SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, terus berupaya meningkatkan produksi padi di tengah tantangan perubahan iklim global. Salah satunya dengan menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kegiatan demonstration plot (Demplot) budidaya padi varietas ‘Gamagora’ yang tahan terhadap cekaman air dan kekeringan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengatakan, demonstrasi (dem) budidaya tersebut dilaksanakan di lima lokasi, yakni Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem; Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kalitidu; Desa Ngraseh, Kecamatan Dander; Desa Panemon, Kecamatan Sugihwaras; serta Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru.
“Demonstrasi ini bertujuan mendapatkan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim yang semakin sulit diprediksi. Kadang hujan turun sangat lebat, namun di waktu lain justru tidak turun hujan sama sekali,” kata Zaenal Fanani kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (6/2/2026).
Menurut dia, varietas Gamagora dipilih karena memiliki ketahanan terhadap cekaman air dan kekeringan, sehingga diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi padi di Bojonegoro yang memiliki karakteristik wilayah beragam.

Selain penggunaan varietas unggul, dalam dem tersebut juga diterapkan teknologi hayati berupa aplikasi bakteri Bacillus. Bakteri ini berfungsi membantu meningkatkan penyerapan unsur hara dalam tanah, khususnya fosfor (P) dan kalium (K).
“Unsur P dan K sebenarnya cukup tersedia di tanah Bojonegoro, tetapi banyak yang terikat oleh mineral. Kehadiran bakteri Bacillus membantu melepaskan unsur hara tersebut agar dapat diserap tanaman,” jelasnya.
Zaenal Fanani menambahkan, bakteri Bacillus memiliki manfaat yang sangat luas. Selain sebagai biofertilizer, bakteri ini juga berperan sebagai biodekomposer, biopestisida, serta penyedia hormon pertumbuhan tanaman, terutama giberelin, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas padi.
Untuk mendukung keberhasilan program, DKPP Bojonegoro juga menyelenggarakan bimbingan teknis (bimtek) kepada petani di lokasi dem. Melalui bimtek tersebut, petani dibekali pengetahuan dan keterampilan terkait budidaya padi adaptif iklim serta pemanfaatan teknologi hayati secara tepat.
“Harapannya, inovasi ini bisa diterapkan lebih luas oleh petani dan menjadi solusi berkelanjutan dalam meningkatkan produksi padi di Bojonegoro,” tandas pria santun ini.(fin)





