Luncurkan Beras Rojo Nogo, Bojonegoro Kabupaten Pertama Miliki Merek Beras BUMD

Peluncuran beras rojo nogo
SIMBOLIS: Bupati Setyo Wahono dan Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, Muhammad Choirul Huda serta pihak terkait menekan sirine bersama sama tanda peluncuran beras merek rojo nogo.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, bersama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bojonegoro Pangan Mandiri (BPM) resmi meluncurkan beras bermerek Rojo Nogo, Senin (29/6/2026). Peluncuran dilakukan di Hotel Griya Dharma Kusuma (GDK).

‎Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menandai peluncuran beras Rojo Nogo secara resmi. Hal itu menjadi tonggak baru penguatan ekosistem pangan daerah karena menjadikan Bojonegoro sebagai kabupaten pertama di Indonesia yang memiliki merek beras resmi milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan dipasarkan secara komersial.

‎Peluncuran ditandai dengan penekanan tombol sirine bersama Bupati Bojonegoro, Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, serta sejumlah tamu undangan dari unsur DPRD, organisasi petani, Bulog, koperasi, kepala desa, hingga perangkat daerah.

‎Momentum peluncuran dipilih bertepatan dengan Hari Keluarga Nasional ke-33, sekaligus menandai 100 hari kerja Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri sejak menerima surat keputusan pengangkatan pada 16 Maret 2026. Selain itu, peluncuran juga masih berada dalam rangkaian peringatan Hari Krida Pertanian ke-54 yang diperingati setiap 21 Juni.

‎Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, Muhammad Choirul Huda mengatakan, Rojo Nogo bukan sekadar produk beras, tetapi menjadi simbol lahirnya ekosistem pangan yang menghubungkan petani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), penggilingan padi mitra, hingga BUMD sebagai offtaker.

Baca Juga :   Dirut Perumda Pangan Mandiri Terisi, Ini Harapan Besar DPRD Bojonegoro

‎”Rojo Nogo merupakan wujud komitmen kami untuk memakmurkan petani sekaligus menjaga kemandirian pangan daerah. Kami ingin nilai tambah hasil panen dinikmati masyarakat Bojonegoro sendiri,” ujarnya.

Beras rojo nogo
Bupati Setyo Wahono bersama Direktur Perumda BPM M. Choirul Huda dan para pemangku kepentingan menunjukkan beras merek “Rojo Nogo”.(arifin jauhari)

‎Secara nasional, langkah tersebut sejalan dengan dorongan Badan Pangan Nasional (Bapanas) agar pemerintah daerah memiliki BUMD pangan yang kuat dengan mencontoh keberhasilan Food Station Tjipinang Jaya milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga stabilitas harga dan inflasi pangan.

‎Jika Food Station telah memiliki merek beras pada tingkat provinsi, maka Bojonegoro kini menjadi kabupaten pertama yang secara formal dan terstruktur memiliki merek beras BUMD sendiri.

‎Melalui peluncuran Rojo Nogo, Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri menegaskan perannya sebagai penggerak ekosistem pangan daerah dengan menggandeng Gapoktan, KDMP, penggilingan padi, serta berbagai mitra lainnya.

‎”Seluruh kolaborasi tersebut diharapkan mampu mewujudkan slogan perusahaan, “Memakmurkan Petani, Menjaga Pangan Mandiri”, sekaligus mendukung visi Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan,” tegas Choirul Huda.

Baca Juga :   M. Choirul Huda Ditetapkan Jadi Dirut Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri

‎Sementara itu, Bupati Setyo Wahono menjelaskan, nama Rojo Nogo dipilih karena memiliki filosofi yang kuat. “Rojo” merujuk pada Prabu Angling Dharma, raja legendaris Kerajaan Malawapati yang petilasannya diyakini berada di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Sosok tersebut dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, dermawan, dan mengayomi rakyat.

Beras rojo nogo
Beras merek “Rojo Nogo” dari Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri.(arifin jauhari)

‎Sementara “Nogo” atau naga dalam tradisi Jawa melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, sekaligus pelindung kemakmuran. Gabungan keduanya dimaknai sebagai sosok pemimpin yang kuat, bijaksana, serta membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

‎”Filosofi itu selaras dengan peran Bojonegoro Pangan Mandiri sebagai penggerak ketahanan pangan daerah,” jelas bupati asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo.

‎Pemilihan nama tersebut juga memperkuat identitas Bojonegoro sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Bojonegoro menjadi penghasil padi terbesar kedua di Jawa Timur dengan produksi mencapai sekitar 886 ribu ton gabah pada 2025.

‎”Jadi Rojo Nogo ini lambang yang luar biasa, tentu dengan nama ini menjadi simbol kita mengelola produk lokal untuk kita maksimalkan memberi nilai manfaat yang lebih kepada masyarakat lebih luas,” tandas Setyo Wahono.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait