Angka Kematian Ibu dan Anak Jadi Momok Masyarakat

ahmad hernowo dinkes bjn

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Angka kematian ibu dan anak baik sebelum dan sesudah proses persalinan masih menjadi momok bagi masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dinas Kesehatan setempat mencatat, kasus kematian ibu dan anak sejak tiga tahun terakhir masih dalam angka yang sama, meskipun trennya mengalami penurunan.

Pada tahun 2015 sampai dengan 2017 rata-rata dari total 19.000 kehamilan, 4000 diantaranya memiliki resiko tinggi. Pada tahun 2015-2016 ada 23 orang ibu yang meninggal dunia saat melahirkan. Sementara sebanyak 270 bayi tidak bisa diselamatkan nyawanya.

Tahun 2017 sampai pada bulan Oktober ini, jumlah ibu yang meninggal dunia sebanyak 15 orang, sementara sebanyak 129 bayi juga meninggal dunia.

“Resiko tinggi inilah yang bisa mengakibatkan kematian ibu dan anak,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Bojonegoro, dr Ahmad Hernowo, Senin (30/10/2017).

Dari 28 kecamatan, resiko tinggi kehamilan hampir menyebar rata. Tidak terkecuali di wilayah sekitar industri minyak dan gas bumi (migas). Seperti Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, Lapangan Sukowati, Blok Tuban, maupun Sumur Tua dan Tiung Biru.

Baca Juga :   Ibu Melahirkan Pulang Bawa Akta Kelahiran

“Meskipun sudah ada program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan migas di sekitar wilayah operasi masing-masing, namun masih belum mempengaruhi penurunan angka resiko tinggi ini,” imbuhnya.

Pihaknya mengakui, banyak sekali sumbangsih perusahaan migas diantaranya ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) maupun Pertamina EP Asset IV yang ikut berperan serta menurunkan resiko tinggi maupun kematian ibu dan anak di Bojonegoro.

“Ada bantuan berupa program pelatihan kader kesehatan maupun sarana prasarana,” ungkapnya.

Namun, masih adanya faktor yang mempengaruhi kematian ibu dan anak. Diantaranya terlalu muda, terlalu tua atau usia kehamilan lebih dari 35 tahun, terlalu sering yakni jarak kehamilan sangat pendek, kemudian terlalu lama jarak antara anak pertama dengan anak kedua atau seterusnya.

“Upaya kita sekarang ini adalah meningkatkan kapasitas para kader pendamping resiko tinggi. Kader ini akan mendampingi ibu-ibu hamil di masing-masing desa yang memiliki resiko tinggi,” tandasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Baca Juga :   Menguatkan Posyandu ILP: Strategi Membangun Layanan Kesehatan Dasar yang Inklusif dan Berkelanjutan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *