SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko
Bojonegoro – Meski perkembangan zaman semakin modern, hingga kini peninggalan nenek moyang masih terus dilestarikan oleh warga desa ring satu Lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Diantaranya tradisi sedekah bumi atau biasa disebut manganan ini dilakukan oleh warga Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro di tiga lokasi, Jumat (10/06/2022). Yakni di Sendang Gedhe, Sendang Tangar, Dusun Gayam, dan di pemakaman ‘Punden’ Dusun Sumurpandan.
Sejumlah warga datang dilokasi masing-masing dengan membawa tumpeng untuk dikumpulkan menjadi satu. Selanjutnya dilaksanakan tahlil bersama dipimpin sesepuh setempat berlangsung khidmat dan sakral. Bertujuan menghomati para leluhur, dan rasa syukur kepada sang pencipta.
Dalam kegiatan sedekah bumi tersebut menyuguhkan hiburan wajib berupa pagelaran wayang krucil, dan wayang thengul.

“Warga masyarakat Gayam tetap melestarikan peninggalan nenek moyang. Jadi setiap setahun sekali tepatnya di hari jumat pahing gelaran sedekah bumi di tiga tempat, yaitu Sendang Gedhe, Sendang Tangar, dan Punden selalu dilaksanakan,” kata Kepala Desa (Kades) Gayam, Winto, kepada SuaraBanyuurip.com.
Kades ring satu ladang minyak Banyu Urip ini menjelaskan, pihaknya selalu mendukung kegiatan warga dalam melaksanakan sedekah bumi.
“Sebelum dilaksakan dilakukan musyawarah dengan warga dan sesepuh dusun masing-masing. Terpenting jangan disalahgunakan bertujuan negatif. Intinya adalah menghormati leluhur, dan memanjatkan doa kepada Allah SWT,” pungkasnya.
“Memang benar jangan disalahgunakan untuk tujuan yang tidak baik. Seperti di Sendang Tangar itu jika ada orang melakukan sesuatu dengan tujuan tidak baik maka akan merasakan risiko gangguan,” sambung Kepala Dusun (Kasun) Gayam, Suwarji.(sam)





