SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Yuntik Rahayu, menyumbangkan semua gajinya sebagai kepala desa (Kades) Mojodelik, untuk membangun wisata Puthuk Kreweng. Kades perempuan di ring satu lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu itu  berhasil membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Mengemban amanah sebagai kepala desa (Kades) tidak mudah. Harus mampu memberikan pelayanan kepada warganya secara maksimal tanpa mengenal waktu. Di mana dan kapan pun.
Hal itulah yang ditunjukkan Yuntik Rahayu, Kepala Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur di sela-sela wawancara eksklusif dengan tim dariNOL, sebuah kanal Youtube yang mengusung kisah orang inspiratif, Senin (6/6/2022).Yuntik, sapaan akrabnya, masih menyempatkan memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan tandatangannya.
“Ya beginilah jadi kades. Tetap harus memberikan pelayanan di manapun dan kapanpun,” ujarnya saat memberikan pelayanan di wisata Puthuk Kreweng.
Yuntik menceritakan sebelum menjadi kepala desa dirinya lama berkecimpung di dunia usaha. Tepatnya saat mulainya proyek rekayasa pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement and Construction/EPC) Banyu Urip, Blok Cepu, pada medio 2012.
“Awalnya dulu ada orang yang butuh mobil, saya carikan. Waktu itu saya mendapatkan fee 100 ribu, 200 ribu,” ujar Yuntik membuka perbincangan.
Kemudian, ia melanjutkan bertemu seseorang dan menyarankan untuk membuat perusahaan (Cv). Agar memiliki legalitas jelas dan bisa ikut tender proyek.
“Dengan modal pas-pasan, akhirnya saya membuat Cv. Kemudian saya ikut tender dan menang. Tapi saat menang itu saya bingung, harus kemana cari modal. Akhirnya BPKB mobil saya gadaikan,” kenang Yuntik.
Dari pengalaman itulah akhirnya istri, Sutomo, pensiunan TNI AD itu banyak memenangkan tender proyek dan usahanya semakin berkembang. Hingga akhirnya, Yuntik meningkatkan status perusahaannya menjadi PT karena mengelola proyek limbah.
“Untuk bisa ikut tender itu harus berbadan hukum PT,” ucapnya.
Kesuksesan Yuntik mengelola usahanya menjadi perhatian tersendiri bagi ayahnya, almarhum Sukaran. Saat masih hidup, sang ayah yang sebelumnya menjabat Kades Mojodelik dua periode itu menginginkan agar putrinya meneruskan menjadi kades.
Namun keinginan tersebut selalu Yuntik tolak. Ia lebih suka mengurus perusahaan daripada berkecimpung di pemerintahan.
“Sebenarnya saya lebih enjoy menjadi pengusaha. Tapi waktu itu, ayah saya sampai masuk ICU karena menginginkan agar saya bisa menjadi penerusnya, menjadi kepala desa,” kenanang Yuntik.
Saat itulah hati Yuntik luluh. Perempuan kelahiran 1980 itu akhirnya manut dengan keinginan ayahnya untuk maju dalam pemilihan kepala desa (Pilkades).
Alumni sebuah SMK di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, itu memutuskan maju dalam perhelatan Pilkades pada 2 Pebruari 2014. Hasilnya, Yuntik menang dengan mengantongi 1.745 suara, mengalahkan calon petahana, Sandoyo dengan 1.285 suara.
Setelah menjabat Kades, Ibu tiga anak itu mengabdikan diri sepenuhnya kepada masyarakat. Sejumlah program untuk meningkatkan kesejahteraan warganya digulirkan. Di antaranya membebaskan semua biaya bagi warganya yang mendapat beras miskin (raskin).
“Semua biaya penebusan raskin warga, saya yang bayari dengan gaji sebagai kepala desa. Walaupun saat itu masih kurang, dan saya harus pakai uang pribadi,” tuturnya.
Ketulusan Yuntik mendarma baktikan dirinya melayani warga membuat langkah perempuan ramah itu semakin mudah mempertahankan kursi kepala desa yang memiliki luas wilayah 890,5 hektar (Ha) dengan jumlah penduduk. 4.387 jiwa.
Terbukti, Yuntik kembali memenangi pilkades pada 19 Pebruari 2020, dengan mengantongi 1.920 suara. Ia mengalahkan rivalnya, Sandoyo dengan perolehan 1.099 suara.
Yuntik kemudian mengembangkan wisata Puthuk Kreweng. Bahkan, semua gaji dan tunjangannya sekitar Rp400 juta/ tahun selama menjabat kepala desa disumbangkan untuk membangun wisata alam tersebut.
“Semua tidak pernah saya ambil. Semua untuk mengembangkan wisata Puthuk Kreweng,” tegasnya.
Tidak beberapa lama, Puthuk Kreweng menjelma menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Kabupaten Bojonegoro yang ramai dikunjungi. Sejumlah fasilitas wahana permaian terus dilengkapi. Mulai dari Kolam Renang, Flying Fox, ATV, Kereta Anak dan Area Sirkuit Trail dan Offroad. Selain itu juga ada sarana umum seperti Mushola, Toilet, Gazebo, Pendopo Pertemuan, Panggung ekspresi, Tempat Parkir, Spot Foto dan Wastafel.
Untuk masuk lokasi wisata Puthuk Kreweng, pengunjung hanya dikenakan tarif Rp5.000 bagi orang dewasa. Sedangkan bagi anak gratis tidak dikenakan biaya masuk.
Wisata Puthuk Kreweng dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun empat. Akses jalannya sudah rigid beton. Untuk menjangkau wisata ini, pengunjung bisa mengambil jurusan Bojonegoro – Padangan. Sesampainya di perempatan Clangap, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, mengambil arah ke selatan. Jaraknya sekitar 6 kilo meter ke arah selatan.
Yuntik berharap dengan adanya wisata Puthuk Kreweng ini dapat menumbuhkan ekonomi warganya. Mereka bisa membangun usaha kecil menengah (UMK). Produk yang dititipkan di wisata harus berbeda antara satu warga dengan warga lainnya.
“Untuk kuliner dan jajanan di wisata Puthuk Kreweng ini dipasok dari warga,” ungkapnya.
“Selain bermanfaat bagi keluarga, saya hanya ingin selama menjadi kepala desa bisa memberikan manfaat bagi masyarakat lebih luas, utamanya warga Mojodelik,” pungkas Yuntik.
Salah satu penjual jajanan, Endang mengaku keberdaan wisata Puthuk Kreweng telah membuka peluang usaha dan kerja bagi warga Mojodelik. Warga bisa membuat jajanan dan souvenir untuk pengunjung wisata.
“Sebelumnya saya bertani membantu suami. Tapi setelah ada wisata ini saya bisa berjualan di sini. Bisa menambah penghasilan sehari-hari,” sambungnya diamini Rati, penjual lainnya.
Di wisata Puthuk Krweng ini warga bisa menitipkan produk jajanannya seperti klempon, pisang goreng krispi, tahu goreng, sosis, kuping gajah, dan jajanan lainnya. Semua dikemasi dengan harga Rp5.000 per bungkus. Selain itu juga kuliner khas desa yang bisa dinikmati pengunjung.
Endang menambahkan wisata Puthuk Kreweng ramai pengunjung pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur.
“Kalau pengunjung ramai sehari omsetnya bisa sampai 2 juta rupiah. Itu sudah bersih,” pungkasnya.(suko)





