Oleh : Sami’an Sasongko
Di setiap perjalanan tentu ada tujuan, dan di setiap langkah musti ada pergantian. Hal ini tak ubahnya waktu, hari, bulan dan tahun. Ibarat tinggal sekedip mata titik akhir tahun ini terjadi. Pernak-pernik pesta pergantian tahun musti bakal terlihat dalam perayaan hari natal 2022 dan tahun baru 2023.
PERGANTIAN tahun ibarat seperti bayi yang baru lahir sehingga kembali pada titik nol untuk pengenalan diri, dan tentunya ada catatan-catatan dalam perjalanan setiap tahunnya. Dengan bertambahnya tahun tentu perkembangan zaman pun semakin tambah modern. Dimana dunia telah bermigrasi dan bertransformasi dari dunia fisik ke dunia digital.
Tak sedikit orang menganggap bahwa modern adalah lambang kemajuan teramat sangat. Ketika kita dianggap terlambat dalam mengenal apa modernisasi langsung diterpa anggapan ndeso, jadul, dan kuno, misalnya.
Ketika anggapan kuno mengemuka, maka yang terjadi hanyalah kesukaan, namun bukan kebijaksanaan. Lalu bagaimana kebijaksanaan sebagai manusia. Disinilah perlu adanya sadar untuk kembali mengenal diri kita sendiri. Masihkah kita ini adalah manusia?
Karena itu, jika mampu mengenal diri sendiri bahwa masih manusia, tentu tak akan melupakan sebuah peradaban. Dimana masih ada masa lalu di masa kini yang serba hebat. Perlu disadari bahwa perjalanan waktu itu bukan sebuah tontonan, justru pembelajaran. Sehingga dapat menentukan sebuah kebijakan yang tepat sasaran dan bermanfaat untuk sesama (Masyarakat).
Catatan penulis, bahwa pada tahun 2020 dunia dihebohkan dengan munculnya virus Covid-19 atau lebih sering disebut dengan virus corona yang berasal dari Wuhan, Cina.
Sebaran virus tersebut bisa dikatakan sangat cepat sehingga menjadi pandemi global, tak terkecuali di Indonesia. Covid-19 terdeteksi masuk pada awal bulan Maret 2020. Pandemi global tentunya memaksa semua warga masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan yang telah ditentukan pemerintah. Tak terkecuali di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Warga Desa Manukan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, saat mengikuti vaksinasi di balai desa setempat.
© 2022 suarabanyuurip.com/Dok SBU
Para pemangku kebijakan di Bojonegoro pun sibuk dengan berbagai upaya untuk mencegah agar sebaran virus menakutkan tersebut tak meluas. Penerapan protokol kesehatan dilakukan kesemua elemen. Termasuk elemen penyelenggara pendidikan. Pada tanggal 17 Maret sekolah sekolah diliburkan dan dilanjutkan dengan pembelajaran daring (dalam jaringan).
Dalam penanganan virus Covid-19, tak tanggung-tanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, menyiapkan anggaran sebesar Rp33 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2020.
Untuk digunakan keperluan pencegahan, diantaranya isolasi, pembelian masker, hand sanitizer, sabun cair, cairan disinfektan, dan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis dan Rapid Tes dan lain sebagainya. Anggaran tersebut diserahkan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Seperti Dinkes, RSUD maupun BPBD Bojonegoro.
Dalam penanganan Covid-19, Pemerintah Desa (Pemdes) juga ikut ketiban sampur untuk bergerak cepat mutus mata rantai virus Corona. Dengan mengeluarkan anggaran ratusan juta rupiah yang bersumber dari APBDes. Salah satunya digunakan untuk bantuan langsung kepada warga masyarakat terdampak pandemi Covid-19 dan lain sebagainya.
Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan oleh masyarakat. Tidak hanya mengganggu jalannya pembangunan saja, tapi juga merontokkan perekonomian warga masyarakat. Dimasa pandemi Covid-19 ini perayaan natal tahun 2020 dan tahun baru 2021 cukup sepi karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).
Kondisi pendemi Covid-19 mulai berangsur meredup sekira pertengahan tahun 2021. Aktivitas masyarakat mulai ada kelonggaran, meski kegiatan vaksin dan protokol kesehatan masih terus dilakukan. Bahkan kegiatan program vaksinasi terhadap masyarakat terus gencar dilakukan pemerintah dan terkait lainnya.
Wabah virus yang menakutkan tersebut semakin sirna dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat tidak seketat sebelumnya. Sehingga warga masyarakat dapat menyelanggaran baik kegiatan hajatan maupun aktivitas sehari-hari untuk mengais rezeki guna memulihkan ekonomi.
Kendati, dimasa pandemi tersebut terdapat Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (SiLPA) APBD tahun 2020 Rp 2,2 triliun lebih. Sedangkan APBD Bojonegoro tahun 2020 induk sebesar Rp6,4 triliun.

Rumah warga Desa Kunci, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang terendam banjir.
© 2022 suarabanyuurip.com/Dok SBU
Tak kalah hebohnya sepanjang perjalanan tahun 2021-2022. Bukan perihal wabah Corona tapi kemiskinan ekstrem. Dimana muncul data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro bahwa jumlah penduduk miskin, penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (GK) di Kabupaten Bojonegoro pada bulan Maret 2021 mencapai 166.520 ribu jiwa.
Jumlah itu bertambah sebesar 5.420 ribu jiwa, bila dibandingkan dengan kondisi Maret 2020 yang sebesar 161.100 ribu jiwa atau naik sebesar 3,36 persen. Indek kedalaman kemiskinan atau PI pada periode 2020-2021 juga mengalami peningkatan nilai sebesar 0,170 poin menjadi 1,880 pada tahun 2021. Begitu juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 mengalami peningkatan dari 0,350 pada 2020, menjadi 0,450 pada 2021.
Belum lagi ditambah dengan adanya masalah banjir yang acap kali terjadi di wilayah Kabupaten Bojonegoro hingga kini belum mampu diatasi.

Sejumlah jalan poros desa dan ratusan hektar sawah di wilayah Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, yang terendam banjir.
© 2022 suarabanyuurip.com/Dok SBU
Ironinya, dengan menyandang kemiskinan ekstrem, justru pihak pemangku kepentingan tidak merasa malu, malah mengambil kebijakan memberikan bantuan hibah ke Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dengan menguras APBD Bojonegoro sekira Rp35 miliar. Rinciannya, untuk Kabupaten Blora Rp34 miliar, dan Kabupaten Sumedang Rp1,2 miliar.
Dengan persoalan diatas, bisa dijadikan cermin untuk tidak terulang di tahun 2023. Diakui atau tidak setiap pergantian tahun banyak pemikiran mungkin selalu memiliki resolusi yang positif. Tapi resolusi tanpa tindakan yang pro rakyat adalah sia-sia, mimpi tanpa perbuatan yang terjadi ialah omong kosong. Berganti hari, berganti waktu, yang harusnya tetap adalah orisinalitas dan kesederhanaan. Menjadi lebih baik itu pasti keinginan semua orang.
Namun menjadi manusia apa adanya, tanpa kepalsuan, jauh lebih penting ketimbang resolusi muluk tentang hedonis atau kesenangan semata. Satu hal yang perlu dijadikan landasan pemikiran semua pihak ialah jangan melihat masa lampau dengan penyesalan, dan jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan. Tetapi lihatlah sekitar kita dengan penuh kesadaran hati paling dalam untuk diberikan sentuhan nyata tepat sasaran sebagai pengemban amanah rakyat.
Perlu diingat, bahwa perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (P-APBD) Kabupaten Bojonegoro tahun 2022 diproyeksikan sebesar Rp 7,3 triliun. Ada tambahan sekitar Rp 1,6 triliun dari sebelumnya Rp 5,9 triliun.
Dengan anggaran sebesar itu, semoga di tahun depan mampu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para penentu kebijakan untuk membangun Bojonegoro yang lebih baik. Demi kesejahteraan masyarakat Bojonegoro, dan bukan malah sebaliknya.
Semoga dan semoga…..!!!
Selamat mengakhiri tahun 2022. Selamat mengawali tahun 2023.
Penulis adalah Wartawan SuaraBanyuurip.com.





