Menjadi Buruh di Tanah Sendiri

Buruh tani blok cepu
Seorang buruh tani sedang mencari sisa padi di lahan persawahab sekitar lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu.

Tinggal di desa ring satu pemboran migas Blok Cepu bukan jaminan bisa hidup sejahtera. Justru, mereka sekarang ini menjadi buruh di tanah kelahirannya.

LANGIT timur tampak semarak. Sinar matahari menerobos celah rerimbunan pohon Jati. Terlihat tiga perempuan setengah baya berjalan menyusuri pematang sawah. Langkah kaki mereka terlihat cepat, menyibak embun yang menempel di rerumputan.

“Ayo, agak cepat jalannya, sudah siang,” kata Ngasri (45), mengomando dua temannya.

Pagi itu, Ngasri bersama Ngatini (40), dan Supiah (45), menuju sawah tetangganya. Mereka mendapat pekerjaan untuk memberishkan rumput di antara tanaman padi (matun). Jarak rumah mereka dengan sawah yang dituju tak begitu jauh. Hanya sekira satu kilo meter.

Tak lama berjalan, akhirnya mereka sampai di sawah yang dituju. Ketiganya tanpa canggung langsung turun ke sawah berbaur dengan perempuan lainnya. Tangan-tangan mereka cekatan mencabuti rerumputan yang tumbuh di antara tanaman padi yang berusia sekira delapan minggu.

Meski waktu masih menunjukkan pukul 10.00 WIB, namun tak biasanya udara di tempat itu terasa panas. Beberapa kali Ngasri tampak menegakkan tubuhnya sambil mengusap peluh yang membanjiri wajah legamnya.

“Sekarang ini jam sepuluh rasanya sudah seperti jam dua belas siang,” ucapnya sambil kembali membungkukan badanya untuk mencabuti rumput.

Ngasri bersama tiga perempuan itu adalah warga Dusun Ngrambitan, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tempat tinggal mereka berada di ring satu pemboran minyak Banyuurip, Blok Cepu, yang saat ini sedang diproduksi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Di lokasi pemboran lapangan Banyuurip sekarang ini terdapat flaring (gas suar bakar) di tapak sumur (Well Pad) B Banyuurip dengan volume 23 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD). Volume flaring ini akan terus ditingkatkan untuk mendongkrak produksi minyak Banyuurip.

“Kalau api yang di sana itu menyala terus. Tak pernah padam. Malam juga menyala, bahkan dari rumah terlihat lebih terang,” jelasnya menjawab pertanyaan suarabanyuurip.com.

Produksi minyak Banyuurip yang dikelola anak perusahaan Paman Sam itu, telah mencapai lebih dari 75 ribu barel per hari (BPH). Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan hingga mencapai puncaknya sebanyak 165 ribu bph pada tahun 2015 ini.

Baca Juga :   Makan Bakso Sambil Baca Buku dan Berinternetan

Total kandungan minyak Banyuurip mencapai 448 juta barel. Emas hitam dari bumi Mojodelik itu akan dikuras selama tiga puluh tahun kedepan. Namun demikian, baik Ngasri, Ngatini dan Supiah tak berharap banyak dari hasil sumber daya alam (SDA) yang dikeduk di tanah kelahiranya. Usia dan keterbatasan pendidikan menjadikan mereka tak mampu bersaing di geliat industri migas.

Menjadi buruh tani pun menjadi pilihan yang tak dapat mereka elakkan. Dengan jasanya itu mereka mendapat upah Rp25.000 sehari.

“Lumayan bisa untuk tambahan kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak. Apalagi kerjanya gak sehari penuh. Paling sebelum jam dua belas sudah selesai,” kata dia.

Bagi perempuan buruh tani Mojodelik, pekerjaan seperti ini hanya berlangsung selama enam bulan saja. Karena musim kemarau sawah tadah hujan di sekitar migas Blok Cepu tidak bisa ditanami padi. Mereka pun mengandalkan uang simpanan untuk menyambung hidup sampai tiba waktunya mereka kembali turun ke sawah sebagai buruh tandur.

“Karena lahan di sini tadah hujan, hanya bisa digarap setahun dua kali saat musim penghujan,” lanjut Ngasri kembali.

Sedangkan satu musim sisanya hanya bisa ditanami palawija. Bahkan tak sedikit petani di sana lebih memilih untuk membiarkan tanahnya bero (kosong tak ditami). Alasannya sederhana, karena tak ada pengairan dan takut tanamanya mati.

Sebenarnya, Ngasri memiliki lahan persawahan. Namun luasnya tidak lebih dari satu petak. Saat panen, hanya menghasilkan gabah bekisar 3 karung besar. Setelah masa tanam kedua atau disebut (walikan) hanya bisa ditanami jagung atau jenis palawija lainnya.

“Hasilnya ya cukup untuk makan, makanya saya matun di sawahnya orang lain untuk tambahan,” ucapnya.

Hidup getir di bawah garis kemiskinan seakan menjadi kawan karib Ngasri. Namun begitu, istri Paeno (50), itu tidak pernah menuntut hidup layak dari pemerintah desa maupun operator migas.

“Ya diterima, dikasih kompensasi alhamdulillah, tidak ya bisa apa. Kalau selama ini mendapatkan jatah beras raskin,” ujarnya.

Buruh lainnya, Ngatini (40),  juga mengaku pasrah dengan kondisi sawah yang kini digarapnya. Karena, hujan yang seharusnya masih datang menghampiri seperti tahun-tahun sebelumnya tidak lagi sudi datang sejenak menambah hijau tanaman padi yang membentang luas selama puluhan tahun lamanya.

Baca Juga :   Flare Membesar, EMCL : Kita Sedang Optimalkan Kinerja Fasilitas Lapangan Banyu Urip

“Air dari lepen kini sudah kering, belum lagi hama yang menyerang padi mengancam tanaman di sini,” timpal Ngatini, murung.

Jika itu sampai terjadi, bukan tidak mungkin pekerjaan mencabuti rumput, merabuk, hingga panen tak bisa dilakukannya. Karena bekerja di sawah selama ini adalah mata pencaharian satu-satunya.

“Kalau tanaman padi mati, otomatis saya ya di rumah. Cari sampingan lain seperti buruh cuci,” tukas ibu dua anak ini.

Menjadi buruh tani di Desa Mojodelik sekarang ini tidak lagi menjanjikan. Sebab ratusan hektar lahan pertanian di desa ini telah tergerus proyek pengembangan minyak. Akibatnya, banyak warga yang menjadi buruh tani harus kehilangan pekerjaan.

Pun petani di sana harus menjadi buruh di tanahnya sendiri saat mereka kehilangan ladang penghidupan dan beralih menjadi kuli proyek yang sifatnya hanya sementara.

“Dari 800 hektar lahan pertanian di sini, sekitar 400 hektar sudah dibebaskan untuk proyek Banyuurip,” sambung Kepala Desa Mojodelik, Yuntik  Rahayu dikonfrontir terpisah.

Selain Mojodelik, ada sejumlah desa di Kecamatan Gayam yang terkena proyek pengembangan minyak Banyuurip. Yakni Desa Gayam, Bonorejo, Brabowan, Ngraho dan Sudu. Di enam desa ini sekira 600 hektar lahan pertanian telah beralih fungsi untuk proyek migas.

Diakui, selama ini operator bersama mitranya telah banyak memberikan program pemberdayaan perempuan di wilayah operasinya, salah satunya program kewirausahaan. Namun program yang diberikan belum mampu mengubah kesejahteraan warga.

“Karena sudah tradisinya jadi buruh tani, mungkin mereka kurang tanggap dengan program ini,” ujar Yuntik.

“80 persen perempuan di sini adalah buruh tani. Hidup mereka hanya mengandalkan dari lahan pertanian,” pungkas Yuntik.

Ngasri bersama buruh tani dan buruh proyek migas lainnya di desa sekitar Lapangan Minyak Banyuurip tak dapat berbuat apa-apa setelah proyek pembangunan fasilitas produksi puncak selesai. Serupa kapsul pecah di mulut, meski getir mereka harus menelannya.(winarto)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *