Pertamina EP Cepu Beberkan Penyebab Produksi Penuh JTB Tertunda

Produksi penuh lapangan gas JTB di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tertunda karena masalah teknis dan finansial.

Suarabanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Produksi penuh lapangan gas Jambaran – Tiung Biru (J-TB) sebesar 192 juta standart kaki kubik per hari (milion standart cubic feet per day/MMSCFD) tertunda. Selain karena adanya peralatan yang perlu diperbaiki, masalah finansial juga menjadi penyebabnya.

Produksi penuh Lapangan Gas JTB yang dikendalikan oleh Pertamina EP Cepu itu sebelumnya direncanakan bisa tercapai paling lambat akhir Maret 2023 lalu. Namun, sampai sekarang ini baru mencapai sales gas rata-rata 75 MMSCFD.

General Manager Gas JTB, Ruby Mulyawan menyampaikan, sampai saat ini lapangan JTB sedang dalam masa commissioning start up (uji coba) dimana beberapa perlengkapan utama pemrosesan raw gas menjadi sales gas sudah berfungsi dan mulai menghasilkan secara bertahap sejak September 2022.

“Walau belum mencapai kapasitas produksi maksimal sesuai design plant, saat ini JTB sudah mencapai sales gas rata rata 75 MMSCFD,” ujarnya kepada suarabanyuurip.com, Senin (1/5/2023).

General Manager Gas JTB, Ruby Mulyawan.
© 2023 suarabanyuurip.com/Dok.sbu

Ruby menjelaskan, ada dua faktor utama yang menyebabkan JTB belum berproduksi penuh, yakni secara teknis dan non teknis. Secara teknis ada permasalahan di propylene compressor, membrane permeate incinerator (MPI), reverse osmosis di water treatment plant yang perlu diperbaiki.

Baca Juga :   Salurkan Gas JTB 15 MMSCFD, PEPC dan Petrokimia Gresik Tanda Tangani PJBG

Menurut Ruby, dinamisnya proses trouble shooting pada masa uji coba tersebut sedang ditangani oleh team project. Diharapkan sales gas maksimal 192 MMSCFD sesuai design plant dapat dicapai secepatnya.

“Permasalahan teknis sedang ditangani oleh project team PEPC dan Kontraktor RJJ, dan membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih leluasa agar keandalan dari gas plant dapat dicapai,” tegasnya.

Secara non teknis, lanjut Ruby, terdapat kendala finansial yang dihadapi oleh kontraktor utama. Sekarang ini PEPC telah mengupayakan solusi secara optimal dengan melakukan kewajiban pembayaran sesuai kontrak dengan kontraktor utama, PT Rekayasa Industri (Rekind), JGC dan JGC Indonesia (RJJ).

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Nanang Abdul Manaf sebelumnya menyampaikan, produksi penuh lapangan gas JTB direncanakan bisa terlaksana pada minggu ke tiga di bulan Mei 2023.

“Rencananya minggu ke tiga Mei ini. (Namun) juga dikaitkan dengan karena nanti full capacity ini akan mencapai net produksinya sekira 190 MMSCFD. Sementara juga akan terjadi ekses kelebihan produksi,” ujarnya jumpa pers Kinerja Hulu Migas Kuartal I 2023 di Jakarta secara daring, Senin (17/04/2023).

Baca Juga :   Wacanakan Bentuk Komite CSR

Untuk diketahui, dari produksi gas JTB 192 MMSCFD sebanyak 172 MMSCFD telah dibeli oleh Perusahaan Gas Negara (PGN). Dari jumlah itu, sebanyak 100 MMSCFD dijual ke PLN untuk pembangkit tenaga listrik Tambak Lorok Semarang, dan 72 MMSCFD dialirkan untuk berbagai pihak industri seperti Petrokimia dan industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sedangkan 20 MMSCFD produksi gas JTB sampai saat ini belum ada pembelinya.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *