SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Proses belajar mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Tanjung, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, berjalan dalam kondisi tidak kondusif. Kondisi fisik bangunan cukup memprihatinkan. Selain belajar di ruang sempit dan disekat, para siswa juga di bawah ancaman atap yang nyaris ambrol.
“Fasilitas minim, pernah satu ruangan disekat untuk dua kelas. Luasnya hanya 6×7 meter. Pembelajaran mereka sangat tidak kondusif. Gurunya saling bersahutan, sehingga anak-anak tidak konsentrasi belajar,” ujar Kepala SDN 1 Tanjung, Dewi Retnoningtyas, Senin 31 Agustus 2026, siang.
Menurut Dewi, ukuran ruang kelas saat ini, jauh dari kata ideal. Sebab, ukuran ruang kelas seharusnya tujuh meter kali delapan meter (7m x 8m). Adapun sekolah yang dipimpinnya memiliki dua gedung.
“Gedung A dengan dua ruangan berukuran 7×7 meter, dan Gedung B dengan empat ruangan berukuran 6×7 meter yang dinilai tidak pas untuk pembelajaran,” ungkap Dewi merinci.
Saat ini, lanjut dia, kondisi penyekatan semakin parah dengan adanya tiga ruangan yang disekat. Sebanyak dua ruangan untuk kelas dan gudang, serta satu ruangan untuk kelas dan ruang guru. Sehingga membuat suasana belajar menjadi sangat sesak.
Tak hanya sempit, keselamatan para siswa juga terancam oleh kondisi fisik bangunan yang lapuk. Salah satu bagian atap bangunan sekolah kini harus disangga menggunakan bambu agar tidak runtuh, sementara bagian atap lainnya hampir ambrol (jeblok) dan belum sempat disangga.
”Ini sama atapnya tadi sudah disangga bambu, yang satunya sudah juga mau jeblok. Itu belum disangga takutnya anak-anak itu ya mengkhawatirkan sekali,” ujarnya.

Keterbatasan ini juga dirasakan oleh para guru yang tidak memiliki ruang kantor sendiri. Mereka terpaksa berada di kelas masing-masing, sementara ruang tamu terpaksa diletakkan di area luar. Arsip-arsip penting milik guru, kepala sekolah, dan administrasi terpaksa disimpan di dalam sekat khusus di dalam kelas agar tetap aman.
Melihat kondisi sekolah yang semakin mengkhawatirkan, pihaknya tidak tinggal diam. Sejak tahun 2022 telah mengajukan usulan anggaran rehabilitasi ke Pemkab Blora. Namun gagal karena keterbatasan lahan.
“Karena keterbatasan lahan, kami mengusulkan agar bangunan ditinggikan (naik) atau didirikan gedung baru di halaman sekolah. Namun, usulan belum terakomodasi hingga tahun 2025 karena kendala keterbatasan dana APBD,” ungkap Dewi.
Tahun 2026 ini, pihak sekolah kembali mengajukan usulan rehabilitasi, tapi masih belum berhasil. Bahkan, telah menyampaikan keluhannya kepada annggota DPRD Blora.
Pihak sekolah sangat berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan merealisasikan bantuan perbaikan gedung agar para siswa dapat belajar aman dan nyaman.
Prestasi SDN 1 Tanjung Melimpah

yang nyaris ambrol disangga bambu.
Meski fasilitas sekolah sangat minim, prestasi para siswa justru sangat gemilang. Pihak sekolah mengaku selalu membawa pulang piala setiap kali mengikuti perlombaan, hingga ruang penyimpanan piala di sekolah tidak muat lagi.
Baru-baru ini, prestasi yang berhasil diraih, di antaranya juara dua dan tiga dalam kegiatan kemah, serta menyabet Juara 1 Geguritan, Juara 1 Dagel, dan Juara 3 Macapat dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI).
Selain itu, dalam ajang MAPSI, perwakilan sekolah ini sudah tiga kali maju ke tingkat provinsi mewakili kabupaten untuk cabang kaligrafi.
“Setiap event lomba kami selalu dapat piala. Sampai tidak uman nggon (sampai tidak ada tempat). Juara satu, dua, tiga, selalu di tiga besar,” ungkap Dewi penuh semangat.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sandy Tresna Hadi mengungkapkan, kondisi bangunan SDN 1 Tanjung sangat memprihatinkan.
Bangunan tersebut sudah berumur cukup lama dan dalam 15 tahun terakhir belum tersentuh rehabilitasi, sehingga sangat membutuhkan peremajaan komponen bangunan.
Selain itu, ketersediaan ruangan pun sangat terbatas, di sekolah hanya tersedia enam ruang yang semuanya sudah digunakan untuk ruang kelas, sedangkan gurunya memanfaatkan selasar sebagai ruang guru.
”Apalagi perpustakaan dan UKS yang belum tersedia, karena memang keterbatasan lahan. Apabila mendapatkan bantuan, lebih baik, bangunan baru diletakkan di lantai dua, dan lantai satunya direhab semua,” ujarnya.
Sandy menjelaskan, dinas sudah berupaya mengajukan DAK sejak 2022 tapi selalu gagal untuk mendapatkan bantuan. “APBD Blora sangat terbatas, sehingga pihaknya berharap tahun ini bisa mendapatkan bantuan revitalisasi dari Kemendikdasmen,” pungkasnya.(sam)





