SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Sebaran virus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, meluas. Dinas Perikanan dan Perikanan (Disnakkan) setempat mencatat 130 sapi terpapar PMK, tujuh ekor diantaranya mati.
“Namun untuk mengatasi penyebaran virus PMK, kami sudah melakukan penyaluran 20 ribu vaksin di seluruh Bojonegoro,” kata Kabid Kesehatan Hewan, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Peternakan Disnakkan Bojonegoro, Lutfi Nurrahman.
Lutfi mengungkapkan, jumlah sapi yang terjangkit virus PMK terus bertambah. Berdasar data Rabu, (4/2/2026), tercatat 86 ekor sapi terjangkit PMK. Kemudian meningkat tajam menjadi 130 ekor sapi terpapar.
“Dari jumlah itu sebanyak 123 ekor sapi berangsur sembuh. Dan tujuh ekor lainnya mati karena virus tersebut,” katanya, Senin (9/2/2026).
Disnakkan Bojonegoro, lanjut Lutfi, telah menyalurkan vaksin tahap pertama untuk meningkatkan kekebalan pada hewan ternak. Apabila penyebaran masih banyak, bakal melakukan penyaluran vaksin kembali.
“Yang paling penting, para peternak harus menjaga kebersihan kandang. Kemudian melakukan penyemprotan disinfektan hingga pemberian vitamin,” jelasnya.
Lutfi menambahkan, Pemkab Bojonegoro juga bakal melakukan pembatasan hewan ternak dari luar untuk masuk di Bojonegoro guna mencegah penyebaran PMK.
“Kami juga melakukan pemantauan di pasar sapi di Bojonegoro,” jelasnya.
Pembina Kelompok Tani Ternak (KTT) Ustan Mandiri Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Muhammad Ali mengaku belum menerima vaksin dari Disnakkan Bojonegoro.
Menurut Ali, saat ini yang paling dibutuhkan peternak adalah vitamin Pro B Plek.
“Vitamin itu paling urgent. Sebab saat ini di Ustan Mandiri 60 persen sapi terpapar PMK, jika diberikan vaksin tambah parah,” jelasnya.(jk)





