Bojonegoro Berpeluang Dibangun Kilang Mini LNG

GPF JTB
Lapangan Gas Processing Facility Jambaran-Tiung Biru di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

SuaraBanyuurip.com – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berpeluang dibangun kilang mini Liquefied Natural Gas (LNG). Peluang tersebut terbuka lebar karena Bojonegoro sekarang ini menjadi salah satu daerah penghasil gas terbesar di Indonesia.

Di Kabupaten Bojonegoro, terdapat lapangan unitisasi gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) yang dikelola Pertamina EP Cepu Zona 12. Produksi gas JTB mencapai 192 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD).

Peluang Bojonegoro dibangun kilang mini LNG disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot saat meresmikan Kilang mini LNG PT. Liquid Nusantara Gas di Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Jawa Timur, Rabu (11/2/2026).

“Ini bisa menjadi role model bagi para pelaku usaha di berbagai daerah dalam mengembangkan teknologi pemanfaatan potensi gas, khususnya di wilayah-wilayah penghasil gas bumi di Indonesia,” ujarnya.

Menurur Yuliot, pembangunan kilang mini LNG PT. Liquid Nusantara Gas ini merupakan terobosan untuk menghadirkan agar gas bumi bisa menjangkau lebih banyak kawasan industri dan pembangkit listrik. Sehingga distribusi gas bumi di Indonesia tidak lagi semata bergantung pada jaringan pipa.

Baca Juga :   Jambaran-Tiung Biru Pertamina EP Cepu Pasok Gas Jawa Timur dan Jawa Tengah

“Ini merupakan momentum bagaimana kita bisa memanfaatkan gas produksi dalam negeri, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan industri, pembangkit listrik, dan juga berbagai kegiatan ekonomi lain. Ke depan tidak tertutup kemungkinan pemanfaatan LNG melalui kilang mini ini didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” tegasnya.

Selain untuk pembangkit listri, produksi LNG bisa digunakan bahan bakar industri manufaktur, transportasi laut dan darat, rumah tangga sebagai alternatif LPG, dan bahan bakar roket.

Deputy Manager Field PEPC Zona 12, Andy Suhendro mengatakan, lapangan JTB menjadi backbone energi nasional. Produksinya mencapai 192 MMSCF gas JTB.

Dari produksi tersebut, lanjut Andy, dibeli oleh Pertamina Gas (Pertagas) untuk kebutuhan industri perusahaan listrik Negara (PLN) Gresik dan Tambak Lorok Semarang yang dialirkan melalui pipa Gresik – Semarang (Gresem), Petrokimia, dan jargas Lamongan Perusahaan Gas Negara (PGN).

“Untuk memenuhi Jargas Lamongan ini hanya 0,2 MMSCFD. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya produksi gas JTB ini,” ujarnya saat Media Gathering Wellness for Media Bojonegoro di Love Garden, MCM Resto, Selasa kemarin (10/2/2026).

Baca Juga :   Lapangan JTB Akan Produksi Penuh 192 MMSCFD pada Maret 2023

Menurut Andi, produksi gas JTB juga menjadi penopang utama bahan bakar pembangkit listrik Tambak Lorok Semarang. Sebab, harga gas jauh lebih murah dan ramah lingkungan dibanding batubara.

“Artinya, sedikit gangguan produksi di JTB bisa mengganggu pasokan listrik,” pungkasnya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait