SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko
Bojonegoro – Musim kemarau memang sangat baik bagi petani tembakau. Namun juga tidak bagus jika cuaca terlalu panas karena dapat menggangu pertumbuhan. Hal ini seperti dirasakan oleh Muri, petani tembakau Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Menurut warga yang tinggal di Rukun Tetangga (RT) 01, Rukun Warga (RW) 01 desa setempat, bahwa tanaman tembakau miliknya yang sudah berusia dua bulan pertumbuhannya tergolong tidak normal. Meski perawatan yang dilakukan sudah lebih dari cukup.
“Dari 5000 bibit yang ditanam pertumbuhannya tergolong tidak normal. Banyak yang masih kerdil, dan daunnya kurang bagus. Padahal penyiraman dan pemupukan dirasa sudah cukup,” kata Muri, ketika ditemui SuaraBanyuurip.com disela-sela penyemprotan tembakau, Sabtu (19/08/2023).
Petani tembakau sekitar ladang gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) ini menduga, tidak normalnya pertumbuhan tanaman tembakau miliknya karena pengaruh dari suhu cuaca yang terlalu panas.
“Menanam tembakau itu tidak gampang, terlalu banyak air juga mudah mati, dan cuaca terlalu panas juga mengganggu pertumbuhan. Seharusnya usia 60 hari daunya sudah besar karena diusia tanam 80 hari sudah bisa dipanen. Tapi ini tidak masih banyak yang kecil-kecil,” ujarnya.
Meski pertumbuhannya lambat, tambah Muri, akan terus dilakukan perawatan. Dengan harapan menjelang panen daunnya bisa tumbuh bagus dan laku jual dengan harga yang memuaskan.
“Masih ada sisa waktu 20 hari untuk memaksimalkan perawatan siapa tahu nanti daunnya pulih dengan bagus. Kabarnya harga sementara Rp2.500 per kilogram,” imbuhnya.
Disinggung soal modal. Pria ramah ini mengaku tidak bisa memastikan. Namun hingga panen diperkirakan lebih dari Rp 2 juta.
“Semoga saja harganya pas panen nanti meningkat. Sehingga dapat hasil sesuai harapan untuk kebutuhan keluarga,” pungkasnya.(sam)





