Suarabanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Musim kemarau di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur berdampak luas ke warga. Selain dilanda krisis air bersih, ratusan hektare lahan pertanian warga kekurangan pasokan air karena sejumlah embung mengering.
Kabid Air Baku dan Irigasi Dinas PU SDA Kabupaten Bojonegoro Bungku Susilowati mengatakan, total embung di Bojonegoro ada 45 embung yang tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Sekar, Ngasem, dan Ngambon.
“Dari jumlah tersebut, 8 embung dalam kondisi kering, 9 embung debit airnya tinggal sedikit sisanya masih terisi air,” katanya, Selasa (25/7/2023).
Dia mengungkapkan, salah satu embung yang mengalami kekeringan berada di Desa Bareng, Kecamatan Sekar yakni Embung Kalimas. Keringnya sejumlah embung berpotensi mengganggu pasokan air untuk pertanian.
“Apalagi saat ini sedang musim kemarau, dan beberapa warga menanam kacang kedelai atau palawija,” ujarnya.
Namun, lanjut Bungku, tanaman palawija ini hanya membutuhkan sedikit air. Sehingga, panenannya akan tetap optimal meski di kondisi kemarau.
“Jadi masyarakat Bojonegoro saat kemarau menanam palawija atau kacang-kacangan sehingga aman,” tegasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro sebelumnya telah memetakan, terdapat 32 desa di 10 kecamatan berpotensi terjadi kekeringan dan krisis air bersih.
“Puncak kekeringan di Bojonegoro akan terjadi pada Agustus mendatang,” kata Kalaksa BPBD Bojonegoro Ardhian Orianto.(jk)





