Cegah Stunting, F-PAUD Jatim Berikan Buku Saku Pendamping

IMG_20220811_163018

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Dalam rangka mencegah terjadinya stunting di Provinsi Jawa Timur (Jatim), Forum Pendidikan Anak Usia Dini (F-PAUD) Jatim turun lapangan memberikan buku saku pendamping ke Kabupaten Bojonegoro. Pemberian buku saku tersebut dibalut dalam kegiatan FGD (Forum Group Discussion) yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Bojonegoro, Kamis (11/08/2022).

FGD dilaksanakan bersama dengan Tim Cegah Stunting Kabupaten Bojonegoro. Yaitu, terdiri dari Bunda PAUD Kabupaten, Dinkes, Bakorwil, BKKBN, DP3AKB, Kemenag, Disdik, serta Tim Cegah Stunting Kecamatan dan Kelurahan. Masing-masing diwakili 1 peserta.

Ketua Forum PAUD Jatim, Dr. Dwi Astutiek, S.Ag., M.Si mengatakan, pihaknya selaku mitra strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim telah melakukan riset di empat kabupaten di Jatim yang dikatakan Gubernur Jatim sebagai irisan dari masalah stunting, lengkap dengan angka kematian ibu dan balita.

Empat kabupaten yang disurvey dan menjadi analisis studi kasus stunting tahun 2021 itu ialah Bondowoso, Jember, Jombang, dan Bojonegoro. Dari data riset tersebut, terkumpul menjadi informasi terkait kasus-kasus stunting.

Baca Juga :   Cara Unik Pemkab Blora Turunkan Stunting dengan Sedekah Telur

“Kelanjutan dari riset itu berupa buku saku bagi para pendamping cegah stunting. Kami harap buku itu bisa mempermudah para petugas dalam melakukan pendampingan keluarga dengan anak stunting,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com.

Dijelaskan, banyak faktor penyebab terjadinya stunting yang dimuat dalam buku saku. Diantaranya, termasuk yang terjadi di Bojonegoro adalah adanya pernikahan dini. Hal itu disebabkan pemahaman masyarakat yang keliru tentang jodoh dan pernikahan. Terbukti dengan adanya kebanggaan jika anaknya sudah dipinang orang walau dalam usia yang relatif dini.

Disamping itu juga ada kekhawatiran sebagian orang tua takut anaknya tidak memperoleh pasangan hidup alias menjadi perawan tua. Padahal banyak pengantin usia dini tidak memiliki cukup pengetahuan tentang gizi saat memasuki kehamilan.

“Kebanyakan dari pengantin berusia remaja itu tidak tahu bagaimana menjaga asupan gizi saat hamil supaya bayinya tidak mengalami stunting. Belum lagi ditambah faktor kemiskinan misalnya. Ini benang ruwet kita di Jatim ya,” ujar Dosen Tetap Universitas Sunan Giri Surabaya ini.

Perempuan yang juga menjabat Sekretaris Dewan Pendidikan Jatim ini menekankan pentingnya kerja sama dan dukungan semua pihak memberikan informasi dan edukasi dalam menurunkan kasus stunting. Pihaknya juga menggandeng FTBM (Forum Taman Baca Masyarakat) untuk memberikan literasi kepada masyakat.

Baca Juga :   Bupati Tuban : Buktikan apa yang saya langgar.

“Intinya, kerja bareng ini sangat penting. Jangan sampai parsial, bekerja sendiri-sendiri. Percepatan penurunan stunting perlu dilakukan secara holistik, integratif, berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi dari semua pemangku kepentingan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua FTBM Jatim, Imam Mukhlas menyatakan, pihaknya menyambut baik ajakan F-PAUD Provinsi Jatim untuk bersinergi dan menjadi penyedia literasi bagi masyarakat dalam mempercepat penurunan kasus stunting.

“Pokoknya saya yes (atas ajakan F-PAUD Jatim),” tegasnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *