Kejayaan Migas Bojonegoro Berlalu, Pemkab Siapkan Industri Baru

ExxonMobil di Blok Cepu.
Lapangan minyak Banyu Urip, Blok.Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang dikelola ExxonMobil.

SuaraBanyuurip.com – Masa kejayaan minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah berlalu. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menyiapkan industri baru untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bojonegoro, Kusnandaka Tjatur Prasetijo mengatakan, era migas di Bojonegoro telah terlewati. Kondisi saat ini berbeda dengan 20 tahun lalu. Semua orang sangat mengharapkan saat berlangsungnya industri migas.

“Era migas sudah kita nikmati, tapaki dan lalui,” ujar mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bojonegoro saat menghadiri Wisuda Sarja ke 24 Prodi Akuntasi dan Manajemen STIE Cendekia di Hotel Aston, Sabtu (24/10/2026).

Kusnandaka mengakui, industri migas memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan APBD Bojonegoro. Pada 2008, APBD Bojonegoro masih di bawah Rp 1 triliun atau hanya sekitar Rp 800 miliar. Kemudian meningkat signifikan  pada 2023 hingga mencapai Rp 8 trilun.

Namun, lanjut Kusnandaka, puncak APBD Bojonegoro tidak berlangsung lama. Belum genap 20 tahun, APBD Bojonegoro mulai turun di 2025. Bahkan pada 2027 diperkirakan hanya sekitar Rp 5 triliun.

Baca Juga :   Bojonegoro Institute Ajak Generasi Muda Adaptif Perubahan Iklim

“Dari gambaran ini, kita yang kemarin-kemarin memiliki harapan yang begitu besar, bahkan menjadi kebanggaan bagaimana kemajuan wilayah kita dengan migas, tapi hari ini harus menjadi kehatian-hatian bagi kita semua,” tuturnya.

Menurut Kusnandaka, kondisi tersebut terjadi karena migas merupakan industri tidak terbarukan dan pasti akan habis. Sehingga masyarakat Bojonegoro tidak bisa bergantung hanya terhadap industri ekstraktif.

Ia menjelaskan, salah satu potensi Bojonegoro yang bisa diandalkan sejak dahulu sampai sekarang adalah sektor pertanian. Produksi padi Bojonegoro sekarang ini berada diurutan kedua tebesar di Jawa Timur. Produksi ini ditargetkan bisa menjadi terbesar nasional.

“Ini menjadi mimpi besar Bojonegoro. Bapak Bupati Setyo Wahono ingin produksi padi Bojonegoro kedepan bisa mengalahkan Kabupaten Indramayu,” tegasnya.

Sektor pertanian, lanjut dia, bisa menciptakan disversifikasi ekomomi dengan dukungan teknologi. Membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Ini yang terus kita maksimalkan untuk menumbuhkan ekonomi berkelanjutan, dan tidak bergantung pada migas,” tandasnya.

Jadi Sentra Agroindustri

Kabupaten Bojonegoro bersiap menjadi sentra agroindustri yang difokuskan pada sektor pertanian. Kebijakan strategis ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian, pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, dan mewujudkan ketahanan pangan.

Baca Juga :   Pj Bupati Bojonegoro Adriyanto Unjuk Kepiawaian Bahasa Inggris di Lapangan Banyu Urip

Sentra agroindustri ini telah ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Kabupaten Bojonegoro tahun 2025-2045.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani menjelaskan konsep agroindustri yang dibangun di Bojonegoro kedepan berupa fisik dan agrobisnis. Bentuk fisik berupa pembangunan pabrik-pabrik yang mengolah komoditas pertanian bernilai tinggi yang bisa meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Sedangkan, agrobisnis yang dijalankan membangun budidaya dengan sistim industri yang mengintegrasikan seluruh rantai kegiatan pertanian mulai penyediaan benih, pupuk, pascapanen, pengolahan hingga pemasaran.

“Melalui konsep ini pertanian Bojonegoro bisa naik kasta, karena roduksi pertanian tidak lagi dijual gelondongan, tapi menjadi bentuk olahan,” tegas Zaenal saat menjadi narasumber di Podcast Dewan Jegrank beberapa waktu lalu.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait