SuaraBanyuurip.com – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bersiap menjadi sentra agroindustri yang difokuskan pada sektor pertanian. Kebijakan strategis ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian, pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, dan mewujudkan ketahanan pangan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani mengatakan, sesuai rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Kabupaten tahun 2025-2045, Bojonegoro telah ditetapkan sebagai sentra agroindustri dan energi negeri yang makmur, adil dan berkelanjutan. Dalam RPJP tersebut, menitik beratkan pada sektor pertanian sebagai harapan kedepan.
“Ini patut disyukuri karena jarang sekali ada kabupaten atau daerah yang menjadikan pertanian sebagai tumpuan hidup,” kata Zaenal saat menjadi narasumber di kanal youtube Dewan Jegrank bertema “Pertanian Kita akan Kemana?”.
Menurutnya, konsep agroindustri yang dibangun di Bojonegoro kedepan berupa fisik dan agrobisnis. Bentuk fisik berupa pembangunan pabrik-pabrik yang mengolah komoditas pertanian bernilai tinggi yang bisa meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.
“Seperti rencana pembangunan pabrik bioetano di Bojonegoro itu merupakan bentuk agroindustri,” kata Zaenal.
Sedangkan, agrobisnis yang dijalankan membangun budidaya dengan sistim industri yang mengintegrasikan seluruh rantai kegiatan pertanian mulai penyediaan benih, pupuk, pascapanen, pengolahan hingga pemasaran.
“Dengan konsep ini pertanian Bojonegoro bisa naik kasta. Produksi pertanian tidak lagi dijual gelondongan, tapi menjadi bentuk olahan,” tegasnya.
Zaenal menjelaskan, untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai sentra agroindustri dan energi negeri sesuai RPJP tahun 2025-2045, telah disusun strategi rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), rencana strategis (renstra) dan rencana kerja (renja).
“Di dalam dokumen RPJMD itu mengamanahkan DKPP membentuk pondasi kuat mendukung sentra agroindustri untuk 20 tahun kedepan,” tegasnya.
Ada tiga cara yang dilakukan DKPP Bojonegoro untuk membangun pondasi kuat mewujudkan sentra agroindustri. Yakni kuantitas bahan baku yang cukup, kualitas yang memenuhi syarat, dan kontinuitas.
Untuk kuantitas, DKPP Bojonegoro akan meningkatkan produksi pertanian melalui perluasan lahan, pembangunan infrastruktur, bantuan benih, mencukupi kebutuhan pupuk, bantuan alsintan dan pendampingan kepada petani.
Sedangkan untuk meningkatkan kualitas produksi pertanian, DKPP Bojonegoro sekarang ini sedang melakukan penelitian bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) terkait budidaya padi gogo dan padi irigasi. Dalam kerja sama ini juga telah dilakukan pembuatan demplot dengan UGM untuk jenis padi Gamagora (gadjah mada gogo rancah).
“Ini adalah varietas padi amfibi, padi unggul yang adaptif untuk menjawab tantangan perubahan iklim,” tandas Zaenal.
Sementara, kerja sama dengan IPB berupa budidaya padi di wilayah hutan melalui bakteri penicillium, yang bekerja membuat jel di sekitar akar tanaman sehingga bisa bertahan dalam keterikan.
“Sekarang ini sudah kita buat demplot, jika ini berhasil nantinya tanaman padi di Bojonegoro tidak hanya terkonsentrasi di lahan irigasi, tapi juga ke lahan hutan,” jelas Zaenal.
Selain itu juga telah membuat demplot padi hibrida di lahan sawah tadah hujan di Desa Gajah, Kecamatan Baureno, dan lahan irigasi di Desa/Kecamatan Kepohbaru. Hasilnya, produksi padi hibrida di sawah tadah hujan pada musim tanam kedua (kemarau) bisa mencapai 8 ton/ha dari sebelumnya hanya 5 ton/ha. Sedangkan produksi pada hibrida di lahan sawah irigasi meningkat menjadi 13 ton/ha, dari sebelumnya 8 ton/ha.
“Untuk menghadapi tantangan musim di 2026 ini, kita akan terapkan padi hibrida untuk tetap menjaga produksi. Ini sebagai bentuk kontinuitas produksi pertanian,” kata Zaenal.
DKPP Bojonegoro, tambah dia, juga akan mendatangkan beberapa offtaker untuk bekerja sama dengan petani. Tujuannya, menampung hasil produksi pertanian sesuai standart kualitas yang dibutuhkan dengan harga di atas pasaran yang lebih menguntungkan petani.
“Dengan begitu petani bisa konsentrasi pada tanaman mereka agar tumbuh dengan baik. Petani tidak lagi berfikir akan menjual hasil produksinya kemana, dan harganya bagaimana, karena sudah ada jaminan dari pengusaha atau offtaker,” pungkasnya.
Wakil Ketua Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi Bojonegoro, Arif Wahyudi mengapresiasai rencana pemerintah kabupaten (pemkab) menjadikan Bojonegoro sebagai sentra agroindustri. Menurutnya, adanya sentra agroindustri ini akan bisa memaksimalkan potensi pertanian Bojonegoro mulai hulu sampai hilir.
Arif mengungkapkan, serapan hasil produksi pertanian Bojonegoro selama ini masih rendah. Dari produksi 1 juta ton gabah kering panen hanya sekitar 15 persen yang diserap oleh Bulog. Sedangkan 85 persen keluar Bojonegoro.
“Rendahnya serapan ini diantaranya karena minimnya sarana yang dimiliki Bojonegoro, seperti pabrik besar yang memproses hasil produksi pertanian,” tutur kandidat Direktur BUMD Pangan Mandiri Bojonegoro itu.
Arif menegaskan, pembangunan sentra agroindustri Bojonegoro ini bisa menjadi peluang bagi investor untuk berinvestasi membangun usaha pengolahan pertanian di Bojonegoro. Sehingga hasil pertanian bisa diolah di Bojonegoro dan memberikan nilai tambah ekonomi, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
“Untuk itu, perlu adanya regulasi yang melindungi pengusaha seperti kemudahan perizinan dan permodalan dari perbankan agar para pengusaha sektor pertanian bisa ikut terlibat dalam bisnis di agroindustri kedepannya,” pungkas Kepala Desa Sembung, Kecamatan Kapas itu.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, Yuseriza sebelumnya menyampaikan, Pemkab Bojonegoro sekarang ini sedang menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Industri untuk mendukung sentra agroindustri dan energi energi. Pembangunan Kawasan industri ini penting untuk memberi kepastian hukum bagi investor yang akan berinvestasi di Bojonegoro.
“Kawasan Industri ini menjadi zona aman bagi investor untuk berinvestasi di Bojonegoro,” tegasnya.
Riza, panggilan akrabnya, menegaskan, sektor pertanian Bojonegoro harus didukung oleh industri hilirisasi untuk memunculkan diversifikasi ekonomi agar masyarakat tidak hanya bergantung di sektor pertanian.
“Rata-rata petani Bojonegoro hanya memiliki 0,03 hektar lahan. Artinya, dengan lahan seluas itu dikasih pupuk model apapun produktifitasnya tidak akan naik, pendapatan mereka tidak akan naik. Jadi harus ada hilirisasi pertanian, agar bisa memberikan tambahan pendapatan dan mengurangi kemiskinan,” tegasnya.(red)





