SuaraBanyuurip.com – Mayoritas masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur, bekerja sebagai petani. Namun, kesejahteraan petani di kabupaten penghasil migas ini sulit ditingkatkan jika hanya mengandalkan intensifikasi sektor pertanian.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, Yuseriza mengatakan, kemiskinan Bojonegoro pada tahun 2025 ini masih 11,49 persen atau turun 0,2 persen dari 11,69 persen pada 2024.
Menurut Riza, panggilan akrabnya, percepatan pengurangan kemiskinan Bojonegoro bukan pada intensifikasi pertanian. Karena mayoritas petani Bojonegoro hanya memiliki lahan seluas 0,03 hektar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas petani Bojonegoro adalah petani gurem, yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar. Data hasil pencacahan lengkap sensus pertanian 2023 tahap 2, dari 263.378 petani Bojonegoro, sebanyak 75,85 persen atau 191.866 petani gurem.
“Artinya, dengan lahan seluas itu dikasih pupuk model apapun produktifitasnya tidak akan meningkat, pendapatan mereka juga tidak akan naik,” tegasnya saat menjadi narasumber Ngaji bertema “Trauma& Calon Investor: Mitos atau Realitas, di kanal youtube Dewan Jegrank belum lama ini.
Untuk menjawab tantangan itu, lanjut Riza, diperlukan adanya industri yang masuk ke sektor pertanian. Sehingga akan memunculkan diversifikasi ekonomi, dan masyarakat tidak hanya bergantung di sektor pertanian.
“Harus ada hilirisasi pertanian, agar bisa memberikan tambahan pendapatan,” tandasnya.
Riza mengungkapkan, Bojonegoro memiliki banyak potensi dibanding daerah lain yang bisa menjadi daya tarik investor untuk mengembangkan usahanya. Di antaranya pertanian, perkebunan, hingga peternakan.
“Produksi padi kita tinggi, produksi jagung tinggi, dan sebentar lagi produksi telur kita juga tinggi. Ini menjadi peluang bagi investor,” tandasnya.
Riza menegaskan, terpenting sekarang ini menyiapkan kepastian hukum tentang investasi agar investor mau membangun usahanya di Bojonegoro. Salah satunya membangun kawasan industri Bojonegoro, yang akan menjadi zona aman bagi investor untuk berinvestasi.
“Mengapa Bojonegoro tertinggal dengan Tuban, Lamongan, Gresik, Ngawi dan Nganjuk, karena di situ terdapat pelabuhan dan jalan tol yang memudahkan pengangkutan dan distribusi logistik maupun hasil produksi. Tapi Bojonegoro jangan minder, karena kita memiliki double track kereta api. Double track ini konsep awalnya untuk niaga. Tapi sampai hari ini digunakan untuk pengangkutan orang yang ingin menikmati wisata di luar Bojonegoro,” tuturnya.
“Jadi jika kedepan kawasan industri Bojonegoro ini sudah terbangun, dan banyak industri tumbuh di sini, double track itu bisa menjadi transportasi pendukung industrialisasi,” lanjut Riza.
Pemkab Bojonegoro, lanjut dia, juga telah menetapkan dokumen rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJPD) tahun 2025-2045. Dalam dokumen tersebut Bojonegoro ditetapkan sebagai sentra energi negeri dan agroindustri.
“Ini menjadi mimpi besar Bojonegoro. Kata kuncinya ada di agroindustri. Artinya adalah sektor-sektor non migas harus dapat bertransformasi ke industri. Sehingga pemkab mulai sekarang telah memastikan program-program akan bertransformasi bukan lagi ke sektor migas atau pertambangan. Melainkan ke sektor hilirisasi pertanian, peternakan, perkebunan, UMKM hingga pariwisata,” jelasnya.
Riza optimis dengan tumbuhnya industri di Bojonegoro kedepannya akan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sebab akan banyak menyerap tenaga kerja dan membuka peluang usaha, sehingga upah minimum kabupaten (UMK) dan daya beli masyarakat meningkat.
Senada disampaikan Nafiatun dari Bagian Perekonomian Setda Bojonegoro. Ia mengatakan, pertanian kedepan menjadi sektor menjanjikan bagi investor, karena pertambangan sudah tidak lagi bisa diandalkan.
Nafiatun menjelaskan, produksi padi Bojonegoro sekarang ini terbesar kedua di Jatim dan mengalahkan Kabupaten Ngawi. Jumlah produksi tahun 2025 mencapai 1,65 juta ton, atau meningkat dari tahun 2024 sebesar 854 ribu ton.
“Artinya investasi sektor pertanian dari hulu hingga hilir di Bojonegoro sangat terbuka lebar, karena belum tergarap sampai saat ini. Seperti industri pabrik pengolahan pertanian. Ini bisa memberikan nilai tambah ekonomi masyarakat,” sambungnya.
Selain pertanian, lanjut Nafiatun, sektor peternakan juga menjadi peluang investasi di Bojonegoro. Ia mencontohkan, seperti kebutuhan telur Bojonegoro sekarang ini mencapai 120 ribu ton per bulan. Sementara stok yang tersedia baru sekitar 80 ribu ton.
“Nah, ini menjadi peluang bagaimana bisa mencukup kebutuhan itu. Juga penyediaan pakan ayam dan lain-lainnya,” pungkasnya.(red)





