SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Serangan hama burung emprit masih menjadi persoalan klasik dihadapi petani padi, terutama menjelang masa panen. Hingga kini, upaya yang paling banyak dilakukan petani adalah menunggui sawah secara bergantian atau memasang jaring pelindung di lahan pertanian.
”Cara ini cukup efektif, namun petani harus bersabar sebab membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (30/12/2025).
Di lain sisi, kerugian akibat serangan burung emprit belum masuk dalam skema perlindungan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Artinya, ketika petani mengalami gagal panen akibat hama burung, tidak ada jaminan asuransi yang bisa diklaim. Kondisi ini membuat petani harus menanggung risiko kerugian secara mandiri.
Seiring berkembangnya kesadaran pertanian ramah lingkungan, sejumlah petani mulai mencoba inovasi alternatif untuk mengendalikan hama. Salah satunya adalah penggunaan parfum berbahan dasar urine yang telah difermentasi.
Metode ini dikenal mampu menghasilkan aroma menyengat yang tidak disukai hama tertentu, sekaligus aman bagi lingkungan dan tanaman.
Para petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menguji coba metode pengendalian hama emprit menggunakan parfum urine ini. Hasilnya dilaporkan cukup efektif mengendalikan hama emprit.
”Maka petani bisa menggunakan cara tersebut dengan memasang parfum urine setinggi malai padi,” tandasnya.(fin)
Atasi Serangan Hama Emprit dengan Jaring dan Parfum Urine





