SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Pascapeluncuran pada 29 Juni 2026, beras premium “Rojo Nogo” baru akan memasuki pasar secara penuh pada pertengahan Agustus mendatang. Produk andalan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bojonegoro Pangan Mandiri (BPM) itu bakal dipasarkan setelah seluruh proses administrasi dan legalitas selesai.
Direktur Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, Muhammad Choirul Huda, menjelaskan, saat ini perusahaan masih menyelesaikan sejumlah persyaratan sebelum produk resmi diluncurkan ke pasar.
Beras Rojo Nogo ini diproduksi bersama mitra Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (PERPADI) atau Rice Milling Unit (RMU) yang telah memenuhi standar produksi dan peredaran pangan.
”Dengan skema ini, kualitas beras diharapkan tetap terjaga,” kata Choirul Huda kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (23/7/2026).
Selain mengusung merek dagang milik Perumda BPM, produk ini juga telah dipersiapkan untuk memenuhi berbagai ketentuan, mulai dari izin edar, sertifikasi halal, hingga persyaratan lain yang diwajibkan bagi produk pangan komersial. Saat ini, proses perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) masih berlangsung bersama mitra.
Mantan Kepala Desa Sedahkidul, Kecamatan Purwosari ini menambahkan, beras premium merek Rojo Nogo tersebut nantinya dipasarkan dalam kemasan 5 kilogram dengan harga kisaran Rp74.500 per kemasan.
Tak hanya berorientasi pada keuntungan usaha, Perumda BPM juga ingin membangun ekosistem pangan yang melibatkan pelaku usaha lokal. Karena itu, perusahaan menggandeng RMU sebagai mitra produksi melalui nota kesepahaman (MoU).
Dalam kerja sama tersebut, lanjut Mas Huda, sapaan akrabnya, RMU diwajibkan bermitra dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta Koperasi Desa (Kopdes). Kemitraan itu mencakup pembelian gabah atau hasil pertanian, proses produksi, hingga distribusi beras kepada masyarakat.
”Melalui kolaborasi ini, manfaat ekonomi diharapkan tidak hanya dirasakan Perumda, tetapi juga petani, BUMDes, UMKM, koperasi desa, dan masyarakat secara lebih luas,” tandasnya.
Sebelumnya, kala seremoni peluncuran beras premium Rojo Nogo, Bupati Setyo Wahono menjelaskan, nama Rojo Nogo dipilih karena memiliki filosofi yang kuat. “Rojo” merujuk pada Prabu Angling Dharma, raja legendaris Kerajaan 33 Malawapati yang petilasannya diyakini berada di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Sosok tersebut dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, dermawan, dan mengayomi rakyat.
Sementara “Nogo” atau naga dalam tradisi Jawa melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, sekaligus pelindung kemakmuran. Gabungan keduanya dimaknai sebagai sosok pemimpin yang kuat, bijaksana, serta membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
”Filosofi itu selaras dengan peran Bojonegoro Pangan Mandiri sebagai penggerak ketahanan pangan daerah,” jelas bupati asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo.
Pemilihan nama tersebut juga memperkuat identitas Bojonegoro sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Bojonegoro menjadi penghasil padi terbesar kedua di Jawa Timur dengan produksi mencapai sekitar 886 ribu ton gabah pada 2025.
”Jadi Rojo Nogo ini lambang yang luar biasa, tentu dengan nama ini menjadi simbol kita mengelola produk lokal untuk kita maksimalkan agar memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” tandas Setyo Wahono.(fin)





