SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu telah mengekspor 600 ribu barel minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip atau setara 95.400.000 liter (1 barel = 159 liter). Jumlah itu terhitung sejak November dan Desember 2020.
“Alhamdulillah sudah total sekitar 600 ribu barel kargo bagian BKS kami ekspor. Pada jadwal November dan Desember tahun 2020. Oktober puasa lifting digeser ke November dan Desember karena persoalan administrasi yang membutuhkan persiapan,” ujar Ketua BKS Blok Cepu, Hadi Ismoyo dibubungi suarabanyuurip.com, Sabtu (2/1/2021).
BKS Blok Cepu merupakan gabungan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pengelola penyertaan modal (Participating Interest/PI) 10%. Dari 10% PI itu dibagi empat BUMD yakni BUMD Bojonegoro (PT. Asri Dharma Sejahtera/ADS) mendapat 4,5%, BUMD Provinsi Jatim (PT. Petrogas Jatim Utama/PJU) 2,2%, BUMD Blora (PT Blora Patragas Hulu/BPH) 2,28 %, dan BUMD Provinsi Jateng (Sarana Patra Hulu Cepu/SPHC) 1,1%.
Jatah minyak Banyu Urip yang diterima BKS Blok Cepu setiap bulannya sebanyak 200 ribu barel. Sedangkan produksi harian Lapangan Banyu Urip pada bulan Oktober 2020 mencapai sebesar 228.279 barel.
Hadi menjelaskan, BKS Blok Cepu mengekspor jatah minyak mentah Banyu Urip melalui Pertamina. Langkah ini terpaksa dilakukan karena semua kilang minyak milik Pertamina di dalam negeri mengalami surplus (penuh) akibat pandemi Covid-19.Â
Ditanya kemana minyak Banyu Urip dieskpor dan dijual dengan harga berapa, Hadi enggan berkomentar. Prinsipnya, kata dia, BKS Blok Cepu menjualnya tetap ke Pertamina Persero.Â
“Jadi nanti terserah Persero dijual ke mana saja. Alhamdulillah, operasional loading di offshore Terminal Gagak Rimang berjalan lancar,” terang Presiden Direktur PT. Petrogas Jatim Utama (PJU), BUMD Provinsi Jatim ini.
Menurut Hadi, ekspor minyak mentah Banyu Urip jatah BKS Blok Cepu melalui Pertamina Peesero ini penting. Karena jika suatu saat kilang Pertimana sudah siap, maka langsung bisa di-switch (dialihkan) ke dalam negeri. Â
“Sampai saat ini regulasi untuk mengutamakan kilang dalam negeri masih belum dicabut,” pungkasnya.(suko)




