SuaraBanyuurip.com – Sebanyak 93 mahasiswa program studi (Prodi) S1 Akuntasi dan Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cendekia Bojonegoro, Jawa Timur, diwisuda. Prosesi wisuda Sarjana ke 24 berlangsung di Hotel Dewarna Jalan Veteran Bojonegoro, Sabtu (24/10/2026).
Wisuda dihadiri Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur Prasetijo, Anggota Komisi C DPRD Suprapto, Ketua Yayasan Al Khairiyah M. Yasmani, pimpinan perguruan tinggi, orangtua mahasiswa, para mitra dan tamu undangan lainnya.
Wisuda Sarjana ke 24 STIE Cendekia Bojonegoro juga diisi orasi ilmiah secara daring bertajuk “AI dan Masa Depan Perguruan Tinggi” yang disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII, Dyah Sawitri.
Pada kesempatan tersebut juga diserahkan penghargaan kepada mahasiswa periah nilai terbaik. Yakni Anggita Dyah Pramesti dari Prodi Akuntasi dengan IPK 3,74, Alya Putri Wulandari dari Prodi Manajemen dengan IPK 3,72, dan di bidang non akademis kepada Viranisma Cholifatur Annas.
Ketua STIE Cendekia, Nurul Mazidah mengucapakan selamat dan sukses kepada wisudawan yang telah berasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana.
Nurul meyakini, perguruan tinggi tidak hanya membekali mashasiswa dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk memasuki dunia kerja. Tapi perguruan tinggi juga harus menumbuhkan keberanian untuk menciptakan peluang, membangun kemandirian, dan menghasilkan perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, lanjut Nurul, STIE Cendekia mencetak lulusan yang tidak hanya mampu menjadi pencari kerja, tapi juga pencipta lapangan karja yang memiliki kepedulian sosial.
“Bagi kami kewirausahaan bukan semata-mata tentang bagaimana membangun usaha dan mencari keuntungan. Lebih dari itu, kewirausahaan harus mampu menghadirkan solusi-solusi bagi persoalan sosial dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
“Wirausahawan yang ingin kami lahirkan dari STIE Cendekia adalah mandiri dalam usaha, berani menciptkan peluang, dan memiliki hati untuk memberdayakan sesama,” tegas Nurul.
Dijelaskan, sejumlah program telah dilaksanakan untuk memajukan dan mengembangan STIE Cendekia Bojonegoro. Di antaranya berkolaborasi sejumlah mitra, program student mobility yakni mengirim mahasiswa dan dosen untuk belajar ke luar negeri seperti Vietnam dan Thailand.
Juga program culture camp dilaksanakan STIE Cendekia bekerja sama dengan ITS Surabaya. Program ini sudah berjalan selama tiga tahun, dan sudah menghadirkan pelajar dari 13 negara ke Bojonegoro. Program ini bertujuan mempertemukan budaya, mempeluas wawasan, dan membangun persahabatan lintas negara.
“Mimpi bukan hanya ingin membawa STIE Cendekia ke dunia internasional. Namun, kami juga ingin membawa Bojonegoro semakin dikenal oleh dunia. Kami ingin memperkenalkan budaya Bojonegoro, kearifan lokal, kerahaman masyarakat dan potensi ke mahasiswa internasional yang datang berkunjung. Kami berharap ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing mereka tidak hanya mengingat kegiatannya yang dilakukan, tapi mereka bisa menceritakan apa yang ada di Bojonegoro,” terang Nurul.
Dia berpesan kepada mahasiswa dan wisudawan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan terus belajar.
“Jika STIE Cendekia berani bermimpi membawa nama Bojonegoro ke dunia internasional, maka kalian juga harus berani membangun mimpi untuk masa depan,” pungkas Nurul.
Senada disampaikan Ketua Yayasan Al Khairiyah M. Yasmani. Ia menegaskan, ilmu adalah jembatan untuk sukses. Karena itu, ia berpesan kepada wisudawan agar terus mengembangkan potensi dan ilmu yang didapat untuk dirinya sendiri, keluarga, bangsa dan negara.
“Pendidikan tidak menjamin orang menjadi sukses. Tapi orang-orang yang hebat, orang-orang sukses adalah orang-orang yang berpendidikan,” tandasnya.

Mewakili Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda, Kusnandaka Tjatur Prasetijo mengatakan, wisuda ini merupakan langkah awal untuk menentukan masa depan. Oleh karena itu, wisudawan harus mampu beradaptasi dengan tantangan perkembangan zaman dan menangkap peluang yang ada.
“Karena itu, saya berpesan jangan berhenti untuk belajar, karena disrupsi terjadi sekarang ini. Literasi kita semakin lama semakin menurun, daya baca kita semakin lama semakin turun, tapi budaya komentar kita semakin lama semakin tinggi. Artinya, jika komentar kita tidak didukung dengan literasi yang baik, komentar kita menjadi tidak bermanfaat,” tutur mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Bojonegoro itu.
Kusnandaka berharap kepada STIE Cendekia, mahasiswa dan wisudawan untuk bersinegi dan berkolaborasi membangun dan memajukan Bojonegoro. Menurutnya, Bojonegoro memiki potensi besar di sektor pertanian dan UMKM untuk dikembangkan dan dimaksimalkan.
Dia mencotohkan, produksi padi Bojonegoro sekarang ini tertinggi kedua di Jatim dan terus akan ditingkatkan. Bahkan, Bupati Setyo Wahono, menargetkan produksi padi Bojonegoro bisa terbesar nasional mengalahkan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
“Nah, ini adalah peluang bagi wisudawan untuk mengimplementasikan ilmunya. Karena usaha pertanian ini terhubung dengan usaha lainnya. Sehingga membutuhkan manajerial, membutuhkan tata kelola, membutuhkan mekanisme manajemen yang kuat. Peluang ini akan sirna begitu saja bila mana kita tidak bisa mengambil titik-titik mana saja yang memberikan benefit,” bebernya.
Sementara itu, Dyah Sawitri dalam orasi ilmiahnya menyampaikan pentingnya mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensinya agar bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Baik dalam dunia industri, sosial masyarakat, dan dimanapun mahasiswa berada.
“Kompetensi komunikasi, koordinasi dan kolaborasi itu sangat penting untuk kesuksesan. Para cendekiawan bisa menyampaikan ide-ide melalui lisan maupun tulisan untuk membangun Indonesia tercinta dan mewujudkan Generasi Emas,” ujarnya.
Dyah juga menekankan pentingnya kompetensi teknologi di era sekarang ini agar dimanfaatkan secara cepat dan tepat untuk mendukung keilmuan para cendekiawan.
“Mahasiswa juga harus mampu berpikir kritis dalam pemecahan masalah. Itu yang akan dicari untuk saat ini. Jadi, kompetensi, berpikir kritis, mampu mengimplementasikan etika dan integritas, bertanggungjawab, displin dan profesional. Itu yang dicari dunia industri dan masyarakat sekarang,” tuturnya.
Dyah berharap wisudawan bisa menjadi agen perubahan dengan mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan kemajuan Kabupaten Bojonegoro. (red)



