banyu Urip bisa memperkuat sinergi dan menjadi ruang kreatifitas bagi masyarakat lokal untuk tumbuh berkembang dan maju sesuai tagline Bojonegoro: Bahagia, Makmur dan Membanggakan.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono mengucapkan terima kasih kepada ExxonMobil, Pertamina EP Cepu, dan semua pihak yang sudah berkolaborasi menyelenggarakan Festival Banyu Urip.
“Festival seperti ini bukan hanya hiburan, tapi bisa menghidupkan UMKM,” tegasnya.
Bupati asli Bojonegoro dari Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, ini menegaskan, Festival Banyu Urip sejalan dengan tujuan Medhayoh yang logonya dilaunching malam ini. Karena kegiatan seperti ini bisa mendatangkan masyarakat dari luar daerah untuk medhayoh (bertamu) ke Bojonegoro.
“Medhayoh ini budaya Jawa yang artinya datang bertamu. Sehingga jika ada orang luar daerah yang medhayoh harus kita sambut dengan keramahan, kehangatan, dan disuguhi. Jadi sebagai tuan rumah kita harus pandai-pandai membuat tamu itu betah atau krasan dengan suguhan yang disajikan,” tutur Bupati Wahono.
Usai launching Logo Medhayoh, ratusan pengunjung yang memadati lokasi Festival Banyu Urip dihibur dengan penampilan penyanyi dan penulis lagu ternama Masdho.
Penyanyi bernama lengkap Ahmad Ridho ini membawakan beberapa lagu hits diantaranya Nganggur, Bubar, Kisinan, Nemu, Satru, Kalih Welasku dan Samar.
Penampilan Masdho dengan genre pop klasik kekinian mampu menjadikan suasana yang dingin menjadi hangat. Penonton yang mayoritas milenial itu terlihat asyik berjoget ria.
Setelah penampilan DJ Nok Yoke dan Masdho malam ini, Festival Banyu Urip juga akan menyuguhkan pertunjukan ketoprak budaya lokal dengan lakon”Minak Jinggo Nagih Janji-Damar Wulan Wisido” menghadirkan bintang tamu Yudho dan Lala Atila di Lapangan Desa Bonorejo pada Sabtu (29/11/2025) malam.
Perhelatan Festival Banyu Urip 2025 mengusung tema “Nyawiji: Nyambung Rasa, Ngangkat Wisata, Njaga Energi”. Kegiatan akan berlangsung selama tiga hari, Jumat-Minggu (28-30/11/2025). Rangkaian kegiatan diantaranya lomba mewarnai tingkat TK, sarasehan budaya di tempat wisata Perahu Kunu Desa Ngraho, sarasehan pemuda, dan ditutup fun run Gayam 5K dan launching Zona Interkatif di Lapangan Desa Gayam pada Minggu (30/11/2025).
Ketua Panitia Festival Banyu Urip 2025, Agus Hafidh menambahkan, festival ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Jadi ke 13 Kecamatan Gayam dan Hari Jadi ke 348 Bojonegoro.
“Tujuannya memperkenalkan potensi dan produk UMKM lokal, serta mengampanyekan edukasi, gaya hidup sehat, dan pelestarian kesenian dan budaya lokal,” pungkas Agus.(red)





