Oleh: Cantika Wahono
(Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro)
Ada pengalaman yang tidak dapat diperoleh hanya dari membaca buku atau mengajar di ruang kuliah, yaitu kesempatan menyaksikan bagaimana seorang pemimpin membangun keputusan, menghadapi tekanan, dan memegang teguh nilai-nilai yang diyakininya. Sebagai akademisi di bidang manajemen, sekaligus istri H. Setyo Wahono Bupati Bojonegoro, saya memiliki ruang untuk melihat kepemimpinan dari dua perspektif yang berbeda namun saling melengkapi: perspektif ilmiah dan perspektif kehidupan sehari-hari.
Dalam kajian manajemen modern, kepemimpinan bukan lagi dipahami sebagai kemampuan memberi perintah, melainkan kemampuan memengaruhi, menggerakkan, dan melayani. Robert K. Greenleaf menyebutnya sebagai servant leadership, yaitu kepemimpinan yang berangkat dari semangat melayani. Sementara James MacGregor Burns dan Bernard M. Bass menegaskan bahwa pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu mentransformasi organisasi melalui visi, keteladanan, dan inspirasi.
Teori-teori tersebut menjadi menarik ketika dipertemukan dengan praktik kepemimpinan di daerah. Saya melihat bahwa kepemimpinan bukan hanya diuji ketika mengambil keputusan besar, tetapi juga dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering kali luput dari perhatian. Mendengarkan sebelum berbicara, menerima kritik tanpa kehilangan ketenangan, menghargai pendapat yang berbeda, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi merupakan sikap yang justru membangun kepercayaan publik.
Bagi saya, kepemimpinan bukan sekadar jabatan struktural, melainkan refleksi karakter. Bapak H. Setyo Wahono memandang amanah sebagai tanggung jawab moral. Dalam banyak kesempatan, saya menyaksikan bagaimana keputusan tidak semata dipertimbangkan dari sisi politis, tetapi juga dari sisi kemanfaatan jangka panjang bagi masyarakat Bojonegoro.
Diskusi-diskusi di rumah sering kali bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang solusi.
Saya memandang bahwa tantangan pembangunan daerah saat ini semakin kompleks. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Karena itu, konsep collaborative governance yang dikembangkan oleh Chris Ansell dan Alison Gash menjadi sangat relevan. Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh kemampuan membangun kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, media, dan seluruh elemen warga.
Saya juga memahami bahwa pembangunan daerah membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan. Gaya kepemimpinan H. Setyo Wahono yang saya lihat cenderung mengedepankan kolaborasi. Pembangunan tidak mungkin dikerjakan sendiri oleh pemerintah daerah; ia membutuhkan partisipasi dunia usaha, akademisi, tokoh agama, perempuan, pemuda, hingga komunitas akar rumput. Bojonegoro memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya gotong royong. Nilai inilah yang menurut saya perlu terus menjadi fondasi kepemimpinan daerah. Sebab pembangunan bukanlah hasil kerja seorang Bupati semata, melainkan hasil kerja bersama seluruh masyarakat. Di sinilah nilai gotong royong menemukan relevansinya dalam tata kelola modern.
Saya juga melihat pentingnya pendekatan humanis dalam kepemimpinan. Di balik agenda formal, terdapat kepedulian terhadap persoalan keluarga, pendidikan anak, pemberdayaan perempuan, serta penguatan ekonomi mikro. Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, fondasi sosial yang kuat adalah kunci stabilitas ekonomi jangka panjang.
Tentu, setiap kepemimpinan menghadapi tantangan. Dinamika politik, ekspektasi publik, serta kompleksitas kebijakan menuntut ketegasan sekaligus kebijaksanaan. Dari dekat, saya belajar bahwa konsistensi dan integritas adalah dua hal yang tidak bisa ditawar. Kepercayaan publik dibangun dari keselarasan antara kata dan tindakan.
Sebagai istri, tentu saya melihat sisi yang tidak selalu tampak di ruang publik. Ada waktu yang dikorbankan bersama keluarga, ada beban moral yang harus dipikul, dan ada keputusan-keputusan sulit yang harus diambil. Semua itu mengingatkan saya bahwa jabatan sesungguhnya bukanlah tentang kehormatan, melainkan tentang amanah. Saya mendukung dengan doa dan penguatan moral. Karena itu, saya percaya ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dilaksanakan atau proyek yang diresmikan. Kepemimpinan akan dikenang ketika mampu meninggalkan sistem yang lebih baik, birokrasi yang semakin melayani, masyarakat yang semakin berdaya, serta generasi muda yang memiliki harapan terhadap masa depannya.
Saya tetap meyakini bahwa setiap kepemimpinan harus terus dievaluasi secara objektif. Kritik yang konstruktif merupakan bagian penting dari proses demokrasi. Namun saya juga percaya bahwa pemimpin yang memiliki integritas akan menjadikan kritik sebagai energi untuk memperbaiki diri. Saya juga percaya bahwa kepemimpinan yang berbasis nilai, kolaborasi, dan keberlanjutan adalah model yang relevan bagi daerah seperti Bojonegoro. Pada akhirnya, jabatan akan selesai pada waktunya, tetapi jejak kebijakan dan dampaknya bagi masyarakat akan menjadi catatan sejarah.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan kepada Bapak H. Setyo Wahono dalam menjalankan amanah sebagai Bupati Bojonegoro. Semoga setiap langkah dan ikhtiar beliau senantiasa mendapatkan petunjuk dan ridha Allah SWT. Semoga sinergi bersama Wakil Bupati Bojonegoro terus melahirkan gagasan-gagasan terbaik, inovasi yang bermanfaat, serta pelayanan publik yang semakin dekat dan memberikan kemudahan bagi masyarakat. Semoga kolaborasi semakin kokoh dan menjadi kekuatan bersama untuk mewujudkan Bojonegoro yang semakin maju, makmur, membanggakan, dan membahagiakan seluruh warganya.
Terakhir, kepemimpinan bukanlah tentang menjadi orang yang paling berkuasa, melainkan tentang menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan masyarakat. Dan di tengah berbagai tantangan pembangunan Bojonegoro hari ini, nilai itulah yang semestinya terus dijaga dan diwariskan kepada generasi pemimpin berikutnya. Kepemimpinan yang baik bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat. Dan dari perspektif personal saya, itulah esensi amanah yang sedang dijalankan hari ini.
Tulisan ini sebagai Kado untuk Bupati H. Setyo Wahono, di hari ulang tahun saya Tanggal 14 September 2026.





