SuaraBanyuurip.com –d suko nugroho
Semarang – Pemakaian gas sebagai energi primer untuk pembangkitan listrik bisa menghemat biaya triliunan rupiah dibanding menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
Hal itu telah dibuktikan PT Indonesia Power dalam mengoperasikan Unit Pembangkitan (UP) Semarang, Jawa Tengah. Anak perusahaan Listrik Negara (PLN) itu mulai menggunakan gas sebagai energi primer pada 2011 yakni setelah Dahlan Iskan menjadi Direktur PLN.
Sebelumnya UP Semarang atau dikenal masyarakat sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap dan Gas (PLTGU) Tambak Lorok menggunakan BBM sejak 1993.
“Penggunaan gas ini bisa menghemat subsidi negara karena jauh lebih efisien biaya produksinya. Dengan begitu masyarakat tetap bisa menikmati harga listrik murah,” kata General Manager PT Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Semarang, Tarwaji saat menerima rombongan media, SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) se- Jabanusa, Selasa (1/11/2016).
Tarwaji kemudian membandingkan, jika memakai minyak, biaya produksi setiap KWH-nya mencapai kisaran Rp2000. Sedangkan bila memakai gas hanya berkisar Rp800. Karena itu UP ini sempat berhenti beroperasi beberapa waktu sebelum akhirnya menggunakan gas sebagai energi primer.
“Selisih itu kalau dikalikan jumlah produksi bisa triliunan rupiah yang bisa dihemat,” ucapnya.
Saat ini, untuk produksi listrik 1400 Mega Watt (MW) di PLTGU Tambak Lorok membutuhkan gas sebesar 164 Million Matric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari (gas). Gas itu disuplai dari Blok Gundih yang dioperatori PT Pertamina EP Asset 4 sebanyak 54 MMSCFD dan dari Lapangan Kepodang yang dikelola Petronas sebesar 116 MMSCFD.
“22 Agustus kemarin kita mendapat supplay gas penuh dari Blok Gundih, dan Blok Kepodang,” tegas Tarwaji.
Humas Perwakilan SKK Migas Jabanusa Fatah Yasin mengatakan, gas menjadi salah satu kebutuhan industri yang dapat menggerakan perekonomian. Produksi gas selama ini banyak dimanfaatkan untuk perusahaan listrik, pupuk, dan industri lainnya.
“Saat ini pemerintah sedang mengkaji harga gas lebih murah. Tujuannya agar dapat diserap industri dan produk yang dihasilkan tidak membenani masyarakat,” sambung Fatah.
Dia menambahkan, masih mahalnya harga gas sekarang ini adalah karena masih terbatasnya infrastruktur untuk mengalirkan gas. Sehingga setiap kali gas yang dialirkan akan dihitung dengan biaya jaringan pendistribusiannya.
“Apalagi gas ini beda dengan minyak. Saat diproduksi harus siap infrastrukturnya. Jadi antara hulu dan hilirnya harus bersamaan,” pungkasnya.(suko)



